BALIEXPRESS.ID - Pameran Industri Kecil Menengah (IKM) Bali Bangkit yang berlokasi di Taman Budaya Bali (Art Centre), Denpasar, dipastikan terus digelar hingga awal 2030.
Keberlanjutan kegiatan ini sejalan dengan masa kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster dan dirancang sebagai ajang promosi permanen produk unggulan IKM Bali tanpa sistem buka-tutup pameran.
Sejak pertama kali digelar, IKM Bali Bangkit menunjukkan dampak ekonomi yang cukup signifikan.
Hingga 30 Desember 2025, total transaksi yang tercatat mencapai Rp17.409.281.450.
Baca Juga: Pendapatan Daerah Bali 2025 Lampaui Target, Bapenda Fokus Beri Insentif Pajak Tepat Waktu
Capaian tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap produk lokal sekaligus menunjukkan efektivitas pameran sebagai media pemasaran berkelanjutan bagi pelaku IKM.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Wiryanata, mengatakan pameran IKM Bali Bangkit beroperasi setiap hari tanpa libur, dengan jam kunjungan dari pagi hingga malam hari.
“Tidak ada buka tutup. IKM Bali Bangkit buka setiap hari dari pukul 10 pagi sampai 10 malam, dan akan berlangsung sampai awal 2030,” katanya, Selasa (13/1).
Ia menegaskan, penyelenggaraan pameran ini merupakan bentuk komitmen jangka panjang Pemerintah Provinsi Bali dalam memperluas akses pemasaran produk IKM.
Baca Juga: Belasan Pura di Desa Adat Tengipis, Buahan Kaja Terdaftar di Kementerian Agama
Selain sebagai etalase promosi, pameran ini juga dirancang untuk memberikan ruang yang adil dan berkesinambungan bagi pelaku usaha lokal agar dapat tumbuh dan bersaing secara sehat.
Dalam praktiknya, IKM Bali Bangkit mengusung tagline “Produk Berkualitas dengan Harga Pantas” sebagaimana arahan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster.
Prinsip tersebut menjadi dasar utama dalam proses seleksi produk yang ditampilkan dan dipasarkan kepada pengunjung.
“Harga yang ditawarkan sangat wajar, sesuai dengan kualitas produknya. Bahkan bisa diperbandingkan dengan harga di toko,” ucapnya.
Guna menjaga mutu produk sekaligus kepercayaan masyarakat, Dekranasda Provinsi Bali melakukan proses kurasi secara rutin setiap hari.
Kurasi ini tidak hanya menilai kualitas barang, tetapi juga memastikan kesesuaian harga dengan standar yang telah ditentukan.
Baca Juga: Honda Care Bali Siap Melayani Konsumen Astra Motor Bali Dengan 29 Armada
“Sanksi tegas akan diterapkan. Kalau ada produk yang harganya mahal tapi kualitasnya tidak sesuai, pasti akan dikeluarkan dari kepesertaan pameran,” katanya.
Ia mencontohkan, untuk produk kain endek, batas harga maksimal yang diperkenankan adalah Rp500 ribu, sedangkan songket dibatasi hingga Rp3,5 juta.
Produk yang dijual di atas ketentuan tersebut diarahkan untuk dipasarkan langsung di rumah produksi atau toko masing-masing.
“Mungkin ada produk mahal karena menggunakan bahan khusus seperti benang sutra dan lainnya. Produk seperti itu diharapkan tidak ditawarkan di IKM Bali Bangkit,” jelasnya.
Baca Juga: Kebakaran Bengkel di Gelgel Klungkung, Lima Sepeda Listrik Baru Ikut Hangus
Menurut Wiryanata, kebijakan penetapan harga dan kurasi yang ketat ini diterapkan untuk menghilangkan persepsi bahwa produk yang dijual di Pameran IKM Bali Bangkit terkesan mahal.
“Barang-barang yang dipajang selalu kami kurasi untuk menjamin kualitas dan kewajaran harga. Jadi masyarakat tidak perlu ragu berbelanja di IKM Bali Bangkit,” tandasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti