BALIEXPRESS.ID - Atap pelinggih Gedong Kawitan di Pura Karang Buncing, Banjar Sintrig, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, terbakar pada Minggu (18/1).
Kebakaran ini pertama kali diketahui oleh jero mangku pura lantaran melihat kepulan asap.
Kebakaran ini diduga terjadi akibat adanya korsleting listrik, yang menyebabkan kerugian sekitar Rp 250 juta.
Baca Juga: Parenting dalam Hindu Tegaskan Orang Tua Bukan Penguasa Jalan Hidup Anak
Camat Abiansemal, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, saat dikonfirmasi membenarkan informasi tersebut.
Ia mengatakan kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 07.30 WITA saat dilakukan kegiatan bersih-bersih.
“Berdasarkan laporan di lapangan, jero mangku pura melihat asap keluar dari atap ijuk pelinggih Gedong Kawitan saat akan melakukan kegiatan bersih-bersih. Kejadian itu segera dilaporkan dan ditindaklanjuti dengan menghubungi pemadam kebakaran,” ujar Mas Arimbawa.
Pihaknya menyebutkan, dari hasil penelusuran diduga kebakaran ini akibat korsleting listrik.
Proses pemadaman berlangsung selama kurang lebih dua jam.
Dalam hal ini Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmat) Kabupaten Badung menurunkan tiga unit armada dari Pos Abiansemal.
Baca Juga: Kejar Target Pajak Air Tanah Rp700 Juta, Bangli Intensifkan Pendataan, Gandeng Penegak Hukum
“Api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 10.15 WITA. Syukurnya tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” ungkapnya.
Saat ini, Mas Arimbawa mengaku, aparat terkait masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti kebakaran.
Dalam penanganan kejadian tersebut, unsur yang terlibat antara lain Camat Abiansemal, tiga unit Pemadam Kebakaran Kabupaten Badung, Bhabinkamtibmas Desa Sibangkaja, serta Unit Kecil Lengkap (UKL) Polsek Abiansemal yang dipimpin Pawas IPTU I Made Sudiana, S.H.
“Langkah-langkah yang telah dilakukan meliputi pengamanan lokasi kejadian, pengumpulan keterangan saksi, serta pembuatan laporan resmi,” jelasnya.
Ia mengimbau, masyarakat agar lebih memperhatikan instalasi listrik di area tempat suci.
Hal ini guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga