Dukung 18 PSN Hilirisasi, Presiden Prabowo Ajak Kampus Cetak SDM Unggul dan Lapangan Kerja
I Putu Suyatra• Senin, 19 Januari 2026 | 07:21 WIB
Ilustrasi
BALIEXPRESS.ID– Pemerintah Indonesia terus memacu percepatan hilirisasi industri sebagai motor utama penciptaan lapangan pekerjaan. Dalam upaya ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa peran perguruan tinggi sangat krusial untuk menghasilkan riset dan inovasi yang sejalan dengan kebutuhan industri nasional.
Presiden secara khusus meminta kampus di seluruh Indonesia mendukung 18 Proyek Strategis Nasional (PSN) berbasis hilirisasi guna memastikan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi.
Kolaborasi Kampus dan Industri untuk Hilirisasi
Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam dialog bersama 1.200 rektor dan guru besar di Istana Kepresidenan. Pemerintah memandang kampus sebagai fondasi utama dalam menyiapkan tenaga ahli yang menguasai teknologi, terutama untuk menyambut agenda besar industrialisasi.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa riset universitas harus menopang program prioritas seperti swasembada pangan dan energi.
“Percepatan hilirisasi tahun ini akan dimulai dengan groundbreaking besar-besaran. Ini membutuhkan SDM yang mumpuni di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Prasetyo.
Pemerintah Tambah Anggaran Riset Rp4 Triliun
Sebagai bentuk dukungan nyata bagi ekosistem inovasi, Presiden Prabowo memutuskan untuk menambah anggaran riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun. Langkah ini bertujuan untuk:
Memperkuat riset di seluruh universitas di Indonesia.
Mendorong kolaborasi erat antara kampus dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Mencapai kemandirian teknologi nasional agar tidak bergantung pada inovasi asing.
Dengan penguatan riset, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui kewirausahaan berbasis teknologi.
Perluasan Akses Beasiswa Pendidikan Tinggi
Selain fokus pada riset, pemerintah juga mengevaluasi pembiayaan pendidikan. Dari total 9,9 juta mahasiswa aktif, jumlah penerima beasiswa dinilai masih perlu ditingkatkan.
Prasetyo mengungkapkan bahwa Presiden telah menginstruksikan jajarannya untuk memformulasikan ulang anggaran agar jumlah penerima beasiswa dapat diperluas sebanyak mungkin. Sinergi antara kampus, industri, dan pemerintah ini diharapkan menjadi tulang punggung menuju visi Indonesia Emas 2045.