Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gambelan Bali Tidak Sebatas Seni Bunyi, Merujuk Harmonisasi dan Keseimbangan

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 21 Januari 2026 | 19:44 WIB
KETUA : Ketua APHB Kabupaten Klungkung, Nengah Adi Widiastrawan.
KETUA : Ketua APHB Kabupaten Klungkung, Nengah Adi Widiastrawan.

BALIEXPRESS. ID— Permainan gambelan Bali tidak hanya dipahami sebagai ekspresi seni bunyi, tetapi juga sebagai cerminan filosofi kehidupan masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai harmonisasi dan keseimbangan. Ketua Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB) Klungkung, Nengah Adi Widiastrawan, menjelaskan harmonisasi dan keseimbangan dalam oermainan gambelan Bali, yang menempatkan gambelan sebagai simbol keindahan yang lahir dari keselarasan berbagai unsur.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa harmonisasi merupakan unsur utama keindahan yang hanya dapat tercapai ketika keseimbangan terwujud. Keseimbangan dimaknai sebagai keadaan di mana seluruh gaya dan kecenderungan yang ada saling mengimbangi, sehingga tidak ada unsur yang saling meniadakan. Prinsip ini menjadi dasar estetika dalam permainan gambelan Bali yang diwariskan secara turun-temurun.

Konsep keseimbangan ini sejalan dengan ajaran dalam lontar Prakempa yang menjelaskan bahwa keseimbangan hidup manusia terwujud dalam beberapa dimensi. "Dimensi pertama adalah keseimbangan tunggal, yakni keseimbangan diri manusia yang berlandaskan falsafah Mokshartam Jagaddhitaya ca iti Dharmah, yaitu tujuan hidup untuk mencapai kesejahteraan dunia dan pembebasan spiritual, " jelasnya.

Dimensi kedua adalah keseimbangan hidup manusia dalam sifat dualistis. Dalam konteks ini, masyarakat Bali meyakini adanya kekuatan berpasangan seperti siang dan malam atau sekala dan niskala. Kepercayaan tersebut diwujudkan melalui berbagai ritual dan upacara keagamaan sebagai bentuk penghormatan terhadap keseimbangan kosmis.

Sementara itu, dimensi ketiga dikenal sebagai keseimbangan triadik, yang tercermin dalam konsep serba tiga seperti Tri Loka. Konsep ini menegaskan bahwa kehidupan tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam keterkaitan antara berbagai lapisan eksistensi yang saling menopang satu sama lain.

Permainan gambelan Bali merepresentasikan keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Pada tingkat mikrokosmos, keseimbangan tercermin dari cara seorang penabuh menjiwai instrumen yang dimainkan, menguasai pola pukulan, dan menyelaraskannya dengan penabuh lain. Setiap individu memiliki peran penting dalam membentuk kesatuan musikal.

Pada tingkat makrokosmos, keseimbangan terlihat dari keseluruhan alur gending yang terbentuk. "Beragam pola pukulan dari instrumen yang berbeda berpadu menjadi satu kesatuan komposisi yang utuh tanpa meninggalkan pakem atau aturan dasar yang telah ditetapkan dalam tradisi gambelan Bali, " ucap Nengah Adi.

Disebutkan gambelan Gong Kebyar menjadi contoh nyata bagaimana harmonisasi dan keseimbangan diwujudkan dalam praktik. Berbagai instrumen seperti gangsa, kantil, riong, kendang, gong, suling, hingga rebab dimainkan dengan teknik yang berbeda dipukul, ditiup, maupun digesek namun mampu menyatu membentuk gending yang indah dan dinamis.

Pendekatan keseimbangan dalam permainan gambelan juga erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana. Konsep ini menegaskan bahwa kebahagiaan dan keharmonisan hidup tercipta dari tiga hubungan utama, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam dan lingkungannya.

Aspek parahyangan atau hubungan manusia dengan Tuhan tercermin dalam penggunaan gambelan sebagai sarana persembahan dalam berbagai upacara yadnya. Kesenian, termasuk gambelan, dipandang sebagai bentuk persembahan suci yang memiliki nilai spiritual tinggi, sebagaimana ajaran dalam Bhagawadgita yang menekankan pentingnya yajna dalam kehidupan manusia.

Melalui pelaksanaan yadnya, manusia diyakini memperoleh anugerah sekaligus jalan menuju pembebasan. Dalam konteks ini, para penabuh gambelan tidak sekadar memainkan musik, tetapi juga melaksanakan pengabdian spiritual atau ngayah sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Konsep pawongan atau hubungan harmonis antarmanusia tercermin dari pola kerja sama dalam permainan gambelan. Nilai Tat Twam Asi menjadi landasan etis, di mana setiap penabuh saling menghargai peran satu sama lain demi terciptanya keselarasan bunyi dan rasa dalam sebuah gending.

Sementara itu, palemahan atau hubungan manusia dengan alam diwujudkan melalui kesadaran bahwa gambelan lahir dari alam. Instrumen gambelan terbuat dari bahan-bahan alami yang diolah dengan penuh penghormatan, mencerminkan ketergantungan dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan sekitarnya.

Makna keseimbangan juga tampak dalam konsep musikal lanang-wadon, ngumbang-ngisep, serta penggunaan laras pelog dan selendro. Perbedaan tinggi rendah nada tidak saling meniadakan, melainkan saling mengisi dan menciptakan getaran harmonis yang khas dalam musik Bali.

"Secara filosofis, permainan gambelan mengajarkan bahwa kehidupan bersifat beragam, bukan seragam. Perbedaan yang ada justru menjadi kekuatan ketika disatukan dalam keseimbangan dan keharmonisan. Seperti alunan gending yang berpuncak pada satu kesatuan, kehidupan pun pada akhirnya mengarah pada keselarasan universal, " tegas Nengah Adi.

Berdasarkan pemikiran tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem permainan gambelan Bali mengandung nilai keseimbangan dan harmonisasi yang tinggi. Seluruh pola permainan yang berbeda berpadu menjadi karya seni bernilai estetis tinggi, sekaligus menjadi refleksi mendalam tentang cara masyarakat Bali memaknai kehidupan yang selaras, seimbang, dan penuh makna.*

 

Editor : Putu Agus Adegrantika