Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Atasi Stunting, Desa Tulikup Budidaya Lele Diolah Menjadi BMT

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 23 Januari 2026 | 20:36 WIB
LELE : Budidaya bibit lele di Puspa Aman Desa Tulikup, Gianyar.
LELE : Budidaya bibit lele di Puspa Aman Desa Tulikup, Gianyar.

BALIEXPRESS. ID– Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar, terus menunjukkan inovasi dalam upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus penanganan stunting. Salah satunya melalui program budidaya ikan lele yang dimulai sejak 2022 di Banjar Pande, desa setempat. Program ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atas penunjukan langsung dari pemerintah desa.

Perbekel Desa Tulikup, I Made Ardika, Jumat (23/1) mengatakan budidaya lele tersebut dikembangkan menggunakan 24 kolam terpal. “Dari total 10 ribu bibit lele yang ditebar pada satu kolam, tingkat kelangsungan hidup mencapai sekitar 7 ribu ekor,” paparnya. Hasil ini dinilai cukup optimal dan berkelanjutan untuk skala desa.

Panen lele dilakukan secara berkala setiap 2,5 bulan. Tidak hanya dijual dalam bentuk segar, hasil panen juga diolah lebih lanjut dengan melibatkan Tim Penggerak PKK Desa Tulikup. Lele tersebut diolah menjadi berbagai produk berbasis makanan bergizi, atau bahan makanan tambahan (BMT).

Menurut Ardika, BMT awalnya difokuskan untuk menanggulangi tujuh kasus stunting yang ada di desanya. Seiring berjalannya waktu dan optimalisasi program, kini kasus stunting di Desa Tulikup berhasil ditekan hingga tersisa satu anak. Produk olahan lele tersebut secara rutin dimanfaatkan dalam kegiatan Posyandu.

“Lele ini kami jadikan menu tambahan di Posyandu karena kandungan gizinya tinggi dan mudah diterima anak-anak,” ujarnya. Program ini sekaligus menjadi contoh sinergi antara BUMDes, PKK, dan layanan kesehatan desa.

Keberhasilan program budidaya lele ini juga menarik perhatian daerah lain. Sepanjang 2024, Desa Tulikup kerap menjadi lokasi study tiru, tidak hanya dari kabupaten lain di Bali, tetapi juga dari luar Bali seperti Yogyakarta. Pemerintah desa berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi untuk memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat desa.*

Editor : Putu Agus Adegrantika