BALIEXPRESS.ID - Ogoh -ogoh bertajuk “Jivanam Tirta Chardika” karya Sekaa Teruna Teruni (STT) Widya Bhakti, Banjar Pegok, Sesetan, siap menggebrak Kota Denpasar dalam rangkaian perayaan Nyepi Tahun Caka serta ajang lomba ogoh-ogoh Kota Denpasar. Karya ini menjadi bukti keseriusan pemuda Banjar Pegok dalam menampilkan ogoh-ogoh yang tidak hanya megah secara visual, tetapi juga sarat makna filosofis.
Tokoh Banjar Pegok, I Made Adi Widnyana, mengapresiasi semangat muda-mudi STT Widya Bhakti yang tahun ini benar-benar mempersiapkan ogoh-ogoh dengan sungguh-sungguh. Mulai dari penggalian konsep, pemilihan tema, hingga proses pengerjaan dilakukan secara matang demi menghasilkan karya yang mampu bersaing sekaligus memberi pesan edukatif kepada masyarakat.
Tema air yang ditetapkan panitia Kesanga Fest Kota Denpasar diterjemahkan dengan cerdas oleh generasi muda Pegok sebagai simbol tirta kehidupan. "Air dipahami sebagai sumber utama keberlangsungan hidup, yang kemudian diwujudkan dalam konsep Jivanam Tirta Chardika, sebuah refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam demi kelangsungan dunia, " paparnya.
Penggarap ogoh-ogoh lokal Banjar Pegok, Putu Kardinata, menjelaskan bahwa karya tahun ini tidak hanya menonjolkan kekuatan konstruksi dan teknologi, tetapi juga menaruh perhatian besar pada anatomi serta agem ogoh-ogoh sesuai pakem seni tari Bali. Fokus utama diwujudkan melalui agem kijang hutan, yang dirancang agar ogoh-ogoh tampak pangus dan “menari” saat diarak.
Kisah ogoh-ogoh ini berangkat dari cerita seorang pemimpin raksasa Hiranya Aksara yang berniat mencuri tirta kehidupan dari Swarga Loka untuk dibagikan kepada kaum asura agar hidup abadi. "Niat tersebut diketahui Dewa Wisnu, yang kemudian mengutus Dewa Bayu penguasa angin dan badai untuk mengejar dan merebut kembali tirta kehidupan tersebut, " terang Made Adi.
Dalam pertempuran sengit, tirta kehidupan jatuh dan terciprat ke bumi, mengubah lembah yang semula tandus dan gelap menjadi subur serta dipenuhi tumbuhan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa air adalah sumber kehidupan, namun bila tidak dikelola dengan bijak, justru dapat membawa kehancuran melalui bencana yang digerakkan kekuatan alam.
Melalui ogoh-ogoh “Jivanam Tirta Chardika”, STT Widya Bhakti menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar mengejar kemajuan teknologi dan kerumitan konstruksi, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai estetika tradisional. Perpaduan teknologi, filosofi, dan agem seni tari Bali inilah yang diharapkan mampu menjadikan ogoh-ogoh Banjar Pegok tampil memukau saat diarak dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Denpasar. *
Editor : Putu Agus Adegrantika