BALIEXPRESS. ID- Serah terima Buku Purana Pura Hyang Api Desa Adat Kelusa yang dilaksanakan di Wantilan Pura Hyang Api, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Senin (9/2). Penyusunan purana tersebut melibatkan Tim Purana Desa Adat Kelusa dan Kabupaten Gianyar memuat sejarah panjang serta nilai-nilai luhur desa yang diwariskan secara turun-temurun.
Bandesa Adat Kelusa, I Wayan Suarka, menjelaskan serah terima buku purana ini menjadi tonggak penting bagi Desa Adat Kelusa dalam upaya mendokumentasikan sejarah kuno desa, sekaligus memperkuat pemahaman generasi muda dan seluruh krama desa terhadap akar budaya dan agama Hindu yang bersumber dari purana. Purana juga menjadi pedoman bagi pengempon Pura Hyang Api berdasarkan keputusan paruman desa adat.
Dalam purana tersebut juga dijelaskan rangkaian upacara Aci Keburan yang dilaksanakan bertepatan dengan Tumpek Kuningan hingga Tumpek Krulut dalam rentang waktu 42 hari. Pada puncak aji keburan, para pemedek tangkil sejak pukul 04.00 wita untuk naur sesangi, khususnya para peternak yang membawa sapi, babi, dan hewan ternak lainnya sebagai wujud yadnya wewalungan kerti.
"Ritual di Pura Hyang Api juga berkaitan erat dengan konsep Segara Kerthi, Wana Kerthi, dan Danu Kerthi sebagai bagian dari keharmonisan alam semesta," paparnya.
Wayan Suarka, menegaskan bahwa keberadaan purana ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk semakin ngayah dan melimbakkan bhakti kepada pengempon Pura Hyang Api. "Selain itu, program jangka pendek desa juga menargetkan pendaftaran Pura Hyang Api sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) hingga Oktober 2026 agar dapat diusulkan ke tingkat nasional," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa purana merupakan warisan sastra penting yang memuat kuna dresta dan kala dresta. "Di dalamnya terdapat panca laksana purana, mulai dari kisah penciptaan, sejarah, estetika seni, penyebaran Hindu di Bali yang tak terpisahkan dari seni, hingga ajaran tattwa, " tegasnya.
Ia menambahkan, sistem pemujaan masyarakat Bali tidak lepas dari konsep ruang dan alam, seperti gunung sebagai tempat suci, pemujaan leluhur, laut sebagai pusat pemujaan, hingga pelinggih Dewi Sri sebagai simbol kesejahteraan. Arah timur dimaknai sebagai matahari, sementara ulu sebagai gunung atau utara. "Semua itu menunjukkan bahwa seni, budaya, dan agama merupakan satu tarikan napas yang hidup dalam purana sebagai literasi pura dan peninggalan sastra adiluhung Bali, " pungkas Gusti Sunartha. *
Editor : Putu Agus Adegrantika