BALIEXPRESS.ID — Kejelasan kelanjutan proyek Bali Urban Subway atau kereta di Bali masih menjadi tanda tanya.
Hingga kini, belum terlihat perkembangan signifikan, meski prosesi ground breaking dan upacara Ngeruwak sebagai penanda dimulainya pembangunan telah dilaksanakan pada Rabu, 4 September 2024 di Sentral Parkir Kuta, Badung.
Ketua Komisi III DPRD Bali, Nyoman Suyasa, menyebut proyek tersebut sejatinya telah dirancang sejak lama.
Baca Juga: Dari Warung Sekaligus Konter HP, Jro Mangku Darsana Bangun Harapan Lewat Agen BRILink di Belantih
Namun, hingga saat ini belum tampak progres nyata di lapangan, meskipun alat berat sempat berada di lokasi ground breaking.
Ia menegaskan, proyek Bali Urban Subway direncanakan menggunakan skema pendanaan investor luar negeri tanpa melibatkan APBD.
“Sekarang saya dengar investornya China dan Korea, sampai saat ini kan belum. Kan rencananya empat fase. Fase satu dari Bandara-Kuta, fase dua Cemagi-Canggu-Mengwi sebenarnya sudah mau tahap pembanguanan karena proses feasibility study (FS) sudah selesai. Yang tahap ketiga dan keempat masih proses FS cuman sampai saat ini kami belum dapat informasi yang valid tentang progres proyek subway,” ujarnya, Senin (9/2).
Baca Juga: Bhabinkamtibmas Desa Suwat Intensifkan Sambang Warga Jaga Kamtibmas Kondusif
Menurut Suyasa, keberadaan kereta di Bali menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurai kemacetan, khususnya di kawasan dengan kepadatan lalu lintas tinggi seperti Kuta dan Canggu.
Ia menilai transportasi massal berbasis kereta bawah tanah perlu diwujudkan meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan dalam proses pelaksanaannya.
“Mungkin saya akan segera mendiskusikan hal ini sekaligus menanyakan dengan Dinas juga dengan Pak Gubernur bagaimana kelanjutan proyek tersebut. Secepatnya saya akan berkoordinasi terkait kelanjutan proyek subway. Selesai reses ini saya tanyakan karena ada beberapa teman-teman menanyakan. Kami harus tahu progres kelanjutannya,” katanya.
Baca Juga: Buka Musrenbang 2026, Bupati Badung Dorong Akselerasi Infrastruktur Inklusif Di Kuta Selatan
Lebih lanjut, Suyasa menyadari proyek kereta di Bali membutuhkan anggaran yang sangat besar dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, perencanaan yang matang serta kepastian kesiapan pendanaan dari investor menjadi faktor krusial dalam kelanjutan proyek ini.
“Walaupun sudah di Ground Breaking dua tahun lalu jelang Pilgub, sampai sekarang belum ada progres ya kita lihat saja kita tanyakan dulu. Nanti kami tanyakan tentang kelanjutan progres proyek tersebut,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti