Terkini, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng menggelar Lomba Baca Puisi Tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Buleleng dan Diseminasi Praktik Baik Pembelajaran Bahasa Bali. Dua kegiatan dipusatkan pada Jumat (20/2) bertempat di SMA Negeri 2 Singaraja.
Ketua panitia kegiatan Luh Seni Udiyana Utami, S.Pd dalam laporannya mengatakan bahwa kegiatan lomba baca puisi diikuti oleh 80 peserta siswa SMP/MTs se-Kabupaten Buleleng.
Kegiatan lomba sudah dilaksanakan dengan tahap sosialisasi, TM, pengumpulan video, dan lanjut penilaian secara daring pada tanggal 15 s.d 17 Februari.
Penyerahan hadiah juara lomba dilaksanakan secara luring berbarengan dengan kegiatan diseminasi yang kali ini difokuskan pada pembelajaran mendalam.
Adapun siswa yang meraih juara dalam lomba baca puisi yaitu Harapan III diraih oleh Kadek Arya Wira Hanjaya dari SMPN 1 Gerokgak, Harapan II diraih oleh I Gede Widi Artha dari SMPN 3 Busungbiu, Harapan I diraih oleh Kadek Selly Utami Erliana dari SMPN 3 Seririt.
Selanjutnya untuk Juara III diraih oleh Ni Wayan Mendha Putri Anisya dari SMPN 4 Singaraja, Juara II diraih oleh Ni Luh Pebri Ani Suwarsini dari SMPN 2 Sawan, dan Juara I diraih oleh Putu Yas Ayu dari SMPN 8 Singaraja.
Ketua MGMP I Kadek Mustika, S.Pd.B., M.Pd salam sambutannya ketika membuka acara mengatakan bahwa MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng selama ini telah rutin melaksanakan perayaan Bulan Bahasa Bali sebagai bagian dari program kerja MGMP seperti peninjauan kurikulum, pembuatan bahan ajar secara kolektif, pembuatan video pembelajaran, webinar series, workshop/diseminasi, dan pelatihan materi.
Selain kegiatan utama sesuai program kerja, selama ini MGMP juga mengadakan beberapa kegiatan penting seperti bakti sosial, ngayah pasantian, lomba, dan pelatihan penulisan kreatif. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka pengembangan kompetensi guru sesuai kebutuhan dan tuntutan kurikulum.
Pada kegiatan diseminasi, panitia menghadirkan narasumber Dr. I Putu Suardipa, S.Pd., M.Pd., M.Pd.H akademisi dari IAHN Mpu Kuturan yang membawakan materi mengenai Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Integrasi IT dalam pembelajaran bahasa Bali.
DIrinya menekankan guru bahasa Bali sangat penting menerapkan pembelajaran mendalam mengingat Bali memiliki kekayaan bahasa yang perlu dipelajari secara kontekstual, kebutuhan abad 21 serta dukungan kebijakan.
Pembelajaran mendalam mengacu pada tiga pilar yaitu bermakna (meaningfull) misalnya melalui kamus daring dan artikel digital, berkesadaran (mindful) melalui ruang interaksi, dan menyenangkan (joyful) melalui gamifikasi dan konten multimedia.
Untuk bisa menerapkan guru harus sadar akan perannya sebagai seorang guru sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan siswa pada akhirnya diharapkan dapat mendiseminasikan pembelajaran yang telah diperolehnya.
Selain terkait pembelajaran mendalam, dirinya juga banyak memberikan contoh-contoh platform media pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru bahasa Bali seperti wordwall, mentimeter, chat GPT, quizziz, AI, genially dan lain-lain.
Baginya di era sekarang IT menjadi kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan. Namun, dalam penerapan IT, guru juga dituntut cerdas dan melakukan kontrol dengan baik sehingga penggunaannya dapat berjalan tepat sasaran dan sesuai rencana.
Selain dari akademisi, dua guru juga membagikan praktik baiknya yaitu Komang Ayu Sri Wahyuningsih, S.Pd guru SMAN 4 Singaraja membawakan materi Pemanfaatan Lagu Bali untuk Pembelajaran Anggah Ungguhing Basa.
Dengan latar belakang rendahnya minat siswa serta sulitnya belajar anggah-ungguhing basa Bali maka media lagu Bali ini menjadi solusi. Dalam praktinya ternyata lagu Bali sangat efekti dalam meningkatkan motivasi siswa, membuat siswa jadi senang dalam belajar sesuai dengan prinsip pembelajaran mendalam.
Berikutnya, Gede Edi Subawa, S.Pd guru SMAN 1 Singaraja membawakan materi tentang Ngwangun Basa Nguripang Basa Bali, Musikalisasi Puisi Bali Sebagai Wahana Pembelajaran mendalam Berbasis Proyek.
Dirinya berfokus pada upaya menumbuhkan kreativitas, kolaborasi dan kemampuan ekspresi siswa sehingga dipilih pembelajaran berbasis proyek agar lebih kontekstual, menyenangkan dan bermakna.
Dalam pembelajaran puisi, model ini ternyata sukses diterapkan dan menjawab permasalahan pembelajaran selama ini.
Para peserta pun memberikan kesan positif dan memberikan catatan penting bahwa kegiatan semacam ini sangat bermanfaat dan harus terus dilaksanakan untuk memperoleh inspirasi dan hal-hal positif dari masing-masing guru sehingga kompetensi para guru terus berkembang. (dik)
Editor : I Putu Mardika