Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Epos Tubuh dan Napas dalam 11 Lukisan, Sujana Suklu Hadirkan Seri Ketawang–Lekhya

I Gede Paramasutha • Minggu, 22 Februari 2026 | 21:35 WIB

Sejumlah lukisan Suklu yang termasuk dalam seri Ketawang-Lekhya. (Bali Express/Istimewa)
Sejumlah lukisan Suklu yang termasuk dalam seri Ketawang-Lekhya. (Bali Express/Istimewa)

BALIEXPRESS.ID – Seniman Bali, I Wayan Sujana Suklu, menghadirkan karya terbarunya bertajuk Seri Ketawang–Lekhya (2025) dalam Bali Bhuwana Rupa Exhibition yang dibuka Senin (23/2) di Agung Rai Museum Art, Ubud, Gianyar.

Pameran internasional yang diinisiasi oleh ISI Bali ini akan diikuti oleh 180 seniman dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Polandia, Australia, serta Amerika Serikat.

Adapun seri yang dihadirkan oleh Suklu kali ini merupakan rangkaian 11 lukisan yang lahir dari dialog intens dengan puisi “Ketawang” karya Hartanto. Karya tersebut mempertemukan teks dan tubuh, bunyi dan rupa, serta struktur musikal Jawa dengan kosmologi Bali.

Sosok Suklu sendiri adalah seniman Bali yang praktiknya berfokus pada seni rupa pertunjukan, tubuh, dan kosmologi lokal dalam dialog dengan wacana kontemporer.

Karyanya memadukan pendekatan konseptual dengan akar tradisi Bali, menjadikannya salah satu suara penting dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia.

Dalam seri ini, Sujana Suklu tidak sekadar mengilustrasikan puisi. Ia membiarkan tubuhnya menyerap ritme, lalu “menuliskannya kembali” di atas kanvas. "Saya tidak mengilustrasikan puisi. Saya membiarkan tubuh saya mendengar ritmenya, lalu menuliskannya kembali di atas kanvas,” ujar Sujana Suklu.

Kata ketawang sendiri merujuk pada bentuk komposisi dalam tradisi gamelan Jawa yang berstruktur repetitif dan kontemplatif. Sementara lekhya, dari bahasa Sanskerta, berarti “yang dituliskan” atau “yang tergurat”.

Ritme puisi diterjemahkan menjadi bahasa visual. Garis hadir sebagai napas, warna menjadi gema, dan figur menjelma aksara hidup. Setiap kanvas memantulkan siklus berulang yang tidak pernah identik, menyerupai struktur ketawang dalam musik.

Berakar pada kosmologi Bali, karya-karya dalam seri ini memandang tubuh sebagai bhuana alit (mikrokosmos), cerminan dari bhuana agung (makrokosmos). Pandangan tersebut merujuk pada ajaran dalam lontar Bali seperti Aji Sangkya dan Siwa Tattwa.

Figur-figur dalam lukisan tampil dalam situasi liminal: memanggul beban, melangkah di tengah kabut, hingga terjerat serpihan garis. Tubuh tidak diposisikan sebagai objek representasional semata, melainkan sebagai lokasi kesadaran.

Teknik lapisan akrilik dan tinta dimanfaatkan untuk membangun kedalaman ruang yang meditatif, dengan palet warna cenderung monokromatik dan atmosferik.

Seri Ketawang–Lekhya berdiri di antara tradisi dan modernitas. Selain merespons struktur musikal Jawa dan kosmologi Bali, pendekatan tubuh sebagai medan kesadaran ini juga membuka dialog dengan pemikiran fenomenologi tubuh yang dirumuskan Maurice Merleau-Ponty.

Dalam konteks seni kontemporer global, gagasan tersebut bersinggungan dengan praktik performatif yang mengeksplorasi tubuh sebagai ruang pengalaman ekstrem, sebagaimana dilakukan Marina Abramović.

Meski demikian, Sujana Suklu menegaskan akar lokal Bali tetap menjadi pijakan utama, terutama pada orientasi ruang kaja–kelod, ritus, serta pemahaman napas (prana/bayu) sebagai energi hidup.

Kesebelas karya dalam seri ini membentuk satu partitur besar, yakni epos visual tentang tubuh, napas, dan lokasi. Setiap lukisan berdiri sendiri, namun saling terhubung dalam narasi perjalanan manusia di tengah beban sejarah dan pencarian spiritual.

Figur yang memanggul batu, tubuh yang melompat di antara serpih, hingga sosok yang tenggelam dalam kabut menjadi metafora kontemplatif atas eksistensi.

Bagi Sujana Suklu, proyek ini merupakan bagian dari perjalanan artistik berkelanjutan yang menempatkan seni sebagai praktik napas dan tubuh sebagai ruang kesadaran. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
#Ketawang #suklu #lukisan #Lekhya