SINGARAJA, BALI EXPRESS - Malam itu, panggung Aula SMKN 2 Singaraja menjadi saksi lahirnya dua wajah baru agen perubahan remaja Buleleng. Dalam Grand Final Duta GenRe Kabupaten Buleleng Tahun 2026, Putu Galang Okta Busana dari SMA Negeri 1 Seririt dan Komang Dea Yogi Kristiani dari Universitas Pendidikan Ganesha resmi dinobatkan sebagai Winner Duta GenRe Putra dan Putri Tahun 2026, Minggu (22/2).
Namun bagi Galang dan Dea, kemenangan itu bukan sekadar selempang dan sorot lampu. Itu adalah titik awal dari tanggung jawab panjang sebagai representasi suara remaja Buleleng.
Galang tampil dengan pembawaan yang tenang namun penuh keyakinan. Siswa SMA Negeri 1 Seririt ini dikenal sebagai sosok yang konsisten sejak tahap awal seleksi. Dari motivation letter hingga video profil, ia menekankan pentingnya remaja memiliki arah hidup yang jelas.
Baginya, Program GenRe bukan hanya kampanye normatif tentang perencanaan kehidupan berkeluarga. Lebih dari itu, GenRe adalah gerakan literasi masa depan. Remaja harus berani merancang pendidikan, karier, hingga kesiapan mental sebelum memasuki fase dewasa.
Baca Juga: Cucu Temukan Kakek 101 Tahun Meninggal di Dapur Rumah
Dalam setiap tahapan seleksi—tes tulis, wawancara, motion challenge, hingga deep interview—Galang menunjukkan kapasitas berpikir yang sistematis. Ia mampu memetakan persoalan remaja Buleleng, mulai dari tekanan pergaulan, risiko pernikahan dini, hingga pentingnya penguatan karakter di era digital.
Saat mengikuti program Goes to School dan Focus Group Discussion, Galang tak sekadar hadir sebagai peserta. Ia aktif berdialog, memancing diskusi, bahkan berani menyampaikan gagasan tentang pendekatan komunikasi yang lebih relevan bagi generasi Z.
“Remaja hari ini tidak cukup diberi nasihat. Mereka perlu ruang didengar,” begitu prinsip yang ia pegang.
Sikapnya yang inklusif dan komunikatif membuatnya dinilai layak menjadi wajah GenRe Putra 2026—bukan hanya karena intelektualitas, tetapi juga karena empati sosialnya.
Di sisi lain panggung, Komang Dea Yogi Kristiani memancarkan energi yang berbeda—hangat, reflektif, namun tegas. Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha ini menunjukkan bahwa intelektualitas dan sensitivitas sosial bisa berjalan beriringan.
Sejak awal seleksi administrasi, Dea sudah mencuri perhatian melalui motivation letter yang personal dan menyentuh. Ia menulis tentang keresahan remaja yang sering merasa sendirian dalam proses pencarian jati diri. Menurutnya, masa remaja adalah fase paling rentan sekaligus paling potensial.
Dea memahami bahwa remaja berada di titik transisi. Fisik berubah, emosi bergejolak, dan kebutuhan akan pengakuan meningkat. Di sinilah ia melihat pentingnya GenRe sebagai ruang aman untuk bertumbuh.
Selama masa karantina dan pembekalan intensif, Dea menunjukkan ketangguhan mental. Dalam tes program kerja, ia menawarkan konsep kampanye kreatif berbasis media sosial yang tidak menggurui, tetapi mengajak dialog. Ia percaya pesan akan lebih kuat jika dikemas dengan bahasa yang dekat dengan keseharian remaja.
Pada sesi deep interview, Dea mampu menjawab pertanyaan kritis dengan argumentasi matang. Ia tidak hanya berbicara tentang idealisme, tetapi juga strategi implementasi. Baginya, menjadi Duta GenRe berarti konsisten turun langsung, bukan hanya tampil di acara seremonial.
Grand Final yang dibuka oleh Kepala Dinas PMDPPKB Kabupaten Buleleng, Made Supartawan, menegaskan bahwa masa remaja adalah fase penentu. Orang tua, keluarga, dan lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk arah hidup generasi muda.
Pesan itu sejalan dengan visi Galang dan Dea. Mereka melihat diri bukan sebagai simbol, tetapi sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan remaja.
Ketua Panitia Angga Prabaswara juga menegaskan bahwa Duta GenRe adalah soal tanggung jawab dan konsistensi selama satu tahun penuh. Tantangan seperti Instagram Challenge, 2D Challenge, hingga Focus Group Discussion hanyalah gerbang awal untuk menguji komitmen tersebut.
Editor : Dian Suryantini