BALIEXPRESS.ID - Peristiwa tanah longsor terjadi di Pura Kelembu, Desa Adat Mas, Banjar Satria, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Selasa (24/2) sekitar pukul 06.30 wita. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun tiga bangunan pura mengalami kerusakan dengan taksiran kerugian material mencapai Rp500 juta.
Kapolsek Ubud, Kompol I Wayan Putra Antara, menjelaskan bahwa longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang disertai angin kencang sejak beberapa hari terakhir.
“Benar telah terjadi tanah longsor di Pura Kelembu Desa Adat Mas sekitar pukul 06.30 wita. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun tiga bangunan terdampak cukup parah,” ujarnya.
Tiga bangunan yang mengalami kerusakan yakni Piyasan, Bale Gong, dan Bale Penyimpanan Banten. Ketiganya tertimpa reruntuhan senderan tembok sisi selatan pura yang ambrol akibat longsor.
Salah seorang saksi, I Kadek Mertha (43), warga Banjar Tarukan, Desa Mas, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut terjadi saat hujan masih mengguyur kawasan tersebut disertai angin kencang.
Kapolsek Ubud menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gianyar untuk penanganan lebih lanjut.
“Saat ini kami telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Gianyar dan tim sedang menuju lokasi. Proses pembersihan material belum dapat dilakukan karena kondisi cuaca masih hujan dan angin kencang, sehingga berisiko bagi keselamatan petugas,” jelasnya.
Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat wilayah Ubud saat ini memasuki musim penghujan yang berpotensi menimbulkan bencana serupa.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama yang berada di sekitar tebing atau lereng. Tidak menutup kemungkinan masih ada potensi longsor susulan karena kondisi tanah yang labil,” tegas Kapolsek.
Untuk sementara, area sekitar lokasi longsor diamankan guna mencegah masyarakat mendekat, mengingat risiko longsor susulan masih mungkin terjadi. Selain itu, peristiwa ini juga berpotensi mengganggu aktivitas keagamaan di Pura Kelembu hingga proses pembersihan dan perbaikan selesai dilakukan.*
Editor : Putu Agus Adegrantika