BALIEXPRESS. ID- Di tengah ruang pamer Museum ARMA, Ubud, sebuah kanvas berukuran 200 x 200 sentimeter memancarkan kesenyapan yang hangat. Karya bertajuk Cahaya Penuntun (Inner Light) itu menjadi salah satu sajian utama dalam perhelatan Bali Padma Bhuwana VI tahun 2026. Dilukis dengan medium akrilik di atas kanvas, karya ini merupakan buah refleksi terbaru dari Prof. I Wayan Karja, profesor seni murni di Institut Seni Indonesia Denpasar.
Bagi Wayan Karja, melukis bukan sekadar aktivitas estetik, melainkan jalan spiritual. Lahir di Penestanan, Ubud, ia dikenal sebagai perupa yang berakar kuat pada kosmologi Bali, terutama konsep pangider bhuwana dan mandala warna. Pendekatan visualnya intuitif dan kontemplatif, merangkul tradisi sekaligus berdialog dengan seni rupa kontemporer global.
Karja menuturkan bahwa Cahaya Penuntun lahir dari refleksi batin tentang sosok ibu. Namun, ia tidak menghadirkan figur ibu secara kasat mata. “Ibu saya hadir sebagai cahaya,” ungkapnya pelan, Rabu (25/2).
Bagi Karja, kehadiran sejati tak selalu membutuhkan bentuk. Ia bisa menjelma energi lembut yang menuntun dari dalam kesadaran.
Kanvas itu didominasi ruang gelap yang tenang, seolah mengajak penonton memasuki lorong sunyi perenungan. Dari kedalaman gelap tersebut, cahaya putih keemasan muncul perlahan. Bukan menyilaukan, melainkan membelai. Gelap dalam tafsir Karja bukan simbol ketiadaan, tetapi ruang kontemplasi tempat ingatan, kehilangan, dan kasih berlapis menjadi satu.
"Secara filosofis, karya ini berpijak pada ajaran Bali tentang hana tan hana (ada dan tiada) serta rupa tan rupa (berwujud namun tanpa wujud). Cahaya dalam lukisan tersebut menjadi metafora kehadiran yang tak kasat mata, tetapi nyata dirasakan. Sosok ibu, meski telah tiada secara fisik, tetap hidup sebagai kesadaran batin yang membimbing, " imbuhnya.
Diungkapkan gradasi warna putih keemasan, kuning lembut, hingga merah bata membangun suasana hangat sekaligus sakral. Merah bata merepresentasikan kedalaman rasa dan jejak kasih yang menetap dalam batin. Sementara cahaya keemasan menegaskan dimensi spiritual yang lembut namun kuat sebuah peneguhan bahwa terang sejati kerap lahir dari kedalaman luka dan penerimaan.
Perjalanan akademik Karja turut memperkaya kedalaman karyanya. Ia meraih gelar MFA dari University of South Florida, melanjutkan studi di Swiss, serta menyelesaikan doktoralnya di Universitas Hindu Indonesia. Kiprahnya membentang dari ruang kelas hingga panggung pamer internasional di Jepang, Australia, Italia, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Tak hanya sebagai perupa, Karja juga dikenal sebagai pendidik dan peneliti. Ia pernah menjabat Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar, aktif dalam restorasi dan lokakarya seni, serta menerima penghargaan bergengsi seperti Satya Lencana dari Presiden Republik Indonesia dan Nakasone Yasuhiro Award di Tokyo. Baginya, seni adalah pengabdian jalan panjang antara kreativitas dan tanggung jawab budaya.
Melalui Cahaya Penuntun, Karja menghadirkan meditasi visual tentang kesadaran eksistensial. Cahaya menjadi metafora utama: tak tergenggam, tak berbentuk, namun nyata membimbing. Dalam kesenyapan kanvasnya, terang tidak datang dari luar, melainkan tumbuh dari kedalaman jiwa yang terhubung dengan pengalaman hidup.
Pada akhirnya, lukisan ini berbicara tentang transformasi. Tentang bagaimana kehilangan dapat beralih menjadi penerimaan, dan kesedihan menjelma kekuatan batin. Di ruang hening Museum ARMA, Cahaya Penuntun berdiri sebagai pengingat universal, kasih seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah rupa menjadi cahaya lembut yang abadi, menerangi perjalanan jiwa melampaui waktu dan wujud. *
Editor : Putu Agus Adegrantika