BALIEXPRESS.ID- Banjir yang melanda Kelurahan Seminyak, Legian, dan Kuta, Kecamatan Kuta pada Selasa (25/2) berdampak langsung pada pariwisata.
Hal ini lantaran banjir tersebut meluas dari daerah yang sempat tergenang.
Bahkan akibat bencana alam yang merendam sejumlah kawasan ini menimbukan kerugian miliaran rupiah hingga pembatalan wisatawan yang akan menginap.
Hal ini disebutkan oleh salah satu pengusaha pariwisata di Kelurahan Kuta, I Nyoman Graha Wicaksana, Rabu (25/2).
Menurut Graha Wicaksana, banjir yang terjadi mengancam citra pariwisata Bali.
Terlebih bencana yang terjadi dalam sehari ini memicu kerugian material hingga miliaran rupiah.
“Selama ini, titik banjir di kawasan Kuta cenderung terfokus di area Jalan Dewi Sri. Namun, hujan ekstrem belakangan ini genangan air meluas hingga ke kawasan Kartika Plaza, Wana Segara, hingga Samudra. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kalaupun ada genangan, biasanya cepat surua t dalam hitungan jam. Sekarang, banjir sudah melebar ke titik-titik vital pariwisata yang sebelumnya aman,” ujarnya.
Pihaknya menyebutkan, sektor perhotelan menjadi pihak yang paling terpukul dalam kejadian tersebut. Bahkan genamgan banjir masuk hingga ke kamar hotel, akhirnya memaksa manajemen melakukan evakuasi tamu.
Hal ini pun tidak hanya membatalkan pesanan kamar, namun merusak fasilitas fisik bangunan yang memerlukan waktu perbaikan setidaknya satu hingga dua minggu.
“Teman-teman pelaku mengakui ada kerusakan fasilitas akibat air yang masuk ke area lobi dan kamar merusak furnitur, alat elektronik, dan interior hotel. Banyak tamu yang memilih cancel,” ungkapnya.
Dampak banjir yang meluas, Graha Wicaksana menerangkan, tidak hanya hotel besar, melainkan ekosistem pendukung seperti warung makan, toko kelontong, tour desk, hingga jasa penyewaan motor ikut kehilangan pendapatan.
Hal ini terjadi karena akses jalan yang terputus selama banjir.
“Estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah. Pengusaha yang seharusnya menyetorkan pajak, kini justru harus mengalokasikan dana tersebut untuk perbaikan darurat,” paparnya.
Dirinya pun menjelaskan, pariwisata adalah bisnis berbasis persepsi dan citra.
Jika wisatawan menganggap Kuta sebagai kawasan yang tidak nyaman dan rawan bencana, maka wisatawan akan berpikir dua kali untuk berkunjung.
Hal ini diprediksi akan berdampak langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Badung.
“Perlu diingat bahwa sekitar 80 persen PAD Kabupaten Badung bersumber dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR). Jika tingkat kunjungan di Kuta, Legian, dan Seminyak menurun drastis akibat banjir yang berulang, maka kapasitas fiskal pemerintah daerah untuk membiayai program pembangunan juga akan ikut tergerus,”jelasnya.
Lebih lanjut, pengusaha yang juga Ketua Komisi IV DPRD Badung berharap, ada solusi holistik dengan mendesain ulang sistem drainase secara menyeluruh.
Hal ini dapat dilakukan dengan duduk bersama para pakar.
Selain itu, melakukan normalisasi saluran air secara rutin sebelum musim penghujan tiba.
“Jangan sampai investor menganggap Kuta tidak lagi bonafide untuk investasi. Jika investasi lari, perputaran ekonomi akan mati, dan Bali yang akan rugi secara keseluruhan,” tegasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga