Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Koster Bakal Undang Desa Absen Kegiatan Bulan Bahasa Bali, Paling Banyak Bangli-Buleleng 

I Made Mertawan • Minggu, 1 Maret 2026 | 08:47 WIB

TEPIS: Gubernur Bali Wayan Koster saat ditemui di Kantor Gubernur Bali, Selasa (12/8)
TEPIS: Gubernur Bali Wayan Koster saat ditemui di Kantor Gubernur Bali, Selasa (12/8)

BALIEXPRESS.ID- Gubernur  Bali Wayan Koster berencana mengundang para kepala desa dan lurah yang dilaporkan belum menggelar kegiatan dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026.

Undangan tersebut, menurutnya, bukan untuk menegur, melainkan berdialog guna mengetahui alasan di balik tidak terlaksananya kegiatan.

Koster menyebut telah menerima laporan adanya desa dan kelurahan yang belum berpartisipasi pada Bulan Bahasa Bali.

“Saya dapat laporan ada desa/kelurahan yang belum melaksanakan Bulan Bahasa Bali, Pak Kadis PMD tolong catat nanti saya undang jangan lah dibilang panggil, ini untuk diajak ngobrol kenapa mereka tidak menyelenggarakan," ujar Koster, Sabtu (28/2/2026)

Setelah pelaksanaan Bulan Bahasa Bali selama Februari 2026, tercatat masih ada 45 desa/kelurahan yang sama sekali tidak menyelenggarakan kegiatan.

Selain itu, beberapa desa adat dan lembaga pendidikan juga belum ikut ambil bagian.

Padahal sejak pertama kali digelar pada 2019, Pemerintah Provinsi Bali menargetkan seluruh elemen masyarakat terlibat aktif dalam pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Menurut Koster, kegiatan ini menjadi ruang regenerasi karena melibatkan pelajar dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, termasuk dalam aktivitas nyurat lontar menggunakan aksara Bali.

Ia menegaskan, generasi penerus memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Bali agar tetap lestari sepanjang eksistensi Provinsi Bali.

Untuk desa adat, gubernur mencatat masih ada 12 desa adat yang belum melaksanakan kegiatan.

Namun kondisi tersebut dinilai masih dapat dimaklumi. Berdasarkan penjelasan Sekda, beberapa desa adat belum menerima bantuan APBD karena persoalan administratif.

Koster meminta Dinas PMA segera menuntaskan kendala tersebut agar pada 2027 seluruh desa adat dapat mengikuti pola yang sudah berjalan.

Sikap tegas juga diarahkan kepada lembaga pendidikan. Ditemukan tiga SMA/SMK yang tidak menggelar kegiatan, sementara seluruh SLB justru berpartisipasi penuh.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali Ida Bagus Alit Suryana menyampaikan bahwa selama 1–28 Februari 2026, Pemprov Bali menyelenggarakan 12 agenda utama.

Rangkaian dimulai dengan sesolahan atau pertunjukan pembukaan, dilanjutkan utsawa nyurat aksara Bali di berbagai media yang diikuti 200 siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK serta para praktisi.

Selain itu, digelar 17 lomba (wimbakara) dengan total 1.168 peserta dari kabupaten/kota se-Bali dan masyarakat umum, termasuk peserta daring dari luar daerah seperti Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, hingga Sulawesi.

Kegiatan lain meliputi dua kali widyatula atau seminar lontar yang diikuti 958 peserta, kriyaloka atau lokakarya dengan 516 peserta, serta diskusi sastra yang dihadiri 183 peserta.

Tak hanya itu, digelar pula panggung apresiasi sastra Bali yang menampilkan 12 sanggar, ruang belajar ramah anak untuk 525 siswa SD, serta pameran pemajuan bahasa Bali (reka aksara) yang dikunjungi 1.429 orang.

Agenda tambahan mencakup festival mengetik aksara Bali menggunakan keyboard khusus yang diikuti 150 siswa SMA/SMK, konservasi 1.500 lontar, hingga penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama.

Secara keseluruhan, dari 1.500 desa adat, sebanyak 1.488 telah melaksanakan kegiatan, sementara 12 desa belum, tersebar di Buleleng (2), Badung (1), Klungkung (3), Bangli (3), dan Gianyar (3).

Sementara dari 716 desa/kelurahan di Bali, sebanyak 671 telah menggelar kegiatan dan 45 belum, masing-masing tersebar di Badung (9), Jembrana (7), Bangli (11), Buleleng (11), Gianyar (6), dan Klungkung (1).

Alasan yang muncul beragam, mulai dari keterbatasan anggaran, desa adat yang baru terbentuk, hingga pelaksanaan upacara keagamaan.

Di sektor pendidikan, 498 SMA/SMK telah berpartisipasi, tiga sekolah belum melaksanakan, sedangkan seluruh 16 SLB di Bali dipastikan mengikuti Bulan Bahasa Bali 2026.

 

Editor : I Made Mertawan
#wayan koster #bulan bahasa bali #gubernur bali