Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Perang Berkecamuk di Timur Tengah, Dikhawatirkan Ganggu Pariwisata Bali

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 2 Maret 2026 | 14:58 WIB

Kunjungan wisawan asing melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Kunjungan wisawan asing melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

BALIEXPRESS.ID – Perang antara Amerika Serikat dengan Iran kini sedang berkecamuk di wilayah Timur Tengah.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi kondisi pariwisata di wilayah Bali.

Terlebih saat ini sejumlah penerbangan dari dan menuju Timur Tengah mulai terhambat.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengaku, kondisi pariwisata Bali sangat dipengaruhi dengan adanya perang di Timur Tengah.

Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya penundaan penerbangan dari beberapa negara-negara yang berada di Timur Tengah.

“Sangat berpengaruh perang ini dengan pariwisata kita di Bali. Apalagi penerbangan internasional ada yang tertunda khususnya untuk di Middle East,” ujar Suryawijaya saat dikonfirmasi, Senin (2/3).

Meski demikian, pihaknya menyebutkan, belum berani memastikan berapa persen perang itu akan mempengaruhi Bali.

Namun dari adanya perang, dirinya menyatakan, kunjungan wisatawan pasti akan menurun karena keamanan global terganggu.

“Sebenarnya kunjungan wisatawan dari Middle East ke Bali sih tidak begitu banyak. Namun karena keamanan global terganggu yang mengakibatkan semua terdampak. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain mungkin mengingatkan masyarakatnya untuk antisipasi jika berlibur keluar negeri,” paparnya.

Suryawijaya pun berharap, pelaku pariwisata tetap waspada dengan pengaruh global ini, mengingat apapun dapat terjadi dampak dari perang di Timur Tengah.

Meski demikian dirinya tidak memungkiri saat ini memang bukan musim liburan, hanya saja tingkat okupansi wisatran telah menurun.

“Sementara untuk tingkat hunian hotel saat ini di angka 55 persen. Angka ini menurun dari biasanya yang di kisaran 60 persen,” ungkap pria yang juga Ketua PHRI Badung tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), Kadek Adnyana.

Dirinya pun tidak memungkiri jika adanya dampak negatif akibat perang terhadap pariwisata Bali.

Dampak yang terasa diakui, wisatawan Eropa mulai menurun.

"Sangat berpengaruh, ada cancellation dari Eropa, kemudian yang dari Timur Tengah juga itu kan cancel, karena tidak bisa terbang ke sini (Bali). Jadi booking-an kita yang datang ini ya lumayan juga beberapa klien yang meng-cancel staynya sampai 30 persen,” jelas Adnyana.

Pihaknya pun berharap, pemerintah memberikan gambaran terkait pasar pariwisata yang masih berpotensi dapat digarap, selain timur tengah.

"Kita harus konsentrasi sekarang ini pasar mana yang kira-kira perlu kita garap. Kalau memang pasar yang bermasalah ini kan yang Timur Tengah, kemudian Eropa. Nah, pemerintah yang lebih tahu kondisi mana yang kira-kira pasar yang masih potensial untuk digarap oleh pelaku pariwisata ini agar diarahkan," terangnya.

Terlebih dirinya mengaku, pemerintah telah memiliki roadmap pariwisata yang dapat dioptimalkan.

"Kami kan tidak tahu di bawah ini yang mana ini gitu, sedangkan pemerintah sendiri sudah memiliki roadmap, ini yang boleh, ini yang tidak, ini yang potensial,” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#bali #pariwisata #timur tengah #iran #perang