BALIEXPRESS.ID – Film dokumenter etnografi The Sacrifice karya Robert Lemelson diputar dalam agenda screening di Universitas Dhyana Pura, Rabu (4/3).
Screening film ini digelar oleh Lembaga Tujuh Karakter Universitas Dhyana Pura bekerja sama dengan Program Studi Psikologi dan Elemental Productuon.
Film ini mengangkat kisah hidup Ketut Sudirta, seorang warga Kesiman yang bergulat dengan gangguan mental berat sepanjang hidupnya.
Co-Producer, Nataror sekaligus Etnografer film tersebut, Gus Indra, mengungkapkan ketertarikannya mengangkat kisah Ketut berangkat dari kedekatan personal.
Baca Juga: Parade Ogoh-ogoh dalam Kasanga Fest Digelar Layaknya Pembukaan PKB
“Oh, sebenarnya sederhana sih alasannya ya karena saya dekat dengan adiknya, karena kami satu SD dan satu SMP bahkan satu SMA. Jadi saya itu kenapa sih enggak jauh-jauh nyari subjek? Kenapa harus jauh? Oh, tetangga kita sendiri aja kita bisa teliti kok,” ujarnya.
Ia menjelaskan, riset tentang Ketut sebenarnya sudah dimulai sejak lama oleh pamannya pada 1996.
Kemudian, bersama saudaranya, Putra, proyek itu berlanjut.
Namun karena Putra tidak bisa terlibat dalam produksi film, Gus Indra mengambil alih pengerjaan hingga tuntas.
“Karena Putra tidak bisa ikut dalam film ini akhirnya saya yang melanjutkan film ini. Nah, satu sisi juga keluarga juga, karena saya tempat main saya waktu SD juga di sana jadi saya tahu semua keluarga di sana,” katanya.
Dalam film tersebut digambarkan perjalanan hidup Ketut Sudirta yang penuh dinamika.
Sejak remaja, ia telah bergulat dengan gangguan mental berat yang memengaruhi seluruh fase hidupnya.
Masa dewasanya diwarnai episode ketidakstabilan dan kekerasan.
Ia pernah berkeliaran tanpa arah di jalanan, menyerang saudara tirinya dalam ledakan emosi, mendekam di penjara, hingga dirawat di rumah sakit jiwa.
Dalam berbagai fase itu, Ketut terus mempertanyakan makna keberadaannya.
Namun di balik pergulatan tersebut, Ketut dikenal sebagai pribadi hangat dan penuh kasih.
Baca Juga: Keterlibatan TNI dalam Koperasi Merah Putih Dinilai Proporsional, Percepat Penguatan Ekonomi Desa
Ia tetap menjadi teman setia dan anggota keluarga yang berupaya menjalani hidup dengan makna.
Film ini merekam proses penyembuhan panjang yang ia jalani, termasuk upaya menghadapi serta menebus luka dan kesalahan masa lalunya.
Gus Indra menegaskan dokumentasi dilakukan jauh sebelum tragedi penusukan terhadap kakaknya terjadi.
“Sebelum tragedi penusukan. Jadi kita dari sebelum tragedi penusukan itu baru kita riset di sana gitu. Konsen riset di sana,” jelasnya.
Baca Juga: Wow! Proyek Strategis Belasan Miliar di Pesisir Tasik Madu Buleleng, Targetkan Standar Wisata Dunia
Proses pengambilan gambar berlangsung sejak awal 2000-an.
Gus Indra aktif terlibat sekitar 2006.
Film ini bahkan merekam hingga Ketut meninggal dunia dan prosesi adatnya.
“Sampai kita buatkan juga filmnya tentang dia ngabennya juga terus memukurnya juga sampai melinggihnya juga,” tuturnya.
Gus Indra mengatakan isu kesehatan mental diangkat karena masih adanya stigma di masyarakat Bali terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
“Saya kira itu kadang-kadang kan kalau umpamanya kita berbicara orang yang dengan ODGJ kan banyak yang menyatakan itu aib ya. Tapi mereka tidak tahu sebenarnya apa sih yang membuat mereka seperti itu. Nah, kita kan harus mendalami itu sebenarnya,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan ODGJ tidak bisa semata dilihat dari sisi medis, tetapi juga harus mempertimbangkan faktor budaya dan keluarga.
“Makanya ODGJ itu bukan hanya dari segi medis saja yang harus kita tahu, tapi dari segi budaya dan tentang keluarga juga harus harus kita teliti ya. Kenapa bisa menjadi seperti itu? Kalau saya menurut saya sih seperti itu,” katanya.
Ia menilai masih banyak kasus serupa yang cenderung disembunyikan karena dianggap memalukan.
Baca Juga: Kapolres Gianyar Tinjau Langsung Kesiapan Dapur SPPG Tampaksiring, Pastikan Menu Bergizi untuk Siswa
“Banyak, tapi ya kadang-kadang orang Bali kan selalu menyembunyikan hal itu. Jadi dikatakanlah seperti itu,” ungkapnya.
Praktik pelabelan seperti “kurang melukat” juga kerap muncul di tengah masyarakat.
“Iya, banyak ada yang seperti itu kurang melukat, kurang seperti itu. Ada sih, tapi kan kenapa harus melukat kan itu? itu pertanyaannya. Apa yang membuat harus dia melupakan? Kan kalau saya sih lebih menekankan kepada keluarga sih ya. Bagaimana kita harus menangani orang dengan gangguan jiwa. Pendekatan itu yang paling penting,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pendekatan spiritual yang muncul dalam film, di mana seorang guru spiritual menyebut orang dengan gangguan jiwa membawa rezeki agar masyarakat memberi perhatian.
Baca Juga: FEB Primakara University Gandeng PT Pegadaian, Rai Mantra Ajak Gen Z Melek Investasi Emas Sejak Dini
“Bagaimana seorang guru spiritual itu menekankan bahwa orang gangguan jiwa ini adalah membawa rezeki otomatis ketika kita bicara rezeki otomatis kan orang-orang akan memperhatikan dia,” katanya.
Film The Sacrifice diproduksi dalam tiga bahasa, yakni Bali, Indonesia, dan Inggris.
Lokasi pengambilan gambar dilakukan di Kesiman, tepatnya di rumah Ketut serta di tempat seorang tokoh spiritual.
Film ini telah diputar di sejumlah forum internasional, antara lain di Harvard University dan UCLA University.
Selain itu, film ini menjadi finalis Best Ethnographic Film pada ajang The Orient Film Festival di Australia, serta diputar di Yerusalem, Michigan, dan Jerman.
Gus Indra sendiri berlatar belakang pendidikan sosiologi.
“Oh, saya sosiologi. Tapi saya karena bergaul sama seniman ya seperti itu seniman geng,” ujarnya.
Ia menyebut produksi film dilakukan melalui Elemental Production yang telah menghasilkan sejumlah karya lain.
Baca Juga: Enam Bulan Lagi, Pansus TRAP Lanjutkan Pengawasan Tata Ruang dan Aset Bali
Untuk saat ini, pemutaran masih difokuskan sebagai media pembelajaran di lingkungan perkuliahan.
“Oh, kalau saat ini sih belum ya. Karena kita sasaran kita untuk pembelajaran ya, proses pembelajaran untuk di perkuliahan ya. Ya, itu butuh memang tujuan pertama,” katanya.
Gus Indra (43), yang merupakan asli Kesiman, berharap film ini dapat membuka ruang diskusi lebih luas tentang kesehatan mental di Bali dan mendorong masyarakat agar lebih terbuka dalam memahami serta menangani persoalan tersebut.(***)
Editor : Rika Riyanti