Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hadrah dan Barongsai Akan Berparade pada HUT Ke-422 Kota Singaraja

Dian Suryantini • Jumat, 6 Maret 2026 | 15:58 WIB

Panmpilan musik tradisional Bordah dari Pegayaman yang ditampilkan pada Bulfest 2015
Panmpilan musik tradisional Bordah dari Pegayaman yang ditampilkan pada Bulfest 2015

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 dipastikan tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Pemerintah Kabupaten Buleleng ingin menjadikannya sebagai panggung besar untuk merayakan keberagaman budaya yang telah lama menjadi wajah khas masyarakat Buleleng.

Hal itu disampaikan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dalam kegiatan jumpa pers terkait rangkaian peringatan HUT ke-422 Kota Singaraja, Jumat (6/3). Menurutnya, perayaan tahun ini sengaja dirancang tidak sekadar mengenang sejarah berdirinya kota, tetapi juga menghidupkan kembali semangat persatuan di tengah masyarakat yang beragam.

Singaraja, kata Sutjidra, sejak dahulu dikenal sebagai kota pelabuhan yang terbuka. Karena sifatnya yang terbuka itu, berbagai suku, agama, dan latar budaya datang, menetap, dan kemudian tumbuh bersama. Dari sanalah lahir wajah Buleleng yang plural—tempat masyarakat Hindu, Muslim, Konghucu, serta berbagai etnis hidup berdampingan dengan harmonis.

“Peringatan ini bukan hanya soal ulang tahun kota. Ini juga momentum untuk merayakan keberagaman yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Buleleng,” ujarnya.

Baca Juga: Konjen India Bawa Sinema India Keliling Bali Lewat Program Bioskop Jalan-Jalan

Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam tema perayaan tahun ini, yaitu Bhinneka Shanti Jagadhita. Tema ini mengandung pesan keberagaman yang dijaga dengan damai akan membawa kesejahteraan bagi semua.

Bupati Sutjidra menjelaskan, tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Ia mencerminkan kehidupan masyarakat Buleleng yang selama ratusan tahun mampu menjaga kerukunan di tengah berbagai perbedaan.

Menurutnya, keberagaman bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai kekayaan bersama. Karena itu, melalui perayaan HUT Kota Singaraja tahun ini, pemerintah ingin kembali mengingatkan pentingnya menjaga kedamaian dan keharmonisan.

“Harapannya, masyarakat Buleleng tetap menjunjung tinggi keberagaman dan perbedaan, sambil terus menjaga kedamaian dan keharmonisan menuju kesejahteraan bersama,” katanya.

Rangkaian kegiatan peringatan HUT Kota Singaraja sebenarnya sudah mulai terasa sejak beberapa waktu terakhir. Salah satunya melalui kegiatan jalan sehat yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Warga dari berbagai kalangan—pelajar, pegawai, komunitas hingga masyarakat umum—turut meramaikan kegiatan tersebut.

Selain jalan sehat, sejumlah lomba juga digelar untuk memeriahkan suasana. Kegiatan-kegiatan ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut berpartisipasi secara langsung dalam perayaan ulang tahun kota yang telah berusia lebih dari empat abad itu.

Namun dari sekian banyak agenda yang disiapkan, ada satu kegiatan yang diprediksi menjadi daya tarik utama, yakni Parade Budaya Kecamatan.

Parade ini akan melibatkan seluruh kecamatan di Kabupaten Buleleng. Setiap kecamatan akan menampilkan cerita berbeda yang diangkat dari perjalanan tokoh legendaris Buleleng, Ki Barak Panji Sakti.

Melalui parade tersebut, kisah perjalanan Ki Barak Panji Sakti akan ditampilkan secara berurutan, mulai dari masa kecil hingga perjuangannya dalam membangun Buleleng. Setiap kecamatan akan memvisualisasikan episode perjalanan tokoh tersebut dengan kreativitas masing-masing.

Tidak hanya itu, setiap kecamatan juga diberi ruang untuk menampilkan kekhasan budaya yang mereka miliki. Mulai dari seni tradisional, kesenian daerah, hingga atraksi budaya yang menjadi identitas lokal.

Dengan konsep ini, masyarakat yang menyaksikan parade tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga diajak mengenal kembali sejarah dan kekayaan budaya Buleleng.

Menariknya, parade budaya ini tidak hanya menampilkan kesenian yang bernuansa Hindu seperti yang sering diasosiasikan dengan Bali. Berbagai budaya dari komunitas lain juga akan tampil meramaikan.

Misalnya, kesenian hadrah dari Desa Pegayaman yang mencerminkan tradisi masyarakat Muslim di Buleleng. Selain itu, pertunjukan barongsai dari komunitas Tionghoa juga dijadwalkan ikut memeriahkan parade.

Menurut Sutjidra, kehadiran berbagai kesenian tersebut menjadi gambaran nyata tentang wajah Buleleng yang multikultural.

“Tidak hanya budaya yang bernuansa Hindu, tetapi juga ada budaya Muslim, etnis Tionghoa, seperti hadrah dari Pegayaman maupun barongsai yang akan tampil. Semua budaya yang ada di Buleleng akan kita tampilkan,” jelasnya.

Ia berharap masyarakat dapat melihat secara langsung betapa kayanya kebudayaan yang hidup di Buleleng.

“Melalui parade ini kami ingin menunjukkan bahwa Buleleng sebenarnya sangat kaya budaya,” tambahnya.

Selain kegiatan budaya, pemerintah juga menyisipkan agenda yang berkaitan dengan isu lingkungan. Salah satunya melalui lomba Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS).

Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga. Pemerintah berharap kegiatan ini bisa menjadi langkah kecil namun penting dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Dengan memasukkan isu lingkungan dalam rangkaian perayaan, pemerintah ingin menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan ekonomi dan budaya, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut nantinya akan bermuara pada puncak peringatan HUT ke-422 Kota Singaraja.

Rencananya, acara puncak akan digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno Singaraja. Lokasi ini dipilih karena dinilai mampu menampung masyarakat yang ingin ikut merayakan hari jadi kota.  ***

Editor : Dian Suryantini
#parade #hut kota singaraja #budaya #buleleng