Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gelar Upacara Melasti, Ribuan Umat Hindu Padati Pantai Padanggalak: Sampah Tanggung jawab Desa Adat

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 16 Maret 2026 | 16:21 WIB
Suasana prosesi melasti di Pantai Padang Galak, Denpasar, Senin (16/3). (Agung Bayu/Bali Express)
Suasana prosesi melasti di Pantai Padang Galak, Denpasar, Senin (16/3). (Agung Bayu/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID - Ribuan umat Hindu dari beberapa desa adat di Kota Denpasar menggelar upacara melasti di Pantai Padanggalak, Senin (16/3).

Prosesi upacara ini pun rutin digelar setiap tahunnya menjelang Hari Raya Nyepi.

Namun di tahun ini, saat prosesi melasti desa adat diminta mempertanggungjawabkan sampah yang dihasilkan setelah upacara.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa dan Wabup Bagus Alit Sucipta Ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Ajak Jaga Toleransi dan Kondusifitas

Bendesa Adat Penatih Puri, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya mengatakan, saat prosesi melasti ini ada sekitar 600 krama yang mengikuti.

Prosesi upacara yang diikuti warga dari tiga banjar yakni Banjar Saba, Banjar Laplap, dan Banjar Pelagan ini dimulai dari pukul 04.00 Wita.

Ia pun mengaku, saat ini dalam perjalanan menuju Pantai Padang Galak sudah tidak berjalan kaki lagi.

Baca Juga: Antisipasi Kemacetan Mudik Lebaran, Truk Tronton Ditahan Dua Hari di Terminal Mengwi

“Kalau dulu kami berjalan kaki. Sekarang semua menggunakan kendaraan sehingga di jalan kami memastikan keselamatan serta tidak membuat kemacetan,” ujar Marhaendra Jaya.

Usai melasti, prosesi akan dilanjutkan di Beji atau sumber mata air yang ada di desa adat.

Keesokan harinya akan dilaksanakan prosesi penganyar, kemudian di hari pengerupukan, dilakukan prosesi meprani dan tawur agung kesanga.

Baca Juga: Koster Tinjau Dampak Banjir di Buleleng, Salurkan Bantuan Rp1,26 Miliar dan Dorong Pemulihan Sekolah

"Meprani itu istilahnya kita mengucap syukur atas karunia Dewata. Dari niskala kita merasa bersyukur, kita terima kasih. Dari sekala kita bisa berkumpul sesama warga ikut merasakan rejeki dari masing-masing yang kita punya. Kita berbagi. Artinya saling tukar lah apa yang kita punya," paparnya.

Marhaendra Jaya menerangkan, selama prosesi melasti sampah yang dihasilkan pun menjadi tanggungjawab dari masing-masing desa adat.

Hal ini juga telah menjadi kesepakatan Paruman Bendesa se-Kota Denpasar.

Hasil paruman tersebut seluruh sampah sehabis melasti harus dibersihkan tanpa terkecuali.

“Seluas area yang digunakan melasti, untuk sampahnya jadi tanggung jawab masing-masing desa adat untuk membersihkan,” jelasnya.

Hal senada pun diungkapkan oleh Bendesa Adat Tembau, I Nyoman Sudana. dirinya, mengaku menyiapkan kantong sampah dalam pelaksanaan upakara melasti.

Sampah yang telah dibersihkan dan dimasukkan dalam kantong, menurutnya nantinya akan diambil petugas DLHK Denpasar.

"Karena itu sudah jadi keputusan Paruman Bendesa, setelah melasti, sampah-sampahnya harus dibersihkan," terang Sudana.

Sementara terkait prosesi melasti, ia menyebutkan, diikuti kurang lebih 800 orang krama.

Usai prosesi melasti, semua pralingga akan dibawa ke Pura Bale Agung. Keesokan harinya akan dilaksanakan prosesi meprani pada pukul 08.00 Wita. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#Pantai Padang Galak #nyepi #desa adat #melasti #sampah