BALIEXPRESS.ID - Pasca Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, harga kebutuhan pokok di Kabupaten Badung mengalami penurunan.
Perubahan harga ini diperkirakan terjadi akibat kelancaran suplai bahan ke pasar dan cuaca yang mendukung.
Berdasarkan data pada Rabu (25/3), harga beras premium turun dari Rp 16 ribu menjadi Rp 15.800 per Kg.
Baca Juga: Wacana WFH untuk Hemat BBM, Pemkab Badung Tunggu Instruksi Resmi
Minyak goreng curah juga turun dari Rp 20 ribu menjadi Rp 19.500 per liter.
Kemudian harga daging ayam ras menurun dari Rp 45 ribu menjadi Rp 43 ribu per Kg, dan telur ayam ras turun dari Rp 30.400 per Kg menjadi Rp 26.800 per Kg.
Bahan kebutuhan pokok lainnya yang juga mengalami penurunan harga, yakni cabai rawit, cabai rawit hijau, dan bawang merah dari harga masing-masing Rp 45 ribu menjadi Rp 43 ribu Kg.
Baca Juga: Siap-siap! Tahapan Pilkel Serentak 22 Desa di Klungkung Dimulai Mei 2026
Untuk daging babi tercatat berada di kisaran Rp 75 ribu per Kg dari sebelumnya Rp 80 ribu per Kg.
Hanya saja ada sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan harga. seperti minyak goreng kemasan naik dari Rp 19 ribu menjadi Rp 20 ribu per liter.
Harga cabai merah besar dan cabai merah keriting meningkat dari Rp 45 ribu menjadi Rp 50 ribu per Kg.
Baca Juga: Pentingnya Peran Aparat Tingkat Bawah Pantau Penduduk Pendatang di Bangli
Terakhir harga bawang putih meningkat dari Rp 35 ribu menjadi Rp 40 ribu per Kg.
Kabag Ekonomi Setda Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati mengatakan, sejumlah upaya terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga.
Upaya tersebut meliputi pemantauan pasar secara rutin, pengawasan distributor, hingga memperkuat kerja sama antar daerah.
Hanya saja ada faktor lain yang menyebabkan adanya kenaikan maupun penurunan harga kebutuhan pokok.
"Kenaikan harga cabai dipicu melandainya pasokan akibat faktor cuaca yang meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pasokan cabai Bali berasal dari Karangasem, Bangli, Buleleng, serta Banyuwangi dan Jember," ujar Rosyawati.
Pihaknya menyebutkan, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan.
Selain itu ada juga faktor terbatasnya pasokan DOC dan distribusi ayam dari Jawa ke Bali.
"Kami rutin menyampaikan laporan harian kepada TPID Provinsi Bali, kepada Kementerian Perdagangan melalui SP2KP, serta kepada Inspektorat untuk diteruskan ke Itjen Kemendagri," paparnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga