Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sekolah Kerap Kebanjiran, Mahasiswa Unmas Bantu Buatkan Lubang Biopori di SDN 1 Batuan Kaler

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 29 Maret 2026 | 17:25 WIB
BIOPORI : Proses pembuatan lubang biopori oleh Mahasiswa Unmas Denpasar di SDN 1 Batuan Kaler.
BIOPORI : Proses pembuatan lubang biopori oleh Mahasiswa Unmas Denpasar di SDN 1 Batuan Kaler.

BALIEXPRESS. ID– Membantu mengatasi kebanjiran yang sering dialami oleh SDN 1 Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, mahasiswa dan dosen dari Universitas Mahasaraswati Denpasar melakukan kegiatan pengabdian masyarakat dengan pembuatan lubang resapan biopori di halaman sekolah.

Berdasarkan hasil observasi lapangan di Sekolah Dasar Negeri 1 Batuan Kaler, beberapa titik di halaman sekolah dan akses masuk ruang kelas mengalami genangan setiap kali hujan turun.


Berdasarkan hasil analisis situasi tersebut, mahasiswa Universitas Mahasaraswati bersama dosen pembimbing yaitu Dr. I Nyoman Resa Adhika, S.E., M.M. melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Sekolah Dasar Negeri 1 Batuan Kaler.

"Langkah pembuatan biopori dimulai dengan memilih lokasi yang sering tergenang dan aman dari fondasi bangunan, kemudian menandai titik titik yang akan dibuat lubang, lubang biopori dibuat sebanyak tiga titik. Setelah itu tim membawa bor tanah manual, sekop, meteran, dan mengumpulkan bahan organik seperti sisa sayur, daun kering, serta kulit buah," paparnya, Minggu (29/3).

Baca Juga: Mahasiswa Jepang dan Undiksha Perkuat Literasi Lintas Budaya di PLS
Pada tiap titik, tanah dibor dan menggali lubang tegak dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman 80 cm, memastikan dinding lubang rapi agar tidak runtuh.


“Biopori digunakan sebagai lubang resapan yang berfungsi menampung dan mempercepat masuknya air hujan ke dalam tanah, sehingga genangan di permukaan berkurang dan tanah menjadi lebih gembur, kita mengisi lubang dengan sisa sayur, daun kering, dan kulit buah secara berkala, bahan organik tersebut akan terurai oleh mikroba sehingga memperbaiki struktur tanah di sekitarnya, " imbuh Nyoman Resa. 


Setiap lubang diberi penutup berlubang atau tanah gembur untuk mencegah masuknya sampah non organik, pengisian dilakukan setiap dua sampai empat minggu tergantung ketersediaan bahan, dan lubang yang penuh dibiarkan beberapa waktu sebelum sebagian kompos diambil untuk digunakan pada tanaman sekolah.


Pemanfaatan kompos hasil biopori dilakukan untuk pemupukan tanaman di pekarangan dan pot sekolah, guru dan petugas kebersihan bersama siswa mencatat lokasi lubang dan jadwal pemeliharaan agar tidak terjadi kelalaian. Pemeriksaan rutin juga dilakukan untuk memastikan tidak ada penyumbatan dan air tetap meresap.


Dengan demikian biopori tidak hanya mengatasi masalah genangan dan mengurangi potensi vektor penyakit, tetapi juga menjadi sumber bahan organik untuk penghijauan, sekaligus sarana edukasi praktis tentang pengelolaan sampah dan siklus nutrisi tanah bagi seluruh warga sekolah.


Sementara itu, Kepala SDN 1 Batuan Kaler Ibu Ni Ketut Ratnadi S.Pd. menyatakan sampah organik yang dihasilkan dari lingkungan sekolah selama ini hanya dikumpulkan lalu dibuang tanpa diolah lebih lanjut padahal semestinya sampah tersebut dapat diolah kembali menjadi kompos. Pengolahan tersebut dapat dilakukan dengan metode sederhana seperti pembuatan lubang biopori skala kecil di lingkungan sekolah. Dengan pengelolaan yang teratur, sekolah dapat mengurangi biaya pengangkutan sampah dan memperoleh kompos untuk pemeliharaan tanaman.


Biopori adalah lubang kecil berbentuk silinder yang dibuat tegak ke dalam tanah untuk mempercepat meresapnya air hujan dan memperbaiki sirkulasi udara di dalam tanah. Selain mengurangi genangan di permukaan, biopori juga dimanfaatkan dengan memasukkan sampah organik seperti sisa sayur dan daun kering sehingga bahan tersebut diuraikan oleh organisme tanah menjadi kompos alami, sehingga volume sampah berkurang dan tanah menjadi lebih gembur serta subur. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#biopori #disdik gianyar #banjir