Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Panjang Ki Barak Panji Sakti Hidup Kembali di Parade Budaya

Dian Suryantini • Senin, 30 Maret 2026 | 13:55 WIB

 

Penampilan Sanggar Seni Manik Utara dalam Parade Budaya Kecamatan di Kabupaten Buleleng.
Penampilan Sanggar Seni Manik Utara dalam Parade Budaya Kecamatan di Kabupaten Buleleng.

SINGARAJA, BALI EXPRESS — Sejarah panjang Buleleng kembali dihidupkan melalui parade budaya yang memikat ribuan pasang mata di Kota Singaraja. Kisah kepahlawanan Anglurah Ki Barak Panji Sakti dirangkai secara dramatik, dituturkan dari satu kecamatan ke kecamatan lain, menjadi sebuah alur cerita yang utuh, hidup, dan menggugah.

Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, menyebut parade ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Sebuah upaya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap tokoh penting dalam sejarah berdirinya Buleleng.

“Terima kasih kepada 9 kecamatan yang telah berupaya menghidupkan kembali ingatan sejarah dalam parada ini,” ujarnya, Senin (30/3). 

Parade diawali dengan barisan pembuka dari Sanggar Seni Manik Utara yang mengangkat tema keberagaman etnis di Kabupaten Buleleng. Garapan ini menjadi simbol bahwa Buleleng sejak dahulu telah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, yang hidup berdampingan dalam harmoni.

Setelah itu, sembilan kecamatan tampil bergantian, masing-masing mengemban satu fragmen kisah perjalanan hidup Ki Barak Panji Sakti.

Kecamatan Gerokgak membuka rangkaian cerita dengan mengangkat tema kelahiran Ki Barak Panji Sakti. Visualisasi yang ditampilkan sarat makna, menggambarkan awal mula lahirnya sosok yang kelak menjadi pemimpin besar di tanah Buleleng.

Cerita berlanjut ke Kecamatan Tejakula yang menampilkan fase kehidupan awal Ki Barak Panji Sakti. Dalam garapan ini, penonton diajak menyelami perjalanan hidupnya yang penuh pembelajaran dan pembentukan karakter.

Dari Tejakula, kisah mengalir ke Kecamatan Busungbiu. Di sini, ditampilkan momen penting saat Ki Barak Panji diutus ke Denbukit. Episode ini menggambarkan kepercayaan besar yang mulai diberikan kepadanya.

Kecamatan Kubutambahan kemudian mengangkat kisah pertemuan Ki Barak Panji dengan Panji Landung. Pertemuan ini menjadi titik balik yang memperkuat perjalanan hidupnya menuju sosok yang tangguh dan berpengaruh.

Memasuki bagian yang lebih dramatis, Kecamatan Seririt menghadirkan cerita penyelamatan kapal karam milik saudagar Cina. Aksi heroik ini tidak hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga nilai kemanusiaan yang tinggi. 

Rangkaian cerita kemudian sampai pada puncaknya di Kecamatan Banjar, yang menggambarkan penobatan Ki Barak Panji Sakti sebagai raja Buleleng. Adegan ini menjadi klimaks yang disambut antusias oleh penonton.

Namun kisah belum usai. Kecamatan Sukasada membawa penonton pada strategi perang legendaris Megoak-goakan, sebuah taktik yang digunakan sebelum penyerangan ke Blambangan. Garapan ini menonjolkan kecerdikan dan strategi perang yang khas dari Buleleng.

Sebagai penutup, Kecamatan Sawan menyuguhkan kisah yang sarat emosi yakni gugurnya Pangeran Danudrestha, putra tunggal Ki Barak Panji Sakti. Episode ini menjadi penutup yang kuat, meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.

Parade budaya ini mengambil rute dari Taman Kota Singaraja, melintasi Jalan Ngurah Rai, berlanjut ke Jalan Ahmad Yani, hingga berakhir di Terminal Banyuasri. Sepanjang jalur tersebut, masyarakat tampak memadati sisi jalan, antusias menyaksikan iring-iringan seniman dengan kostum yang merepresentasikan setiap episode cerita.

Sorak tepuk tangan, decak kagum, hingga ekspresi haru menjadi bukti bahwa parade ini berhasil menyentuh emosi publik. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi sejarah yang dikemas secara kreatif.

Melalui parade ini, Buleleng seolah menegaskan kembali identitasnya. Bahwa sejarah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dihidupkan—dituturkan ulang dari generasi ke generasi, dengan cara yang relevan dan membumi. ***

 

Editor : Dian Suryantini
#Ki Barak Panji Sakti #parade budaya #Taman Kota Singaraja #buleleng