Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Buleleng Resmi Punya Perpustakaan Komunitas

Dian Suryantini • 2026-03-31 12:16:48
Perpustakaan Komunitas Mahima di Buleleng sudah resmi dibuka untuk umum.
Perpustakaan Komunitas Mahima di Buleleng sudah resmi dibuka untuk umum.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Buleleng kini memiliki perpustakaan komunitas. Perpustakaan itu berlokasi di Pantai Indah III No. 46, Desa Baktiseraga, Buleleng. Buku-buku yang ada di perpustakaan merupakan koleksi dari Komunitas Mahima yang kini bisa diakses dan dibaca secara gratis. Dengan koleksi seribu lebih buku, Perpustakaan Mahima resmi dibuka Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, (31/3) pagi. 

Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, melihat perpustakaan lebih dari sekadar tempat arsip. Baginya, perpustakaan adalah cara sebuah daerah berbicara kepada masa depan.

“Perpustakaan bukan hanya arsip surat-surat saja, tapi bisa merekam kejadian-kejadian yang terjadi. Mengabadikan peristiwa-peristiwa yang pernah dilakukan,” ujarnya.

Menurut Supriatna, di balik setiap arsip, ada cerita. Di balik setiap catatan, ada kehidupan yang pernah berlangsung—tentang orang-orang, tentang jalan yang dibangun, tentang kebudayaan yang diwariskan, bahkan tentang hal-hal kecil yang sering luput dari ingatan.

Ia menegaskan, penting bagi sebuah wilayah untuk memiliki jejak yang rapi dan terjaga. Sebab tanpa catatan, sejarah hanya akan menjadi kabut—terasa ada, tetapi sulit disentuh.

“Sehingga semua perjalanan kita atau wilayah itu tercatat, terdata, dan dapat diingat oleh generasi-generasi berikutnya,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia berharap perpustakaan bisa menjelma menjadi pusat data yang hidup. Bukan sekadar tempat mencari buku, tetapi juga ruang rujukan bagi siapa saja yang ingin memahami cerita sebuah daerah.

“Apapun yang dibutuhkan tentang cerita, peristiwa, sejarah, bahkan catatan sekecil apapun bisa datang ke perpustakaan,” katanya.

Harapan itu tidak berdiri sendiri. Ia menemukan gaungnya pada inisiatif kecil yang tumbuh dari masyarakat. Salah satunya adalah perpustakaan komunitas yang digagas oleh Komunitas Mahima.

Di tangan komunitas ini, perpustakaan hadir dengan wajah yang lebih hangat. Tidak kaku, tidak berjarak. Rak-raknya mungkin sederhana, tetapi semangat berbagi yang mengisinya terasa luas.

Pendiri Perpustakaan Mahima, Made Adnyana yang akrab disapa Ole, menyebut bahwa buku-buku yang tersedia berasal dari koleksi pribadi dan juga komunitas. Buku-buku itu dulunya mungkin hanya dinikmati sendiri, kini berubah menjadi jendela yang terbuka untuk siapa saja.

“Kami ingin berbagi pengetahuan melalui perpustakaan yang kami bentuk. Siapapun bisa datang dengan gratis,” ujarnya.

Ada ketulusan dalam kalimat itu. Sebuah keyakinan bahwa pengetahuan tidak seharusnya disimpan sendiri, melainkan dibagikan—agar tumbuh, berkembang, dan melahirkan cara pandang baru.

Bagi Gede Supriatna, kehadiran perpustakaan komunitas seperti Mahima adalah harapan segar. Ia melihat peluang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk saling menguatkan.

Sinergi itu, menurutnya, penting agar literasi tidak berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat.

Dengan dibukanya perpustakaan komunitas, literasi pun menemukan ruangnya yang lebih luas. Membaca tidak lagi sekadar mengeja kata, tetapi juga melatih cara berpikir—mengasah analisis, mempertajam nalar, dan menumbuhkan sikap kritis. ***

 

Editor : Dian Suryantini
#buku #komunitas #perpustakaan #buleleng #masa depan