“LULUWIH” lahir dari gagasan sederhana, yakni bagaimana sesuatu yang dianggap “lulu” atau tidak berguna dapat diolah menjadi “luwih” atau lebih bernilai. Konsep ini kemudian diterjemahkan secara artistik melalui kreativitas anak-anak yang mampu menyulap benda-benda sederhana menjadi media seni pertunjukan.
Karya ini dipersembahkan oleh Gugus Sayan, Kecamatan Ubud, sebagai bagian dari upaya menghadirkan seni edukatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan moral bagi penonton, khususnya generasi muda.
Baca Juga: 545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu
Dalam pertunjukan ini, anak-anak memanfaatkan berbagai material bekas, alat kebersihan, serta ritme tubuh sebagai sumber bunyi dan gerak. Dari sapu, ember, galon, hingga barang-barang yang kerap dianggap sampah, semuanya diolah menjadi komposisi artistik yang harmonis dan menarik.
Melalui pendekatan tersebut, “LULUWIH” mengajak penonton untuk melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan. Sampah yang selama ini dipandang sebagai akhir dari sebuah siklus, justru dihadirkan sebagai awal dari kreativitas baru.
Konseptor dan penata karya, Felix Kaples, berhasil meramu ide ini menjadi sebuah pertunjukan yang tidak hanya estetis, tetapi juga edukatif. "Kami menghadirkan pengalaman teater yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus relevan dengan isu global tentang pengelolaan sampah, " ungkap Felix.
Tidak hanya itu, karya ini juga mendapat dukungan penuh dari para pembina, yakni Pande Kadek Leo Andika Putra, I Kadek Wira Surya Adnyana, Sayu Putu Astriningsih, dan Ni Made Sanggreni, yang bersama para guru serta komite se-Gugus Sayan turut membimbing proses kreatif para siswa.
"Kolaborasi antara siswa, guru, dan komite sekolah menjadi kekuatan utama dalam pementasan ini. Proses yang dilalui tidak hanya melatih kemampuan seni, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong sejak dini, " imbuhnya.
“LULUWIH” juga menghadirkan pesan kuat tentang disiplin dan tanggung jawab. Setiap elemen pertunjukan disusun melalui proses latihan yang konsisten, sehingga menghasilkan performa yang tertata dan penuh energi.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, karya ini menjadi media pembelajaran kontekstual yang mengajarkan anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka diajak memahami bahwa setiap benda memiliki potensi nilai jika dikelola dengan baik.
Sementara itu, Pj Perbekel Sayan, Jro Mangku Gde Kesumawijaya, menegaskan bahwa pementasan ini merupakan bagian dari inovasi pendidikan yang mengintegrasikan seni dan pembelajaran karakter.
Pihaknya juga memberikan apresiasi tinggi terhadap pementasan tersebut. Ia menilai “LULUWIH” sebagai karya yang berbeda dari pertunjukan pada umumnya.
Menurutnya, pemanfaatan barang-barang yang ada di sekitar menjadi kekuatan utama yang menjadikan pertunjukan ini unik dan inspiratif. "Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan fasilitas mewah, " ucapnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai wadah bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Melalui “LULUWIH”, Gugus Sayan tidak hanya menghadirkan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam bahwa dari hal-hal sederhana dan sering terabaikan, dapat lahir sesuatu yang lebih bernilai, bermakna, dan berdampak bagi kehidupan.*
Editor : Putu Agus Adegrantika