Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kemenag Gianyar Gelar Pembinaan Serati Banten di Desa Adat Bayad, Desa Melinggih, Payangan

Putu Agus Adegrantika • Senin, 6 April 2026 | 22:42 WIB
PEMBINAAN : Pembinaan serati banten di Desa Adat Bayad, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan.
PEMBINAAN : Pembinaan serati banten di Desa Adat Bayad, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan.

BALIEXPRESS.ID– Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, I Ketut Wintenaya, menegaskan pentingnya pemahaman mendalam terhadap Sesananing Serati Banten dalam memperkuat kualitas pelaksanaan upacara keagamaan di masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan pembinaan keagamaan yang digelar di Desa Adat Bayad, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, Minggu (5/4) sore.

Kegiatan pembinaan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari prajuru adat, prajuru dinas, hingga para serati banten yang memiliki peran penting dalam penyelenggaraan upacara yadnya. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga kelestarian tradisi sekaligus meningkatkan pemahaman spiritual umat.

Dalam pemaparannya, I Ketut Wintenaya menjelaskan bahwa Sesananing Serati Banten bukan sekadar teknis pembuatan sarana upacara, melainkan pedoman yang sarat nilai filosofis. Di dalamnya terkandung ajaran tattwa (kebenaran), susila (etika), dan acara (tata pelaksanaan) yang harus dipahami secara utuh oleh para serati banten.

Baca Juga: Niat Menolong Berujung Duka, Korban Terseret Arus di Pantai Purnama Ditemukan di Pantai Saba

Menurutnya, pemahaman yang benar akan mencegah terjadinya kekeliruan dalam pembuatan banten serta memastikan setiap sarana upacara memiliki makna spiritual yang sesuai dengan ajaran Hindu. "Dengan demikian, yadnya yang dilaksanakan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memiliki nilai kesucian yang mendalam, " paparnya.

Selain itu, pembinaan juga mengangkat makna Bagia Pula Kerti sebagai bagian penting dalam kehidupan beragama. Konsep ini dijelaskan sebagai simbol keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan, yang diwujudkan melalui pelaksanaan yadnya secara tulus dan penuh kesadaran.

I Ketut Wintenaya menambahkan bahwa Bagia Pula Kerti menjadi pengingat bagi umat untuk tidak hanya fokus pada bentuk upacara, tetapi juga pada niat suci di baliknya. "Ketulusan hati dan kesadaran spiritual menjadi kunci utama dalam mencapai keseimbangan hidup sesuai ajaran dharma, " imbuh Wintenaya.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mereka terhadap filosofi dan tata cara pembuatan banten. Hal ini penting agar setiap pelaksanaan upacara di Desa Adat Bayad dapat berjalan dengan tertib, sesuai aturan, serta tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan leluhur.

Pembinaan ini sekaligus menjadi upaya berkelanjutan Kementerian Agama Kabupaten Gianyar dalam memperkuat kualitas kehidupan beragama di masyarakat. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan tradisi dan ajaran Hindu dapat terus dilestarikan secara benar dan bermakna di tengah perkembangan zaman.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#pelatihan serati #Dirjen Bimas Hindu #Kemenag Gianyar