Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kendalikan Hama Tikus, Desa Bongkasa Lepas Liarkan Burung Hantu

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 8 April 2026 | 16:57 WIB
Pelepasan burung hantu sebagai upaya pengendalian hama tikus di jaba Pura Dalem Wantilan Bongkasa, Kecamatan Abiansemal. (Istimewa)
Pelepasan burung hantu sebagai upaya pengendalian hama tikus di jaba Pura Dalem Wantilan Bongkasa, Kecamatan Abiansemal. (Istimewa)

BALIEXPRESS.ID - Desa Bongkasa di Kecamatan Abiansemal, kini memperkuat pengendalian hama tikus di area persawahan.
Hal ini dibuktikan dengan pelepasan burung hantu jenis Tyto alba sebagai predator alami.

Program ini pun diharapkan menjadi langkah nyata mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

Baca Juga: Diduga Hindari Mobil Nyebrang Mendadak, Truk Pengangkut Es Kristal Terguling di Jalan Bypass Dharma Giri

Kegiatan pelepasan burung hantu dilaksanakan di jaba Pura Dalem Wantilan Bongkasa dan diprakarsai oleh Alam Bambu milik penggiat lingkungan John Hardy bersama Owl Tower Bali Foundation.

Program tersebut pun melibatkan Pemerintah Desa Bongkasa, desa adat, serta unsur subak sebagai garda terdepan pengelolaan pertanian tradisional.

Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa mengatakan, penggunaan burung hantu jenis Tyto alba ini merupakan solusi ekologis yang telah melalui kajian lapangan.

Baca Juga: Tujuh Duta Kecamatan Meriahkan Parade Bapang Barong di Gianyar

“Burung hantu jenis Tyto alba ini sudah dilatih khusus untuk memangsa tikus. Berdasarkan hasil survei, keberadaannya sangat efektif membantu menekan populasi hama di area persawahan,” ujar Arimbawa, Rabu (8/4).

Pihaknya menyebutkan, efektivitas burung hantu tidak ditentukan oleh jumlah individu yang dilepas.

Hal ini mengacu kepada keseimbangan antara populasi tikus dan luas lahan pertanian.

Baca Juga: Makna Mendalam Hari Suci Pagerwesi, Memagari Diri dengan Ilmu dan Spiritualitas

Seekor Tyto alba diperkirakan mampu mengendalikan hama pada area sekitar tiga hingga empat hektare sawah.

Program ini pun diharapkan dapat menjadi model pengendalian hama berkelanjutan yang dapat direplikasi di subak lain, khususnya wilayah yang rawan serangan hama tikus.

Arimbawa juga menerangkan, selain aspek ekologis, keberadaan burung hantu juga memiliki dimensi kultural di Bali.

Di sejumlah wilayah, seperti Desa Bongkasa ini, burung ini bahkan disakralkan sebagai duwe Pura Dalem karena secara alami hidup di kawasan pura yang memiliki banyak pepohonan besar.

“Karena sudah dianggap duwe, masyarakat tidak berani menangkap ataupun mengganggu. Justru keberadaannya dijaga bersama sebagai bagian dari pelestarian alam,” jelasnya.

Lebih lanjut, dirinya berharap Desa Adat Bongkasa dapat menyusun aturan adat atau pararem guna melindungi burung hantu tersebur.

Sehingga kedepannya keberlanjutan program pengendalian hama berbasis ekologi ini dapat terjaga dalam jangka panjang. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#hama tikus #burung hantu #Bongkasa