SINGARAJA, BALI EXPRESS - Museum sering kali identik dengan ruang sunyi dan deretan benda lama yang hanya dipandang sekilas. Sementara wayang kerap dianggap sebagai seni tradisi yang jauh dari kehidupan generasi muda. Namun di Buleleng, dua hal itu justru dipertemukan dalam satu gagasan lewat Festival Wayang Bali Utara. Festival ini, menghidupkan kembali fungsi museum sekaligus menghadirkan wayang sebagai media yang lebih relevan dan dekat.
Melalui diskusi dan rangkaian kegiatan budaya, wayang tidak lagi ditempatkan sebagai sebuah tontonan, tetapi sebagai sarana edukasi dan pembentuk karakter. Di saat yang sama, museum didorong untuk bertransformasi menjadi ruang aktif, tempat belajar, berdialog, dan berkreasi. Dari sinilah muncul upaya baru untuk menjadikan museum dan wayang sebagai bagian hidup masyarakat, bukan lagi sebagai warisan yang disimpan.
Bagi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Surya Beratha, wayang memiliki posisi yang sangat strategis dalam dunia pendidikan. Ia melihat wayang bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang kuat.
“Wayang ini salah satu media edukasi. Kita harus melihatnya sebagai warisan yang perlu dikembangkan,” ujarnya, Jumat (10/4) saat menjadi narasumber dalam diskusi Wayang dan Pemanfaatan Museum di Festival Wayang Bali Utara.
Ia menekankan bahwa wayang tidak harus selalu tampil dalam bentuk klasik. Dengan perkembangan teknologi saat ini, wayang justru memiliki peluang besar untuk bertransformasi. Digitalisasi, animasi, hingga pertunjukan berbasis multimedia bisa menjadi pintu masuk baru bagi generasi muda untuk mengenal wayang.
Lebih dari itu, wayang juga berperan dalam pembentukan karakter. Cerita-cerita yang dibawakan tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga nilai moral, etika, dan cara berpikir. Dalam setiap dialog, terselip kritik, nasihat, hingga refleksi tentang kehidupan.
Di sisi lain, pembahasan tentang museum membuka perspektif yang tak kalah penting. Selama ini, museum sering kali dipersepsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda lama yang hanya dilihat sepintas lalu. Namun, pandangan itu perlahan mulai berubah.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, menegaskan bahwa museum harus diaktivasi. Tidak cukup hanya menjaga dan melindungi koleksi, museum harus mampu bercerita.
“Museum itu bukan sekadar tempat penyimpanan. Harus menjadi ruang hidup, tempat orang bisa belajar dan memahami makna dari apa yang disimpan di dalamnya,” jelasnya.
Menurutnya, banyak aktivitas yang bisa dilakukan di museum. Diskusi, workshop, pertunjukan seni, hingga kolaborasi kreatif bisa menjadi cara untuk menarik masyarakat datang dan berinteraksi. Dengan begitu, museum tidak lagi terasa jauh, tetapi justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengakui bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Keterlibatan komunitas, seniman, akademisi, hingga masyarakat umum menjadi kunci dalam menghidupkan museum.
Sejarawan dari Undiksha, I Made Pageh, membawa diskusi ini lebih dalam ke akar sejarah Buleleng. Ia mengingatkan bahwa kawasan ini bukan tempat biasa. Pada tahun 1888, Buleleng ditetapkan sebagai ibu kota Residen Bali dan Lombok oleh pemerintah kolonial Belanda.
Semua aktivitas pemerintahan terpusat di sini. Bahkan, pelabuhan Buleleng menjadi pintu utama keluar masuknya barang dan orang dari dan ke Bali.
Bangunan-bangunan yang kini menjadi bagian dari kawasan museum memiliki sejarah panjang. Salah satunya adalah bekas kantor KPM—perusahaan pelayaran Belanda. Tempat itu pernah menjadi pusat perdagangan laut, lalu berubah fungsi menjadi ruang sosial, bahkan tempat hiburan pada masanya.
“Museum Sunda Kecil ini sebelumnya pernah jadi macam-macam. Awal jadi kantor KPM lalu kantor Sosialita. Kemudian seiring waktu dimanfaatkan sebagai kantor pemerintahan. Setelah beberapa lama baru jadi museum dengan nama Sunda Kecil,” terangnya.
Karena itu, menurut Pageh, museum yang ada saat ini tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Museum harus dirancang sebagai museum tematik yang mampu menyampaikan cerita secara utuh.
Salah satu contoh adalah museum yang didedikasikan untuk mengenang Gubernur Pertama Sunda Kecil, MR. Gusti Ketut Pudja. Menariknya, museum ini tidak menyimpan benda asli milik tokoh tersebut, melainkan dirancang berbasis konsep digital.
“Harusnya museum dilengkapi teknologi digital. Ada data yang bisa diakses, ada miniatur, ada visualisasi. Supaya pengunjung tidak merasa kosong,” jelasnya.
Dengan pendekatan seperti itu, museum bisa menjadi ruang belajar yang lebih menarik, terutama bagi siswa.
Apalagi, Buleleng sendiri sedang didorong sebagai kota pendidikan. Kehadiran museum yang interaktif tentu menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut.
Sementara itu, wartawan senior sekaligus budayawan Made Adnyana Ole melihat museum dari sudut yang lebih reflektif. Baginya, museum adalah ingatan yang dibekukan.
Di dalamnya, tersimpan pengetahuan, cerita, dan jejak masa lalu yang tidak boleh hilang. Namun, ia mengingatkan bahwa museum tidak bisa berdiri sendiri sebagai pusat pengetahuan jika pengunjung datang tanpa bekal.
“Siswa harus punya pengetahuan awal. Supaya ketika masuk museum, rasa ingin tahunya terbangun,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa museum bisa menjadi identitas dan kebanggaan daerah. Namun, untuk mencapai itu, perlu ada strategi yang tepat dalam mengelolanya.
Bahkan, ia menawarkan ide yang tak biasa. Ole menawarkan untuk menjadikan museum sebagai bagian dari aktivitas olahraga. Misalnya, rute lari yang dimulai dari museum dan berakhir di tempat lain yang memiliki nilai sejarah.
“Kegiatan run yang sangat kalcer itu bisa mengambil lokasi-lokasi museum. Start di museum Sunda Kecil misalna, finishnya di Gedong Kirtya. Jadinya sehat dapat, pengetahuan juga dapat. Minimal tahu saja dulu sebelum tahu isinya,” kata dia.
Terkait wayang, Made Adnyana Ole punya pandangan yang menarik. Ia menilai bahwa salah satu cara membuat wayang tetap hidup adalah dengan mendekatkannya ke kehidupan sehari-hari.
“Kenapa tidak dibuat dalam bentuk yang sederhana? Misalnya balon bergambar tokoh wayang, atau kaos dengan desain wayang. Seperti yang dilakukan Upin Ipin itu. Dengan cara itu, wayang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sesuatu yang dimiliki,” kata dia.
Ide-ide dari para tokoh itu mengalir dengan mulus dalam Festival Wayang Bali Utara. Festival ini digelar selama tiga hari di Museum Sunda Kecil, dengan menghadirkan berbagai kegiatan. Mulai dari diskusi, workshop, hingga pementasan wayang.
Di balik festival ini, ada keresahan sekaligus harapan. Direktur festival, I Putu Ardiyasa, mengungkapkan bahwa ide ini muncul dari pengalamannya saat mengunjungi museum tersebut.
“Banyak pengunjung, tapi rasanya ada yang kurang,” ujarnya.
Kekurangan itu bukan pada jumlah orang, tetapi pada pengalaman yang dirasakan. Museum terasa belum sepenuhnya hidup. Karena itu, ia menawarkan satu pendekatan untuk mengaktivasi museum melalui wayang.
Wayang dipilih bukan tanpa alasan. Menurutnya, wayang adalah seni yang sangat dinamis. Wayang telah ada selama ribuan tahun dan terus bertahan karena mampu beradaptasi dengan zaman.
“Wayang itu selalu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Di Bali Utara, wayang bahkan memiliki keunikan tersendiri. Ukurannya cenderung lebih besar, dengan motif yang terinspirasi dari ukiran khas Buleleng. Gaya pementasannya pun lebih dinamis, dengan konflik yang kuat dalam setiap adegan.
Tidak hanya itu, kehidupan para dalang di Buleleng juga menarik. Mereka tidak hanya tampil dalam konteks ritual, tetapi juga dalam pertunjukan kontemporer. Mereka mampu menyerap pengaruh luar, tanpa kehilangan identitas.
Ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu kaku, selama tetap berpijak pada akar. Festival ini juga membawa misi yang lebih besar, yakni mendata para dalang.
Langkah ini dianggap penting untuk menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada pelaku seni tradisi. Data tersebut nantinya bisa menjadi dasar untuk memasukkan wayang ke dalam kurikulum pendidikan lokal. Dengan begitu, wayang tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga di ruang kelas.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menghadirkan berbagai agenda menarik. Ada workshop pembuatan wayang, lukisan wayang kaca, hingga tur museum. Pengunjung tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat langsung. Semua itu dirancang untuk membuat wayang kembali dekat dengan masyarakat. ***
Editor : Dian Suryantini