Harga Kedelai dan Plastik Naik, Pengusaha Tempe di Tabanan Siasati Ukuran Produk

IGA Kusuma Yoni • Dipublikasikan Sabtu, 11 April 2026 | 08:05 WIB
Salah seorang pelaku usaha tempe di Kecamatan Tabanan memilih menipiskan tempe seperti saat pandemi Covid-19. (Ist)
Salah seorang pelaku usaha tempe di Kecamatan Tabanan memilih menipiskan tempe seperti saat pandemi Covid-19. (Ist)

BALIEXPRESS.ID- Kenaikan harga kedelai membuat pusing pelaku usaha tempe di Kabupaten Tabanan. Hal ini diperparah dengan kenaikan harga plastik. 

Mohammad Sabdullah, salah satu pelaku usaha pembuatan tempe di Desa Dauh Peken, Tabanan, menyebutkan bahwa pihaknya harus mengurangi ketebalan tempe supaya harga jual tempenya tidak naik.

“Cara ini terpaksa kami lakukan agar bisa terus berproduksi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat, karena jika harganya naik, maka daya beli masyarakat akan menurun,” jelasnya Jumat (10/4/2026).

Baca Juga: Pekerja Pemeliharaan Kabel PLN Tersengat Listrik di Tembuku, Begini Kondisinya

Sabdullah mengaku ukuran tempe lebih tipis sekitar setengah sentimeter dari ukuran normal.

Dengan cara seperti ini, dirinya masih bisa memasang harga jual Rp5.000 per potong untuk tempe dengan panjang 20 sentimeter.

Ukuran ketebalan tempe yang diproduksinya sebelum ditipiskan dikatakannya adalah 2,5 cm setelah ditipiskan menjadi 2 cm, namun panjangnya tetap 20 cm.

Baca Juga: Kecelakaan Mengerikan di Sukawana Kintamani, Truk Engkel Muat 1,5 Ton Jeruk dan 8 Penumpang Terperosok ke Jurang

Sabdullah mengaku memilih untuk menipiskan ketebalan tempe ini karena faktor psikologi masyarakat.

“Sebelum ini, ukuran tempe pernah saya tipiskan, yakni saat pandemi Covid. Saat itu, harga kedelai juga naik menjadi Rp12 ribu. Supaya biaya produksi tetap masuk ya tempenya saya tipiskan,” ungkapnya.

Baca Juga: Melangkah Menuju KBMI 2, Bank BPD Bali Catatkan Kinerja Positif di Triwulan I 2026

Untuk harga kedelai, dikatakan Sabdullah sempat menyentuh angka Rp11.650 per kilogram.

Saat ini harga kedelai impor sudah turun ke angka Rp10.950 per kilogram, meski demikian, diakuinya biaya operasional pembuatan tempe tetap membengkak.

Hal ini dikatakannya karena harga plastik pembungkus melonjak dari Rp415 ribu menjadi Rp600 ribu per bal.

Sabdullah mengakui kenaikan harga kedelai impor dan plastik ini terjadi akibat konflik di Timur Tengah yang sampai saat ini masih berlangsung.

Sehari-harinya, Sabdullah memproduksi sekitar 300 potong tempe dengan keperluan kedelai sebagai bahan baku antara 90 sampai satu kuintal.

Ia berharap, harga kedelai di pasaran sekarang ini bisa kembali stabil di kisaran Rp8 ribu sampai Rp9 ribu per kilogram.

“Dengan harga kedelai di kisaran Rp8 ribu sampai dengan Rp9 ribu per kilogram, maka kami bisa kembali menambah ketebalan ukuran tempe seperti sebelumnya,” terangnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
harga plastik tempe Harga kedelai mahal tabanan