Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Waspada DBD di Buleleng: 109 Kasus Tercatat, Gerokgak Jadi Wilayah Tertinggi

Dian Suryantini • Rabu, 15 April 2026 | 06:41 WIB
Petugas Dinas Kesehatan Buleleng tengah menaburkan bubuk abate untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). (Ist)
Petugas Dinas Kesehatan Buleleng tengah menaburkan bubuk abate untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). (Ist)

BALIEXPRESS.ID - Lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) kembali menghantui Kabupaten Buleleng.

Dalam beberapa pekan terakhir, tren peningkatan kasus memicu kewaspadaan serius dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Upaya penanganan pun langsung digencarkan, menyusul ditemukannya sejumlah titik jentik nyamuk di lingkungan warga yang terkonfirmasi kasus.

Baca Juga: BRI Hadirkan Kemudahan Tebus Gadai Pegadaian Melalui BRImo, Dilengkapi Promo Cashback Menarik

Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto, menegaskan bahwa setiap laporan kasus yang masuk langsung ditindaklanjuti melalui penyelidikan epidemiologi (PE).

Tim diterjunkan ke lapangan untuk menelusuri potensi sumber penularan sekaligus memetakan risiko di sekitar lokasi pasien.

“Begitu ada laporan, tim langsung bergerak melakukan PE. Dari hasil penelusuran, kami menemukan beberapa titik jentik di sekitar rumah warga,” ungkapnya, Selasa (14/4/2026).

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Sepakati Kolaborasi Bangun PSEL Denpasar Raya, Solusi Jangka Panjang Atasi Sampah

Temuan ini mengindikasikan adanya potensi penularan lokal, terutama di kawasan permukiman padat.

Kondisi lingkungan yang memungkinkan genangan air menjadi faktor krusial berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebar virus dengue.

Baca Juga: Dua Pelanggar Pengelolaan Sampah Mulai Disidang, Satpol PP Badung Sebut Sebagai Efek Jera

Sebagai langkah cepat, petugas melakukan penyisiran ke rumah-rumah warga untuk memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya jentik.

Selain itu, pengendalian darurat juga dilakukan melalui fogging selektif di titik-titik tertentu, namun Sucipto mengingatkan bahwa fogging bukan solusi utama dalam memutus rantai penularan.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik masih bisa berkembang. Bahkan, jika dilakukan terus-menerus, berpotensi menimbulkan pencemaran udara. Jadi, yang utama tetap pemberantasan sarang nyamuk,” tegasnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan terbesar dalam upaya pencegahan.

Banyak warga yang belum secara rutin melakukan langkah sederhana seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah terbuka, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

Faktor lain yang turut memperparah situasi adalah kepadatan penduduk serta kondisi cuaca yang tidak menentu.

Kombinasi ini menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangbiakan nyamuk. Genangan air yang dibiarkan, baik di pekarangan rumah maupun di sekitar permukiman, menjadi titik rawan yang kerap luput dari perhatian.

Data Dinkes mencatat, hingga 9 April 2026, terdapat 109 kasus DBD di Buleleng sejak awal tahun.

Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Disusul Kecamatan Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, dan Sukasada. Sementara itu, empat kecamatan lainnya dilaporkan masih bebas dari kasus.

Melihat tren ini, Dinkes mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar lebih peka terhadap gejala awal DBD.

Demam tinggi yang berlangsung lebih dari tiga hari, munculnya bintik merah di kulit, serta gejala seperti mual, muntah, dan mimisan harus segera diwaspadai.

“Jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala tersebut, jangan menunggu lama. Segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbaunya.

Di sisi lain, seluruh puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan diinstruksikan untuk mempercepat pelaporan kasus.

Sistem pelaporan cepat dinilai menjadi kunci utama dalam mempersempit ruang penyebaran virus.

“Semakin cepat laporan masuk, semakin cepat pula tim bisa melakukan penelusuran dan penanganan. Ini penting untuk mencegah kasus meluas,” tutup Sucipto. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#dbd #buleleng #nyamuk aedes aegypti