BALIEXPRESS.ID – Sejak dua tahun berdiri, Sekolah Adat Manik Empul di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, terus bergerak aktif merawat budaya lokal. Sepanjang Mei 2026, sekolah adat yang baru genap setahun berdiri ini menggelar berbagai kegiatan revitalisasi bahasa dan sastra lisan Pedawa secara rutin, dengan suasana belajar yang santai namun sarat makna.
Setiap akhir pekan, wantilan Desa Adat Pedawa menjadi ruang hidup bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa untuk belajar bersama. Kegiatan dimulai pukul 14.30 WITA dengan materi yang beragam, mulai dari mesatua (cerita rakyat), banyolan (lawakan), puisi, hingga pidato berbahasa Pedawa.
Awal Mei dibuka dengan kegiatan mesatua pada 1 Mei yang menyasar anak-anak. Sehari berikutnya, 2 Mei, suasana berubah lebih cair lewat banyolan yang diikuti remaja dan dewasa. Lalu pada 3 Mei, peserta diajak mengekspresikan bahasa melalui puisi .
Memasuki pekan kedua, kegiatan semakin variatif. Pada 9 Mei, peserta belajar pidato (pidarta), sementara 10 Mei kembali diisi mesatua untuk anak-anak.
Menariknya, pada 14 Mei, founder Sekolah Adat Manik Empul, Wayan Sadnyana, turut langsung mengajar dalam sesi puisi, memperlihatkan keterlibatan aktif dalam proses belajar.
Rangkaian kegiatan terus berlanjut di pertengahan bulan. Tanggal 16 Mei diisi banyolan, disusul pidato pada 17 Mei.
Kemudian 23 Mei kembali menghadirkan mesatua untuk anak-anak, dan 24 Mei diisi pembacaan puisi yang melibatkan fasilitator lokal. Pola ini menunjukkan bagaimana bahasa Pedawa dihidupkan melalui berbagai bentuk ekspresi dari cerita, humor, hingga seni sastra .
Menjelang akhir bulan, semangat peserta tidak surut. Pada 25 Mei, kegiatan banyolan kembali digelar. Lalu 27 Mei diisi puisi, disusul mesatua pada 30 Mei yang mulai melibatkan lebih banyak kelompok usia. Rangkaian kegiatan ditutup pada 31 Mei dengan sesi pidato yang kembali melatih kemampuan berbicara peserta dalam bahasa Pedawa .
Founder Sekolah Adat Manik Empul, Wayan Sadnyana, mengatakan kegiatan ini memang dirancang berkelanjutan agar bahasa Pedawa tetap hidup di tengah masyarakat.
“Kami ingin bahasa ini tidak hanya diingat, tapi dipakai dalam kehidupan sehari-hari, baik lewat cerita, humor, maupun pidato,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan yang digunakan sengaja dibuat fleksibel dan tidak kaku seperti sekolah formal. Meski banyak kegiatan dilakukan di wantilan desa, proses belajar bisa berpindah tempat sesuai kebutuhan materi.
“Konsep kami adalah pesekolahan, bukan sekolah dalam arti gedung. Belajar bisa di mana saja, yang penting terjadi proses berbagi pengetahuan,” jelasnya.
Selain itu, kegiatan ini juga mempertemukan generasi muda dan tua dalam satu ruang belajar. Para tokoh adat dilibatkan sebagai fasilitator, sehingga pengetahuan yang diwariskan tetap otentik dan sesuai dengan tradisi Pedawa.
Selama setahun berjalan, Sekolah Adat Manik Empul telah menunjukkan hasil nyata. Salah satunya dengan menghidupkan kembali tiga tari rejang yang sempat hilang selama puluhan tahun. Kini, upaya tersebut diperkuat melalui revitalisasi bahasa sebagai fondasi utama budaya.
Dengan rangkaian kegiatan yang konsisten sepanjang Mei, Sekolah Adat Manik Empul tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya kembali identitas budaya Pedawa secara alami dan berkelanjutan. (dik)
Editor : I Putu Mardika