Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pantai Banyuasri Disiapkan Jadi Destinasi Ekowisata Berkelanjutan

Dian Suryantini • Senin, 4 Mei 2026 | 11:53 WIB
Pertemuan pegiat konservasi dengan prajuru adat Desa Banyuasri tentang potensi Pantai Banyuasri.
Pertemuan pegiat konservasi dengan prajuru adat Desa Banyuasri tentang potensi Pantai Banyuasri.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Langkah baru tengah dijajaki Desa Adat Banyuasri dalam merespons potensi besar yang tersimpan di kawasan pesisirnya. Tidak sekadar menawarkan panorama laut, desa adat ini mulai mengarahkan pandangan pada upaya pelestarian lingkungan yang terintegrasi dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Kawasan Pantai Banyuasri yang mencakup Pantai Pidada, Pantai Camplung, dan Pantai Indah selama ini dikenal sebagai lintasan alami penyu hijau. Di balik hamparan pasir dan debur ombaknya, tersimpan siklus kehidupan yang terus berulang. Penyu datang, bertelur, lalu kembali ke laut. Dari sinilah gagasan konservasi tukik mulai menemukan relevansinya.

Inisiatif ini mengemuka dalam pertemuan awal antara pegiat konservasi Adhy Simatupang dan prajuru Desa Adat Banyuasri yang digelar di Pantai Camplung. Pertemuan tersebut menjadi titik mula diskusi tentang kemungkinan menghadirkan model wisata bahari berbasis konservasi yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem.

Adhy melihat pesisir Buleleng sebagai kawasan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, selama ini wajah pariwisata Buleleng masih sangat bergantung pada satu ikon utama, yakni wisata lumba-lumba. Ketergantungan ini dinilai berisiko dalam jangka panjang, terutama jika tidak diimbangi dengan diversifikasi daya tarik wisata.

Ia pun menawarkan pendekatan berbeda: menjadikan konservasi tukik sebagai bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan laut, tetapi juga terlibat dalam proses edukasi lingkungan—mulai dari pengenalan habitat penyu hingga pelepasan tukik ke laut.

“Konservasi bukan hanya soal menjaga alam, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan lingkungan,” ungkapnya dalam forum tersebut belum lama ini.

Gagasan ini mendapat respon positif dari tokoh adat setempat. Made Agus Parthama menilai kawasan pesisir Banyuasri memiliki spektrum potensi yang luas. Selain konservasi tukik, berbagai aktivitas wisata bahari dapat dikembangkan, seperti memancing, kano, berenang, hingga dolphin seeing.

Tidak hanya itu, kawasan ini juga menyimpan nilai spiritual melalui keberadaan Pura Segara dan Pura Taman Alit yang kerap menjadi tujuan wisata religi. Kombinasi antara wisata alam, budaya, dan spiritual ini dinilai mampu memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat identitas lokal.

Pengembangan sektor pendukung pun turut menjadi perhatian. Wisata kuliner berbasis hasil laut lokal hingga pembangunan jogging track dengan latar pemandangan pantai dan persawahan disebut sebagai peluang yang menjanjikan.

Namun demikian, Parthama mengakui bahwa hingga saat ini belum ada sistem pengelolaan konservasi tukik yang terstruktur di wilayah tersebut. Padahal, Pantai Camplung dinilai sangat potensial untuk dijadikan pusat kegiatan pelestarian berbasis komunitas adat.

Dukungan juga datang dari Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa. Ia menegaskan bahwa pihak desa adat terbuka terhadap inovasi, selama tetap menjaga keseimbangan alam dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, konsep ini tidak hanya berbicara tentang pariwisata, tetapi juga tentang keberlanjutan hidup masyarakat adat yang sangat bergantung pada alam. Oleh karena itu, setiap rencana akan dikaji secara matang melalui paruman desa adat sebagai forum pengambilan keputusan bersama.

Dengan posisi strategis di jalur wisata Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi alternatif. Bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi ruang belajar tentang harmoni antara manusia dan alam.

“Jika dikelola secara konsisten dan berbasis komunitas, Banyuasri berpotensi menjadi contoh bagaimana desa adat mampu memimpin gerakan pelestarian lingkungan sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#penyu #pariwisata #tukik #desa adat #Banyuasri