BALIEXPRESS.ID -Dalam rangka memperingati HUT ke-16 Taman Pendidikan Sarin Rare Yayasan I Ketut Alon, digelar sarasehan bertajuk “Eda Ngaden Awak Bisa: Membangun Generasi Pembelajar yang Rendah Hati, Mandiri dan Berkarakter Berbasis Kearifan Lokal Bali”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk mengupas makna filosofis nilai luhur Bali dalam menjawab tantangan global pendidikan sekaligus memperkuat perlindungan anak di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, di Desa Mas, Ubud, Kamis (14/5).
Ketua Yayasan Sarin Rare, I Made Ariasa, menegaskan bahwa kondisi global saat ini, termasuk konflik geopolitik dan berbagai persoalan sosial di dalam negeri, menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan untuk tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga karakter. Menurutnya, meningkatnya konflik keluarga, kekerasan terhadap anak, hingga persoalan sosial lainnya tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pola asuh, pendidikan karakter, dan munculnya sikap ego yang merasa paling tahu dan paling benar.
“Filosofi Eda Ngaden Awak Bisa mengajarkan manusia untuk tidak merasa paling bisa, melainkan terus belajar sepanjang hayat dengan kerendahan hati. Ini sangat relevan diterapkan dalam pendidikan masa kini,” ujar Ariasa saat dikonfirmasi Jumat (15/5).
Ia menilai, nilai-nilai kearifan lokal Bali yang selama ini menjadi pedoman hidup harmonis perlahan mulai terpinggirkan akibat derasnya pengaruh media sosial, pola hidup instan, dan meningkatnya sikap individualisme di masyarakat.
Menurut Ariasa, filosofi tersebut sejalan dengan ajaran “ilmu padi”, yakni semakin berisi seseorang maka semakin merunduk. Pendidikan, kata dia, bukan sekadar soal kemampuan akademis, tetapi juga proses membentuk pribadi yang bertanggung jawab, sabar, peduli sesama, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Ia menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama membangun generasi yang kuat menghadapi masa depan.
Tidak hanya itu, pendidikan yang baik juga perlu menghadirkan lingkungan yang sehat dan nyaman. "Salah satu bentuk implementasi nilai pendidikan karakter adalah membangun kepedulian terhadap alam melalui kegiatan sederhana seperti menanam pohon dan menjaga lingkungan, " imbuhnya.
Lingkungan yang asri diyakini mampu menciptakan suasana belajar yang aman, tenang, dan menyenangkan bagi anak-anak.
Taman Pendidikan Sarin Rare selama ini juga terus menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan inklusif dengan melibatkan seluruh anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus, dalam setiap aktivitas pendidikan dan sosial. Semangat “berkarya tanpa batas” terus ditanamkan agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, belajar, dan mengekspresikan potensinya tanpa diskriminasi.
Sarasehan ini turut mengaitkan filosofi Eda Ngaden Awak Bisa dengan konsep kearifan lokal Bali lainnya, yakni Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. "Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadi dasar penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal yang tetap relevan menghadapi tantangan modern, " tegasnya.
Kegiatan yang melibatkan perwakilan OPD, tokoh pendidikan, penggiat perlindungan anak, kepala sekolah, guru, orang tua, hingga generasi muda ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi konkret dalam implementasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Bali. Ariasa menegaskan, momentum HUT ke-16 Taman Pendidikan Sarin Rare menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga manusia yang rendah hati, berkarakter, dan peduli terhadap sesama.*
Editor : Putu Agus Adegrantika