BALIEXPRESS.ID – Bazar buku internasional Big Bad Wolf (BBW) Bali 2026 resmi dibuka di Lantai 1 Discovery Mall Bali, Senin (25/5).
Hari pertama penyelenggaraan disebut mendapat sambutan tinggi dari masyarakat, bahkan melebihi perkiraan panitia, meski pembukaan dilakukan pada hari kerja.
Country Director BBW Indonesia, Marthius Wandi Budianto, mengaku terkejut dengan antrean puluhan pengunjung yang sudah terlihat sejak pagi hari sebelum acara dimulai.
“Jujur, ini jauh melampaui ekspektasi kami dan kami sangat mengapresiasi semua orang yang datang ke acara ini sejak sangat pagi. Tadi saya datang pukul 08.00 saja, antrean sudah mulai ramai. Padahal tim saya saja belum naik ke atas, kok masyarakat sudah antre lebih dulu,” ujar Marthius.
Baca Juga: Pemkab Jembrana Bagikan Hewan Qurban ke 69 Masjid, Anggaran Naik Jadi Rp246 Juta
Menurutnya, tingginya antusiasme tersebut menjadi sinyal positif bagi penyelenggaraan BBW Bali tahun ini, terlebih setelah bazar kembali digelar dengan area yang lebih luas serta durasi yang lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.
“Kami senang bisa kembali lagi ke Bali, dengan durasi yang lebih panjang, area acara yang lebih besar, jumlah buku yang jauh lebih banyak, dan promo yang juga lebih baik dibanding tahun lalu,” katanya.
BBW Bali 2026 berlangsung mulai 25 Mei hingga 7 Juni 2026 pukul 10.00–22.00 WITA tanpa biaya masuk.
Tahun ini, area bazar diperluas menjadi sekitar 3.200 meter persegi, meningkat signifikan dibanding tahun lalu yang sekitar 1.500 meter persegi.
Marthius mengatakan, tidak ada pembatasan jumlah pembelian buku bagi pengunjung.
Ia menegaskan, salah satu komitmen penyelenggara adalah memperluas akses terhadap buku, termasuk buku internasional berbahasa Inggris dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kami tidak membatasi pembelian buku. Jadi jangan kaget kalau menemukan buku dengan harga Rp5.000 atau Rp10.000. Kami memang berkomitmen membuat buku menjadi sesuatu yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut profil pengunjung cukup beragam, mulai dari sekolah yang memperbarui koleksi perpustakaan, orang tua yang mencari buku bahasa Inggris untuk anak, hingga kalangan muda yang mencari referensi pengembangan diri maupun bisnis.
Baca Juga: Lapangan Rumput Alun-Alun Bangli Rusak dan Becek Usai HUT Kota
Menurut Marthius, distribusi buku berbahasa Inggris di Indonesia masih relatif terbatas.
Karena itu, bazar semacam ini dinilai membuka akses yang lebih luas terhadap buku internasional dengan harga yang lebih terjangkau dibanding harga ritel umum.
Pada hari pertama pembukaan, ia mengaku sempat tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi karena acara digelar pada hari Senin.
“Saya sangat optimistis, tapi juga benar-benar terkejut. Awalnya ekspektasi kami tidak setinggi itu karena ini hari Senin. Biasanya hari Senin itu hari yang cenderung lesu. Kami pikir antreannya mungkin tidak terlalu banyak, ternyata sejak pukul 08.00 pagi sudah ramai yang antre. Itu luar biasa, kami sangat senang dengan sambutan masyarakat Bali,” kata dia.
Baca Juga: K3S Badung Study Tiru ke UPTD Pelayanan Sosial Griya Bina Karya Dinsos Jabar
Di sisi lain, BBW menilai Bali memiliki karakter pasar yang berbeda dibanding kota lain, terutama karena keterkaitannya dengan sektor pariwisata dan keberadaan komunitas internasional yang besar.
Founder Big Bad Wolf International, Andrew Yap, mengatakan Bali dipilih karena kemampuan bahasa Inggris dinilai memiliki relevansi tinggi bagi masyarakatnya.
“Harapan kami adalah memastikan akses buku tersedia di tempat yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang baik. Sebagian besar masyarakat Bali bergerak di sektor pariwisata, sehingga kemampuan bahasa Inggris sangat penting. Karena itu, membawa acara ini ke Bali menjadi keputusan yang sangat masuk akal,” kata Andrew.
Ia mengungkapkan, keputusan membawa BBW ke Bali sempat dipandang berisiko karena ukuran populasi yang lebih kecil dibanding kota besar lain.
Namun menurutnya, kebutuhan terhadap kemampuan bahasa Inggris justru membuat pasar Bali terus berkembang.
“Sebelumnya banyak yang mengatakan Bali punya populasi lebih kecil. Tetapi masyarakat di sini memahami pentingnya bahasa Inggris. Karena itu kami mengambil risiko untuk datang ke Bali, dan ini sudah menjadi acara kami yang ketiga di sini. Perkembangannya terus membaik dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Baca Juga: Bangkitkan Desa Wisata Terunyan, Pemkab Bangli Lakukan Penataan Menyeluruh
Andrew juga menilai Bali memiliki keunikan tersendiri karena dihuni dan dikunjungi masyarakat dari berbagai negara, sesuatu yang tidak banyak ditemukan di kota lain.
“Bali sangat berbeda karena campuran masyarakat internasionalnya. Tidak banyak kota di dunia yang memiliki karakter seperti Bali, dengan begitu banyak warga asing dari berbagai negara. Ketika berbicara dengan pelanggan, kami mendengar mereka berasal dari berbagai belahan dunia,” katanya.
Menurutnya, pengunjung mancanegara turut menjadi kontributor penting dalam penjualan setiap tahun.
“Setiap tahun, mayoritas penjualan kami berasal dari warga Barat dan warga asing. Di negara-negara maju, membaca merupakan bagian besar dari budaya mereka, dan itu yang juga ingin kami dorong di Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Reunion Service di Astra Daihatsu Tabanan, Untuk Perawatan Kendaraan Pasca Garansi
Salah satu pengunjung, Ayu Prameswari, tampak keluar dari area bazar sambil mendorong satu keranjang penuh berisi buku anak-anak.
Warga Denpasar itu mengaku sengaja datang pada hari pertama untuk berburu buku bacaan bagi putranya yang mulai tertarik membaca dan belajar bahasa Inggris.
“Saya memang niat datang dari pagi karena cari buku anak. Ternyata pilihannya banyak sekali, jadi sekalian ambil satu keranjang penuh. Ada buku cerita, aktivitas, sampai buku belajar bahasa Inggris buat anak saya di rumah,” ujarnya.
Menurut Ayu, harga buku yang ditawarkan menjadi salah satu alasan ia membeli dalam jumlah banyak.
Beberapa judul yang menurutnya biasa dijual dengan harga ratusan ribu rupiah, bisa didapat dengan harga yang jauh lebih terjangkau di bazar tersebut.
“Kalau beli di toko biasa mungkin saya mikir dua kali ambil banyak, tapi di sini harganya lebih masuk akal. Mumpung ada kesempatan, saya sekalian stok bacaan supaya anak lebih sering baca daripada terlalu lama pegang gadget,” katanya.
Baca Juga: Komisi X DPR RI Janji Tindak Lanjuti Aspirasi Dosen PPPK ke Kemdiktisaintek
Selain bazar buku, penyelenggaraan BBW Bali 2026 juga membawa program lingkungan bertajuk Mangrove Movement: Mangrove Adoption Pin.
Pengunjung yang berbelanja minimal Rp1 juta berkesempatan memperoleh simbol adopsi mangrove yang dikaitkan dengan kontribusi penanaman mangrove di kawasan Mangrove Benoa.
Sepanjang 2026, BBW Indonesia dijadwalkan hadir di 14 kota dalam rangka perayaan satu dekade penyelenggaraannya di Indonesia, dengan fokus memperluas akses literasi dan budaya membaca di berbagai daerah.(***)
Editor : Rika Riyanti