BALIEXPRESS.ID - Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mulai memberi tekanan pada industri mebel dan kerajinan di Bali.
Kondisi yang kerap dianggap menguntungkan bagi pelaku ekspor justru memunculkan persoalan baru berupa lonjakan biaya produksi dan ketidakpastian usaha.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, Hani Duarsa, menilai kenaikan dolar tidak otomatis membawa dampak positif bagi eksportir.
Sebab, sejumlah kebutuhan produksi masih sangat bergantung pada bahan dan komponen berbasis impor.
Baca Juga: Market Kripto Terkoreksi Imbas Gejolak Global, Tokocrypto Klaim Pengguna Tembus 5 Juta
"Pelemahan rupiah ini tidak serta-merta membawa keuntungan bagi industri mebel dan kerajinan. Sebab beberapa material pendukung produksi, seperti bahan finishing, masih bergantung pada impor. Begitu juga dengan beberapa komponen mebel yang dibeli menggunakan dolar. Akibatnya, kenaikan kurs ini justru menaikkan biaya produksi," katanya, Senin (25/5).
Menurutnya, kenaikan biaya paling terasa terjadi pada bahan finishing yang naik hingga sekitar 32 persen.
Tekanan juga datang dari ongkos logistik, khususnya biaya pengiriman jalur Denpasar–Surabaya yang disebut melonjak sampai 100 persen sejak Maret 2026.
Situasi tersebut, kata Hani, membuat pelaku usaha kesulitan menyusun perencanaan keuangan perusahaan, terutama terkait pengelolaan arus kas di tengah perubahan kurs yang sangat cepat.
"Saya pribadi kesulitan sekali mengatur perencanaan, terutama mengatur cash flow. Karena tiba-tiba dolar naik sekian, dalam beberapa hari sudah naik lagi. Kebingungan sebetulnya kita di situasi ketidakpastian ini," jelasnya.
Fluktuasi nilai tukar juga berdampak pada pola penetapan harga untuk pasar ekspor.
Jika sebelumnya pelaku usaha bisa memberikan kepastian harga dalam jangka panjang, kini penyesuaian harus dilakukan lebih sering mengikuti kondisi biaya saat pesanan masuk.
Dampak lanjutannya dirasakan pada hubungan dengan pembeli luar negeri.
Baca Juga: Antusiasme Hari Pertama Lampaui Ekspektasi, Big Bad Wolf Bali 2026 Dibuka hingga 7 Juni
Sejumlah buyer, terutama dari pasar Amerika Serikat, mulai mempertanyakan perubahan harga yang terus bergerak.
Hani mengaku kondisi tersebut bahkan memicu pembatalan transaksi dan pengurangan volume pembelian.
"Ada pengalaman buyer saya meng-cancel order karena harganya tiba-tiba sangat tidak masuk akal. Karena biaya finishing naik, biaya transport naik, jadi setiap ada order yang turun, kita bahas lagi dengan buyer. Dampaknya, mereka mengurangi kuantitas pesanan," katanya.
Ia memperkirakan permintaan pasar mengalami penurunan sekitar 20 persen.
Baca Juga: K3S Badung Study Tiru ke UPTD Pelayanan Sosial Griya Bina Karya Dinsos Jabar
Tekanan ini semakin berat karena pelaku industri Bali juga harus bersaing dengan negara produsen lain seperti Vietnam, India, dan Cina yang dinilai memiliki daya saing lebih kuat.
"Jujur saya sampaikan, kita benar-benar sedang lesu sekali. Kalau pemerintah tidak mau mengambil langkah membantu kita, habislah kita dibandingkan Vietnam, India, atau Cina," ungkapnya.
Menghadapi situasi tersebut, HIMKI Bali mulai mengarahkan anggotanya untuk memperkuat penetrasi pasar domestik sebagai upaya menutup pelemahan ekspor.
Hani pun memandang performa ekspor kerajinan Bali berpotensi terus melemah hingga penghujung 2026 apabila kurs dolar masih bertahan tinggi.
"Harapannya kondisi segera membaik dan pemerintah bisa berpihak kepada UKM. Ini tidak semata-mata dilihat sebagai keuntungan karena dolar naik, tapi di balik itu ada biaya produksi yang meningkat luar biasa," tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti