SINGARAJA, BALI EXPRESS — Upaya menjaga denyut kebudayaan lokal terus dilakukan masyarakat Desa Adat Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan bedeg tradisional yang digelar Sekolah Adat Manik Empul di Pondok Literasi Sabih, Kamis (28/5).
Kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan keterampilan membuat anyaman bambu untuk rumah adat. Lebih dari itu, pelatihan ini menjadi upaya untuk menghidupkan kembali warisan leluhur Pedawa yang kini mulai jarang ditemukan di tengah masyarakat.
Sebanyak 15 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut. Menariknya, peserta terdiri dari lintas generasi. Para tetua adat dan warga yang masih menguasai teknik pembuatan bedeg tradisional berbagi pengetahuan langsung kepada anak-anak muda Pedawa.
Pendiri Pondok Literasi Sabih, Wayan Sadyana mengatakan, keberadaan bedeg tradisional khas Pedawa saat ini semakin menipis. Padahal, bedeg bukan hanya berfungsi sebagai dinding rumah, melainkan juga menyimpan nilai filosofi dan identitas budaya masyarakat Bali Aga di Pedawa.
“Anak-anak muda sekarang mulai jarang mengenal jenis-jenis bedeg tradisional Pedawa. Padahal kita punya kekayaan motif dan pola anyaman yang sangat beragam. Di dalamnya ada pengetahuan, ketelitian, bahkan perpaduan matematis yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan ini menjadi ruang belajar lintas generasi agar pengetahuan lokal tidak terputus. Generasi muda diberikan kesempatan belajar langsung dari orang-orang tua yang selama ini masih mempertahankan keterampilan tersebut.
“Ini bukan hanya soal membuat bedeg, tetapi bagaimana nilai-nilai baik dan kearifan lokal diwariskan. Orang tua menjadi guru bagi generasi muda. Proses seperti ini penting agar budaya Pedawa tidak hilang,” kata Wayan Sadyana.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program revitalisasi rumah adat Pedawa yang saat ini terus didorong bersama Yayasan Wisnu. Selama bertahun-tahun, Yayasan Wisnu disebut aktif mendampingi masyarakat Pedawa dalam berbagai upaya pelestarian budaya.
Salah satu fokus revitalisasi saat ini adalah menghidupkan kembali rumah adat Mesagali dan Sri Dandan yang keberadaannya semakin langka. Bahkan untuk rumah adat Sri Dandan, kini disebut hanya tersisa dua unit di Desa Pedawa.
“Pembuatan bedeg ini berkaitan langsung dengan revitalisasi rumah adat. Karena rumah tradisional Pedawa tidak bisa dilepaskan dari teknik dan material tradisional yang digunakan masyarakat dulu,” jelasnya.
Para peserta tampak serius mempelajari teknik memilih bambu, membelah, hingga menyusun pola anyaman khas Pedawa yang membutuhkan ketelitian tinggi. Bagi masyarakat Pedawa, menjaga tradisi bukan sekadar mempertahankan bentuk fisik budaya, melainkan juga merawat identitas dan ingatan kolektif desa tua Bali Aga tersebut.
Melalui kegiatan sederhana seperti pelatihan pembuatan bedeg, Sekolah Adat Manik Empul berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita, tetapi juga mengalami langsung proses penciptaannya.
“Kalau bukan masyarakat Pedawa sendiri yang menjaga warisan ini, lama-lama bisa hilang. Karena itu kami ingin anak-anak muda kembali bangga terhadap budaya leluhurnya,” tutup Wayan Sadyana. (dhi)
Editor : Dian Suryantini