BALIEXPRESS.ID — Transformasi teknologi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hingga perubahan pola transaksi wisatawan global disebut mulai mengubah lanskap industri pariwisata, termasuk di Bali.
Di tengah tren kenaikan kunjungan wisatawan, pelaku usaha pariwisata di Pulau Dewata masih menghadapi tantangan berupa belum meratanya ekosistem pembayaran digital serta rendahnya adopsi teknologi pada sebagian pelaku usaha.
Kondisi tersebut dinilai berdampak pada kemampuan usaha pariwisata, khususnya skala kecil dan menengah, dalam menangkap potensi transaksi wisatawan internasional.
Sejumlah pelaku usaha seperti pengelola vila independen, restoran lokal, hingga pemandu wisata disebut belum sepenuhnya siap menerima metode pembayaran digital yang umum digunakan wisatawan mancanegara.
Baca Juga: Koster Dorong Standarisasi MICE Bali Berbasis Budaya dan Libatkan UMKM Lokal
Menyoroti kondisi tersebut, iPaymu, Xepeng, dan BIM University menggagas Bali Future Lab, forum kolaborasi yang dijadwalkan berlangsung pada 9–10 Juli 2026 di BIM University dengan tema “Tri Hita Karana 2.0 — Technology for Harmony”.
Founder iPaymu, Riyeke Ustadiyanto, mengatakan masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh tingginya angka kunjungan wisatawan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan model bisnis baru.
"Masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan yang datang, tetapi oleh kemampuan kita berinovasi, berkolaborasi, dan menciptakan nilai baru yang berkelanjutan. Bali Future Lab hadir sebagai wadah untuk mempertemukan ide, teknologi, dan implementasi nyata demi masa depan Bali yang lebih kuat dan berdaya saing global," kata Riyeke, Kamis (28/5).
Menurutnya, penggunaan AI kini mulai memengaruhi hampir seluruh tahapan perjalanan wisatawan global, mulai dari pencarian destinasi, penyusunan rencana perjalanan, proses pemesanan, hingga layanan selama berada di lokasi tujuan wisata.
Dalam forum tersebut, berbagai penerapan AI bagi industri pariwisata akan dibahas, termasuk pemanfaatan chatbot layanan wisatawan berbasis bahasa natural, personalisasi layanan berbasis data, otomasi operasional seperti dynamic pricing dan pengelolaan inventaris, pemasaran digital berbasis machine learning, hingga penggunaan AI untuk mendukung aspek keberlanjutan.
Riyeke menilai pelaku usaha pariwisata tidak harus memiliki kemampuan teknis mendalam untuk mulai memanfaatkan AI.
"Pelaku usaha pariwisata tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memanfaatkan AI. Yang mereka butuhkan adalah pemahaman tentang use case yang relevan dan akses terhadap solusi yang tepat. Itulah yang ingin kami hadirkan di Bali Future Lab," ujarnya.
Selain AI, isu pembayaran digital menjadi salah satu fokus utama forum tersebut.
Sebagai perusahaan payment gateway, iPaymu menilai perubahan perilaku transaksi wisatawan berlangsung semakin cepat, sementara kesiapan pelaku usaha dalam menyediakan berbagai opsi pembayaran masih beragam.
Riyeke menyebut banyak potensi transaksi hilang akibat keterbatasan akses terhadap sistem pembayaran digital yang sesuai dengan preferensi wisatawan.
"Banyak pelaku usaha pariwisata kehilangan potensi transaksi hanya karena tidak siap menerima metode pembayaran yang diinginkan tamu. Ini bukan masalah kemauan, tapi masalah akses terhadap infrastruktur dan pengetahuan. Bali Future Lab hadir untuk menjawab gap ini secara ekosistemik, bukan hanya teknis," katanya.
Dalam pelaksanaannya, Bali Future Lab juga akan membahas arsitektur pembayaran digital bagi bisnis pariwisata, mulai dari integrasi payment gateway, pengelolaan transaksi multikanal, hingga strategi optimalisasi konversi pembayaran digital.
Baca Juga: Bukan Adu Argumentasi, Profesor se-Indonesia Bakal Adu Smash di Undiksha
Sementara itu, platform fintech berbasis Bali, Xepeng, menyoroti munculnya kebutuhan baru di sektor pariwisata terkait penerimaan pembayaran menggunakan aset digital maupun stablecoin, yang disebut semakin banyak digunakan di sejumlah pasar internasional.
Forum Bali Future Lab disebut dirancang tidak hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga menitikberatkan pada implementasi solusi yang dapat diterapkan langsung.
Beberapa agenda yang disiapkan meliputi forum diskusi strategis, workshop implementasi AI dan pembayaran digital, demonstrasi teknologi, pameran inovasi, hingga hackathon yang berfokus pada tantangan nyata di ekosistem pariwisata Bali.
Peserta yang disasar berasal dari kalangan industri pariwisata dan perhotelan, pelaku usaha, komunitas teknologi, startup, investor, akademisi, mahasiswa, hingga unsur pemerintah.
"Yang dibangun bukan hanya ruang diskusi, tapi ruang membangun relasi, tukar perspektif, belajar praktik yang relevan, dan membuka peluang kolaborasi nyata," ujar Riyeke.(***)
Editor : Rika Riyanti