BALIEXPRESS.ID- Persoalan sampah di Kabupaten Buleleng kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, merancang sistem pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala berbasis controlled landfill sebagai langkah pembenahan pengelolaan sampah agar lebih modern, aman, dan ramah lingkungan.
Rencana tersebut disampaikan saat Sutjidra meninjau langsung kondisi TPA Bengkala. Peninjauan itu dilakukan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Buleleng yang dinilai perlu segera diperbaiki.
Baca Juga: Dupa Menyala Ditinggal ke Rumah Anak, Rumah Warga di Seririt Buleleng Terbakar
Dalam kunjungannya, Bupati Sutjidra melihat langsung kondisi tumpukan sampah yang terus meningkat setiap harinya.
Ia menegaskan kapasitas TPA Bengkala saat ini sudah tidak lagi memadai apabila pola pembuangan sampah masih dilakukan seperti sebelumnya tanpa pengelolaan yang baik dan terintegrasi.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Buleleng mulai merancang sistem controlled landfill, yakni metode pengelolaan sampah dengan pengurugan dan pengelolaan yang lebih terkontrol dibanding sistem pembuangan terbuka.
Baca Juga: Menjelajah Rasa Surabaya lewat Deretan Kuliner Legendaris Pilihan ShopeeFood
Melalui sistem ini, pengelolaan sampah diharapkan mampu mengurangi dampak pencemaran lingkungan, bau menyengat, hingga potensi gangguan kesehatan masyarakat sekitar.
Selain pembenahan sistem di TPA, Bupati Sutjidra juga merancang TPA Bengkala menjadi pusat pengolahan sampah anorganik.
Baca Juga: Kadek Adnyana, Sektor Villa dan Hospitality di Bali Hadapi Sejumlah Tantangan
Sementara itu, pengelolaan sampah organik diharapkan dapat diselesaikan mulai dari tingkat rumah tangga hingga desa melalui proses pemilahan dan pengolahan mandiri.
Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat untuk mulai mengubah pola pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Sampah harus mulai dipilah dari rumah tangga masing-masing. Kalau sampah organik selesai di rumah atau desa, maka beban TPA akan jauh berkurang,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Ia juga kembali mengingatkan pentingnya budaya memilah sampah sejak dini sebagai bagian dari tanggung jawab bersama menjaga kebersihan lingkungan.
Dengan pemilahan yang baik, sampah yang masih memiliki nilai ekonomis dapat didaur ulang, sementara volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan secara signifikan. (*)
Editor : I Made Mertawan