BALIEXPRESS.ID - Pemkab Badung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) kini memiliki program baru dalam mengurangi permasalahan sampah, yakni Yadnya Sampah.
Dalam pelaksanaanya akan bekerjasama dengan Bank Sampah yang akan membeli plastik bekas yang dikumpulkan.
Nantinya uang yang terkumpul dapat digunakan untuk membiayai kegiatan adat dan keagamaan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Balap Liar di Manggis Karangasem Resahkan Warga, Tiga Remaja Diamankan Polisi
Kepala DLHK Badung, Made Rai Warastuthi mengatakan, sejatinya di sejumlah banjar di Kabupaten Badung, Bank Sampah telah berjalan.
Hal ini lah yang akan dioptimalkan lagi dengan merubah penerima uang pembelian sampah plastik.
"Kemanfaatannya itu biasanya langsung masuk ke kas-kas perorangan. Sekarang, ayolah kita masukkan ke kas banjar. Itu bisa dipakai untuk nanti pada saat piodalan enam bulan sekali di banjar,” ujar Rai Warastuthi, saat ditemui Kamis (4/6).
Baca Juga: Remaja Yayasan Tantri Lestari Jembrana Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Dam Campuhan
Pihaknya menyebutkan, saat ini telah ada yang menerapkan hasil dari penukaran sampah plastik masuk ke kas banjar.
Namun untuk penggunaan dana tersebut masih bermacam-macam, selain biaya upacara adat.
“Tetapi, kalau digunakan untuk yadnya enam bulan sekali, jadi dikumpulkan, digunakan, tentu itu akan meringankan, akan membantu,” ungkapnya.
Baca Juga: 17.844 Pemilih di Sembilan Desa Bangli Tentukan Perbekel Hari Ini
Rai Warastuthi pun menerangkan, DLHK Badung kedepannya akan melakukan komunikasi dan edukasi dalam penerapan program tersebut.
Bahkan ada rencana menggelar lomba untuk Bank Sampah yang ada di Kabupaten Badung.
Terlebih ada peningkatan jumlah Bank Sampah dari 98 banjar di tahun 2025, kini telah ada sekitar 120 banjar yang aktif.
“Hanya saja untuk program yang yadnya sampah ini, masih kami berikan pilihan, berikan opsi, apakah dia masuk ke kelas perorangan atau ini. Yang terpenting itu sebetulnya adalah pemilihannya ini. Jadi, masyarakat, anggota PKK sudah melakukan pemilahan yang mana organik diselesaikan di rumah, anorganik dibawa ke banjar pada saat rapat PKK, atau ada juga yang seminggu sekali,” terangnya.
Lebih lanjut ia berharap, melalui program ini dapat meningkatkan pemilahan sampah di masyarakat.
Kemudian dana yang terkumpul dari hasil penukaran di Bank Sampah dapat mengurangi biaya yadnya.
“Jadi daripada dibuang sampahnya, padahal dia masih bernilai dan nilai itu masih berguna untuk yadnya. Yang lebih baik itu dikumpulkan dan kemudian bisa ditukarkan yang masih punya nilai ekonomis untuk dijadikan bantuan untuk nanti yadnya,” paparnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga