BALIEXPRESS.ID – Persoalan sampah laut kembali menjadi perhatian berbagai kalangan menjelang peringatan World Ocean Day 2026.
Pencemaran yang terus mengancam ekosistem perairan dinilai tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu ketersediaan sumber pangan, aktivitas ekonomi masyarakat, hingga keberlangsungan budaya yang tumbuh dari hubungan manusia dengan laut.
Isu tersebut dibahas dalam Diskusi Happy World Ocean Day, Coral Triangle Day & Road to Ocean Impact Summit 2026 bertema “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu” yang digelar di Denpasar, Jumat (5/6).
Sejumlah pemangku kepentingan menekankan pentingnya aksi bersama untuk mengurangi pencemaran dan menjaga kesehatan laut sebagai aset strategis Indonesia.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp 18 Ribu, Peluang Bali Menarik Lebih Banyak Wisatawan Asing
Analis Pengusahaan Jasa Kelautan Ahli Madya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro, MM., mengatakan Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas dan menjadi sumber utama penyedia protein bagi masyarakat.
Menurutnya, sumber daya ikan yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional hanya dapat terjaga apabila ekosistem laut tetap sehat dan bebas dari pencemaran, terutama sampah.
“Laut merupakan habitat ikan untuk tumbuh, berkembang biak, dan menopang kebutuhan pangan masyarakat. Karena itu sumber daya ikan harus dijaga melalui upaya bersama agar laut tetap bersih,” katanya.
Ia menjelaskan KKP saat ini menjalankan program pemantauan dan pengendalian sampah laut melalui pengamatan pada empat kawasan utama, yakni sungai, pesisir, pulau-pulau kecil, serta pelabuhan dan kawasan aktivitas lainnya.
Keempat kawasan tersebut dinilai menjadi sumber utama kebocoran sampah menuju laut.
Menurutnya, kebocoran sampah ke laut masih menjadi tantangan besar.
Dari total timbulan sampah nasional yang mencapai jutaan ton setiap tahun, sebagian berpotensi masuk ke perairan apabila tidak ditangani dengan baik sejak dari daratan.
Melalui program Sebasar (Laut Bebas Sampah), KKP bersama pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat melakukan pengamatan, pendataan, serta berbagai aksi kolaboratif untuk mengurangi sampah yang berakhir di laut.
Baca Juga: BNN Gaungkan “War on Drugs for Humanity” Lewat Turnamen Padel Piala Bersinar 2026 di Bali
"Penanganan sampah laut harus terintegrasi dari darat hingga laut karena sebagian besar sampah berasal dari daratan yang terbawa melalui sungai menuju perairan,” ucapnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, menegaskan bahwa laut memiliki arti penting bagi Bali, baik dari sisi ekonomi, lingkungan maupun budaya.
Ia menyebut pengalaman pandemi COVID-19 menjadi pengingat bahwa Bali perlu memperkuat sektor-sektor selain pariwisata, termasuk ekonomi berbasis kelautan.
"Laut bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai ekologis dan budaya yang sangat besar bagi masyarakat Bali,” ujarnya.
Baca Juga: Ciptakan Estetika Wilayah, Pemkab Badung Kembali Turunkan Kabel Provider Tidak Aktif
Menurut Sumardiana, kekayaan hayati laut Bali merupakan warisan yang harus dijaga bersama agar manfaatnya dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.
Ia juga menilai nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali selama ini telah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
“Laut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Karena itu menjaga laut bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menjaga warisan budaya dan kehidupan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahaya sampah plastik yang dapat terurai menjadi mikroplastik dan mengancam kesehatan ekosistem laut hingga rantai makanan manusia.
Keterikatan laut dengan budaya Bali turut disampaikan seniman layangan Bali, I Kadek Dwi Armika.
Ia menjelaskan salah satu layangan tradisional Bali, Bebean, mengambil bentuk ikan yang mencerminkan kedekatan masyarakat Bali dengan laut.
Baca Juga: Alami Kecelakaan Tunggal, Pengendara Mobil Tak Sadarkan Diri di Lebih Gianyar
“Ikan dalam bahasa Bali disebut ‘be’, sehingga Bebean adalah layangan berbentuk ikan. Bentuk ini bukan sekadar estetika, tetapi mengandung filosofi hubungan harmonis manusia dengan alam,” terangnya.
Menurut Armika, filosofi laut telah diwariskan turun-temurun dalam berbagai ekspresi budaya Bali.
Melalui seni layang-layang, masyarakat diajak terus mengingat pentingnya menjaga alam sebagai ruang hidup bersama.
"Pelestarian budaya tidak bisa dipisahkan dari pelestarian laut karena keduanya saling terkait dalam kehidupan masyarakat Bali,” katanya.
Baca Juga: TP Posyandu Gianyar Perkuat 340 Kader Posyandu
Sementara itu, Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, mengatakan keberlanjutan sumber daya laut berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat.
Selain menjadi sumber protein, laut juga menopang berbagai aktivitas ekonomi dan sosial.
“Kalau laut sehat, masyarakat juga sehat. Sumber protein kita banyak berasal dari laut dan keberlanjutan pemanfaatannya harus dijaga,” ujarnya.
Dewi menjelaskan WWF-Indonesia selama lebih dari satu dekade mendukung berbagai program prioritas KKP dalam mewujudkan pengelolaan laut yang berkelanjutan melalui pendekatan berbasis sains.
Menurutnya, tantangan menjaga laut Indonesia yang sangat luas tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga saja.
Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang kuat agar target konservasi dan pengelolaan laut berkelanjutan dapat tercapai.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp 18 Ribu, Peluang Bali Menarik Lebih Banyak Wisatawan Asing
“Tidak ada organisasi yang bisa bekerja sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi, berbagi pengetahuan, dan aksi nyata bersama,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat sejak usia dini serta pelestarian kearifan lokal yang selama ini terbukti mendukung upaya konservasi sumber daya laut.
Rangkaian peringatan World Ocean Day 2026 diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi laut serta mendorong partisipasi lebih luas dalam menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem perairan.
Adapun puncak kegiatan Happy World Ocean Day, Coral Triangle Day & Road to Ocean Impact Summit 2026 dijadwalkan berlangsung di Peninsula Island, Nusa Dua, pada Minggu, 7 Juni 2026.(***)
Editor : Rika Riyanti