Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Belajar Langsung di Sanur, Mahasiswa Unud Dalami Konsep Mobilitas Rendah Emisi Bersama WRI Indonesia

Rika Riyanti • Sabtu, 6 Juni 2026 | 12:58 WIB
EDUKASI: Sejumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana melakukan kunjungan lapangan ke Kawasan Pesisir Sanur difasilitasi WRI Indonesia
EDUKASI: Sejumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana melakukan kunjungan lapangan ke Kawasan Pesisir Sanur difasilitasi WRI Indonesia

 

BALIEXPRESS.ID  – Sejumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana melakukan kunjungan lapangan ke Kawasan Pesisir Sanur untuk mempelajari penerapan konsep Kawasan Rendah Emisi yang tengah dikembangkan di wilayah tersebut.

Dalam kegiatan yang difasilitasi WRI Indonesia itu, para mahasiswa berkeliling menggunakan shuttle listrik dan berjalan kaki menyusuri kawasan Sanur.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang kelas dengan mengamati langsung berbagai upaya pengembangan tata ruang dan sistem mobilitas yang mendukung pengurangan emisi.

Kegiatan juga diisi dengan diskusi bertajuk Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi, yang membahas tantangan pembangunan berkelanjutan di Bali, khususnya di tengah tingginya ketergantungan daerah terhadap sektor pariwisata.

Salah seorang mahasiswa FEB Universitas Udayana, Okan, menilai Bali saat ini menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan target pertumbuhan pariwisata dengan komitmen penurunan emisi.

“Bali ini memiliki dua tujuan besar, mengingat kedua tujuan ini para realitanya cenderung bertentangan. Satu sisi ingin menarik kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya, namun pada sisi lain Bali ini memiliki visi mencapai Bali Emisi Nol Bersih/Bali Net Zero Emission di tahun 2045. Semakin banyak kunjungan pasti meningkatkan kebutuhan mobilitas,” ujar Okan.

Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan akan berdampak pada meningkatnya aktivitas transportasi yang berpotensi menambah emisi karbon apabila tidak diimbangi dengan sistem mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

Dalam diskusi tersebut, inisiatif Bali Low Emission Zone Initiatives (BLEZI) disebut sebagai salah satu upaya yang dapat mendukung transformasi ekonomi Bali agar tidak hanya bergantung pada pariwisata massal, tetapi juga mengedepankan aspek kualitas lingkungan dan ekonomi hijau.

Pandangan serupa disampaikan mahasiswa FEB Universitas Udayana lainnya, Komang Agus.

Ia menilai pengembangan kawasan rendah emisi berpotensi meningkatkan daya tarik Bali sebagai destinasi yang lebih nyaman dan berkelanjutan.

“Zero emisi ini bisa mengubah wajah Bali yang memberi kesan Bali yang nyaman dan green. Dalam kuliah ada studi ekonomi pembangunan berkelanjutan, yang sejalan dengan inisiatif ini. Dengan inisiatif ini tentu akan menarik minat investor untuk datang, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, Low Carbon Mobility Specialist WRI Indonesia, Maria Silaen, menjelaskan bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan asli daerah Kota Denpasar.

Namun, perkembangan sektor tersebut juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas lingkungan.

Ia menyebut sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di Bali.

“Semakin banyak mobilitas maka semakin banyak juga emisinya. Sekitar 41% emisi di tahun 2024 berasal dari sektor transportasi. Kita ingin mengurangi emisi tetapi ekonomi tetap tumbuh, jadi menyasar pada aktivitas yang mulai beralih menggunakan transportasi umum, kendaraan listrik, sepeda, dan berjalan kaki yang merupakan bagian dari mobilitas rendah emisi,” ujar Maria.

Dosen Program Sarjana Ekonomi FEB Universitas Udayana, Putu Krisna Adwitya Sanjaya, mengatakan isu rendah emisi merupakan bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi.

“Bagaimana kita bisa bertindak secara langsung untuk perencanaan masa mendatang, tidak hanya perencanaan jangka pendek seperti yang dipelajari dalam ilmu ekonomi pembangunan berkelanjutan. Saya kira apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman WRI Indonesia ini bersama desa adat sudah menjadi langkah serius untuk lingkungan,” ujarnya.

Krisna menambahkan, perkembangan dunia kerja juga membuka peluang munculnya profesi baru yang sejalan dengan konsep ekonomi hijau, seperti green jobs dan digital nomad.

Menurutnya, model pekerjaan tersebut dapat menjadi alternatif karier bagi generasi muda Bali di luar sektor pariwisata konvensional.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan perguruan tinggi dalam berbagai diskusi maupun perencanaan pembangunan berkelanjutan yang selama ini banyak menjadi perhatian dunia internasional.

“Bagaimana kita sebagai civitas akademika dan masyarakat di Bali kedepannya tidak hanya menjadi penonton saja, melainkan ikut serta mengambil peran strategis dalam perencanaan berkelanjutan yang berorientasi lingkungan, sejalan dengan Palemahan dalam Tri Hita Karana. Harapannya dengan kunjungan ini dan dialog dalam Bali Bicara: Kawasan Rendah Emisi, dari skala mahasiswa juga ada yang mulai tertarik untuk mengambil penelitian atau skripsi yang berhubungan dengan keberlanjutan”, imbuh Krisna.(***)

Editor : Rika Riyanti
#WRI Indonesia #bali #udayana #pantai sanur