Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kebun Krisan Agro Pudak Lestari Farm, Tempat Wisata Cantik Bagi Pasangan Muda.

Dian Suryantini • Selasa, 9 Juni 2026 | 13:18 WIB
Pasangan muda yang berkunjung ke Agro Pudak Lestari Farm, Desa Pancasari, Buleleng.
Pasangan muda yang berkunjung ke Agro Pudak Lestari Farm, Desa Pancasari, Buleleng.
 
SINGARAJA, BALI EXPRESS  - Hamparan bunga krisan berwarna kuning, putih, merah muda, hingga ungu itu bergoyang pelan diterpa angin. Di sela-sela lorong bunga yang tertata rapi, suara kamera ponsel sesekali terdengar. Anak muda bergantian mengambil foto, pasangan muda memilih bunga, sementara beberapa ibu sibuk memilah tangkai paling segar untuk dibawa pulang.
 
Tak banyak yang menyangka, tempat yang kini ramai didatangi pengunjung dari berbagai daerah itu dulunya hanya kebun biasa milik seorang petani yang mencoba bertahan dari ketidakpastian pertanian.
 
Kini tempat itu dikenal sebagai Agro Pudak Lestari Farm, sebuah kebun bunga krisan di Desa Paancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Kebun bunga ini menjadi salah satu sentra bunga potong. Seiring waktu kebun ini berkembang jadi destinasi agrowisata berbasis media sosial.  
 
Krechel Made Bayu Er Sania, anak muda yang memanfaatkan TikTok dan Instagram untuk memviralkan kebun bunga langsung dari sumbernya. Lewat nama Petani Kocak, Bayu menemukan pola untuk mencuri perhatian masyarakat lewat media sosial. 
 
Selama bertahun-tahun, bisnis Agro Pudak Lestari Farm sebenarnya berjalan dalam pola konvensional. Mereka memasok bunga potong ke florist, hotel, dekorasi acara, hingga kebutuhan upacara adat di Bali. Krisan-kristan itu dikirim ke Denpasar, Ubud, Jimbaran, hingga berbagai daerah wisata lainnya.
 
Namun semuanya berubah ketika media sosial mulai mengambil alih cara orang menikmati sesuatu. Awalnya, pengunjung hanya datang sesekali untuk membeli bunga langsung ke kebun. Lalu Bayu mengunggah video singkat di TikTok. Disusul Instagram Reels. Beberapa konten kemudian mulai viral.
 
Bayu, pengelola Agro Pudak Lestari Farm yang membranding diri sebagai Petani Kocak untuk teknik marketing. (Dian/Bali Express)
Bayu, pengelola Agro Pudak Lestari Farm yang membranding diri sebagai Petani Kocak untuk teknik marketing. (Dian/Bali Express)
 
Kebun bunga yang sebelumnya hanya dikenal kalangan florist mendadak ramai. Di situlah peran Krechel Made Bayu Er Sania mulai terlihat. Pria 29 tahun itu membaca peluang bahwa orang zaman sekarang tidak hanya membeli bunga, tetapi juga membeli pengalaman.
 
“Awalnya saya cuma iseng bikin konten,” ujar Bayu, saat ditemui di agro, Sabtu (2/5) lalu.
 
Namun konten sederhana tentang kebun bunga ternyata mendapat respons besar. Video-video pendek yang menampilkan lorong bunga warna-warni, pengunjung memetik bunga sendiri, hingga suasana estetik di kebun mendadak dibanjiri penonton. Bahkan Bayu mempromosikan kebun bunga itu lewat parodi dengan membuat karakter khusus. Ia memakai riasan rambut dan wajah layaknya perempuan. Kadang ia juga merias dirinya dengan kostum tertentu hingga terlihat lucu.
 
Caranya berkomunikasi pun cukup jenaka. Oleh karena itulah ia menjuluki dirinya sebagai Petani Kocak. Salah satu videonya bahkan sempat menembus ratusan ribu tayangan.
 
“Pernah sampai 800 ribu views,” katanya.
 
Dari sana Bayu mulai serius memanfaatkan TikTok dan Instagram sebagai alat promosi utama. Ia membaca pola algoritma media sosial, memahami jenis konten yang disukai audiens, hingga mempelajari logika dan keinginan penonton, hingga berhasil membuat orang penasaran untuk datang langsung ke kebun.
 
Menurut Bayu, media sosial saat ini bekerja sangat cepat. Satu konten yang viral bisa langsung mengubah keadaan sebuah tempat.
 
“Begitu viral, besoknya langsung ramai. Orang-orang datang dari berbagai daerah,” ujarnya.
 
Begitulah krisan-krisan itu dipangku dan diboyong oleh orang-orang yang datang. Pengunjung bukan hanya datang dari Bali. Ada yang sengaja datang dari Kalimantan, Jawa, bahkan wisatawan yang sedang berlibur di Bali. Yang menarik, sebagian besar pengunjung mengetahui tempat itu murni dari media sosial.
 
“Ada yang begitu. Jauh-jauh mereka. Ada juga yang dari Denpasar sengaja datang hanya untuk petik bunga. Setelah itu mereka pulang,” kata Bayu.
 
Di tengah menjamurnya toko florist modern, Agro Pudak Lestari Farm justru memilih jalur berbeda. Mereka tidak hanya menjual bunga potong. Mereka menjual pengalaman memetik bunga langsung dari kebun.
 
Pengunjung diberi kebebasan memilih sendiri bunga yang mereka sukai. Mereka bisa berjalan di antara lorong-lorong krisan, mencari warna favorit, lalu mengambil sendiri tangkai yang ingin dibawa pulang.
 
“Kalau di florist orang tinggal beli jadi. Di sini mereka bisa memilih sendiri bunga yang paling bagus,” ujar Bayu.
 
Pada hari biasa, pengunjung bisa mencapai 10 hingga 15 orang. Namun saat akhir pekan atau libur panjang, jumlahnya melonjak drastis hingga puluhan bahkan ratusan orang.
 
Keramaian itu membawa tantangan baru. Bayu harus menjaga tanaman tetap aman meskipun banyak pengunjung masuk ke area kebun. Mereka juga harus memastikan bunga tetap berkualitas walaupun dipetik setiap hari.
 
“Pengunjung memang kami arahkan untuk mencabut hingga akar. Bukan memotong,” kata dia. ***
Editor : Dian Suryantini
#kebun #pancasari #wisata #bunga #buleleng