SINGARAJA, BALI EXPRESS - Siang itu, sekitar awal bulan Juni. I Gusti Made Arjana tengah berbaring di sebuah pondok. Ia bertumpu pada sebuah tiang dengan memakai capil kain yang sedikit lusuh. Hari itu ia usai menggarap lahannya. Sembari berbaring, matanya masih tetap leluasa memandang ke kebun bunga krisan. Di sana, hamparan bunga krisan berwarna kuning, putih, merah muda, hingga ungu membentang.
Di sela-sela lorong tanaman yang tertata rapi, pengunjung berjalan santai sambil memilih bunga yang ingin mereka petik sendiri. Suasana itu kini menjadi pemandangan sehari-hari di Agro Pudak Lestari Farm, Desa Pancasari, Buleleng. Namun sedikit yang tahu, di balik kebun bunga yang ramai dikunjungi wisatawan dan menjadi latar ribuan unggahan media sosial tersebut, tersimpan kisah panjang tentang keberanian Arjana dalam mengambil keputusan.
Kisah itu dimulai lebih dari dua puluh tahun lalu. Jauh sebelum kebun bunga ini viral, sebelum wisatawan berdatangan membawa kamera dan telepon genggam, seorang dosen pertanian di Universitas Warmadewa, bernama I Gusti Made Arjana sudah lebih dulu berdiri di lahan yang sama. Dengan luas lebih dari satu hektar, ia perlahan membangun kebun bunga yang kini dikenal banyak orang.
Saat itu tahun 2004. Di tengah dominasi tanaman pangan dan sayuran yang dianggap lebih aman secara ekonomi, Arjana justru memilih jalan berbeda dengan menanam bunga krisan. Keputusan itu tidak langsung mendapat dukungan. Banyak orang menganggap pilihan tersebut terlalu berisiko.
“Orang-orang lebih percaya menanam padi atau sayur dalam jumlah besar. Kalau gagal panen masih bisa dimakan. Kalau bunga gagal, habis semua,” kenang Arjana sambil tersenyum.
Keraguan itu justru membuatnya semakin penasaran. Ia memulai semuanya secara perlahan. Tidak ada modal besar. Tidak ada fasilitas mewah. Greenhouse pertama yang dibangun masih menggunakan bambu dan kayu sederhana. Setiap pengeluaran dihitung dengan teliti. Mulai dari biaya pembangunan, operasional harian, hingga kemungkinan keuntungan yang bisa diperoleh.
“Saya coba pelan-pelan. Yang penting jalan dulu,” katanya.
Pada masa awal, Arjana tidak hanya menanam krisan. Ia juga mencoba berbagai jenis bunga lain seperti mawar, gerbera, baby breath, hingga tanaman daun yang biasa digunakan untuk dekorasi florist.
Namun waktu menunjukkan arah yang berbeda. Permintaan pasar terhadap krisan ternyata jauh lebih tinggi dibanding jenis bunga lainnya. Dari sanalah fokus usahanya mulai terbentuk.
Meski demikian, tantangan terbesar bukan berasal dari pasar. Musuh sebenarnya justru datang dari kebun itu sendiri. Tanaman krisan miliknya sempat diserang penyakit karat daun. Serangan penyakit tersebut membuat banyak petani menyerah. Tidak sedikit yang akhirnya kembali menanam sayuran karena dianggap lebih aman.
Tetapi Arjana memilih bertahan. Sebagai seorang akademisi yang mengajar pertanian di Universitas Warmadewa Denpasar, ia melihat masalah itu sebagai tantangan yang harus dipelajari.
Ia membaca berbagai hasil penelitian, berdiskusi dengan mahasiswa, mencoba beragam metode pengendalian penyakit, hingga melakukan berbagai percobaan langsung di lapangan.
“Kami belajar langsung dari lapangan. Kadang teori dengan kondisi alam itu berbeda,” ujarnya.
Proses panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun demi tahun berlalu. Kebun yang dulu sederhana terus berkembang. Kini Agro Pudak Lestari Farm memiliki puluhan varietas krisan dengan warna dan karakter yang berbeda-beda. Sebagian berasal dari pengembangan lokal, sementara sebagian lainnya merupakan bibit luar negeri yang diseleksi agar sesuai dengan kebutuhan pasar Bali.
Namun keberhasilan Arjana tidak berhenti pada produksi bunga. Ketika banyak florist modern bermunculan, ia justru mengambil langkah yang tidak biasa. Alih-alih hanya menjual bunga potong, Agro Pudak Lestari Farm menawarkan pengalaman.
Pengunjung tidak sekadar membeli bunga. Mereka diajak masuk ke dalam kebun, berjalan di antara lorong-lorong krisan yang bermekaran, memilih sendiri bunga favorit mereka, lalu memetiknya langsung dari tanaman.
“Kalau di florist orang tinggal beli jadi. Di sini mereka bisa memilih sendiri bunga yang paling bagus,” kata Arjana.
Konsep sederhana itu ternyata berhasil menciptakan daya tarik tersendiri. Banyak orang merasa pengalaman memetik bunga langsung dari kebun jauh lebih menyenangkan dibanding membeli bunga di toko. Terlebih harga yang ditawarkan tetap terjangkau.
“Kadang orang bilang di florist lebih mahal, tapi di sini mereka merasa dapat pengalaman tambahan,” ujarnya.
Di era digital, pengalaman tersebut menemukan panggungnya sendiri. Setiap akhir pekan, hampir selalu ada pengunjung yang membuat video, mengambil foto estetik, merekam vlog wisata, atau sekadar mengunggah Instagram Story dari tengah hamparan krisan.
Peran penting dalam transformasi digital itu juga datang dari Bayu Er Sania, menantu Arjana, yang aktif mengelola berbagai konten media sosial kebun tersebut. Dengan promosi jenaka lewat nama Petani Kocak, ia berhasil membuat netizen kepincut dan akhirnya datang ke kebunnya.
Tanpa disadari, para pengunjung itu menjadi promotor gratis yang memperkenalkan Agro Pudak Lestari Farm kepada ribuan orang lainnya. Puncaknya terjadi setelah akhir tahun 2025 ketika kebun mulai dibuka lebih luas untuk umum. Lonjakan pengunjung datang begitu cepat.
“Besoknya langsung ramai sekali,” kenang Arjana.
Keramaian tersebut menghadirkan tantangan baru. Arjana pun harus menjaga bunga tetap berkualitas ketika setiap hari dipetik. Serta memastikan tanaman tetap aman saat ratusan orang keluar masuk area kebun.
Menariknya, Arjana menemukan solusi yang cukup unik. Pengunjung justru diminta mencabut tanaman hingga ke akarnya, bukan memotong tangkai bunga.
“Pengunjung memang kami arahkan untuk mencabut hingga akar. Bukan memotong,” jelasnya.
Cara itu ternyata membantu proses peremajaan lahan. Saat musim panen berakhir, tanaman yang sudah tidak produktif sekaligus ikut tercabut oleh pengunjung. Tenaga kerja yang biasanya diperlukan untuk membersihkan kebun pun berkurang.
“Saat bunga habis, sekaligus kebun jadi kosong. Kami bisa hemat tenaga,” katanya sambil tertawa.
Namun di balik geliat bisnis dan wisata yang semakin ramai, Agro Pudak Lestari Farm ternyata memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting. Kebun itu perlahan berubah menjadi ruang belajar.
Mahasiswa pertanian dari Universitas Warmadewa rutin datang untuk penelitian, magang, hingga praktik lapangan. Salah satunya adalah Yeo Vinco.
Mahasiswa semester delapan tersebut awalnya tidak memiliki ketertarikan khusus pada tanaman bunga. Ia lebih akrab dengan budidaya sayur dan buah. Namun kesempatan magang di Agro Pudak Lestari Farm mengubah pandangannya.
“Saya pikir coba sesuatu yang berbeda,” katanya.
Di tengah hamparan krisan itu, Vinco melihat peluang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Ia membandingkan harga bunga di Bali dengan kampung halamannya di Batam. Di sana, satu tangkai krisan bisa dijual hingga sekitar Rp8 ribu akibat tingginya biaya distribusi. Perbedaan harga itu membuatnya mulai tertarik mempelajari budidaya krisan secara serius.
Ia belajar mengenali varietas, memahami teknik perawatan, mengendalikan penyakit tanaman, hingga memperbanyak bibit. Sebagian percobaannya gagal. Namun sebagian lainnya berhasil.
“Saya mulai melihat kalau bunga ini ternyata punya peluang besar,” ujarnya.
Bagi Vinco, Agro Pudak Lestari Farm bukan sekadar tempat magang. Kebun itu adalah laboratorium hidup yang memperlihatkan upaya pertanian modern yang tidak lagi hanya berbicara soal produksi, tetapi juga kreativitas, inovasi, branding, dan pemanfaatan teknologi digital.
Menjelang sore, sinar matahari perlahan menyentuh hamparan krisan yang mulai keemasan. Beberapa pengunjung masih sibuk berfoto. Ada yang membawa pulang satu ikat bunga. Ada pula yang sekadar duduk menikmati suasana tenang di tengah kebun.
Di antara keramaian itu, Arjana berdiri memperhatikan hasil kerja kerasnya selama dua dekade terakhir. Dua puluh tahun lalu, ia hanyalah seorang petani yang mencoba bertaruh pada tanaman yang dianggap terlalu berisiko.
Hari ini, kebunnya bukan hanya menghasilkan bunga. Ia melahirkan ruang belajar bagi mahasiswa, membuka lapangan kerja, menghadirkan destinasi wisata baru, sekaligus menjadi bukti keberanian untuk menanam sesuatu yang berbeda. ***
Editor : Dian Suryantini