BALIEXPRESS. ID– Di tengah maraknya tren media sosial yang kerap mewarnai perayaan hari raya keagamaan, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar mengajak generasi muda untuk kembali memahami makna sejati Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pasraman Kilat yang berlangsung di SMK PGRI 2 Gianyar, Kamis (11/6).
Mengusung tema “Galungan dan Kuningan: Antara Tradisi, Tren, dan Makna”, para penyuluh memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan pemaknaan spiritual dalam perayaan hari suci umat Hindu. Materi disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan remaja sehingga mudah dipahami dan relevan dengan kondisi saat ini.
Dalam penyuluhan tersebut, tim Penyuluh Agama Hindu menyoroti berbagai fenomena yang berkembang di kalangan generasi muda, mulai dari ajang pamer kebaya modifikasi, nail art, hingga persaingan membuat penjor yang megah. Fenomena tersebut dinilai perlu disikapi secara bijak agar tidak menggeser esensi utama perayaan Galungan dan Kuningan.
Para siswa diingatkan bahwa kemeriahan perayaan hendaknya tidak hanya berfokus pada penampilan luar atau pencitraan di media sosial. Berdasarkan ajaran yang tertuang dalam Lontar Sundarigama, Galungan merupakan momentum untuk memperkuat spiritualitas, mengendalikan diri, serta menaklukkan sifat-sifat negatif yang ada dalam diri manusia.
Baca Juga: Investor Mundur karena Rencana Lelang, Gugatan Hotel Vihan Suites Kuta Masuk Tahap Pembuktian
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kemenag Gianyar, Dewa Nyoman Arsana, menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kemurnian nilai-nilai keagamaan di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
Menurutnya, perkembangan tren dan teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, namun perlu disikapi dengan pemahaman yang benar agar tidak mengaburkan makna spiritual dari setiap pelaksanaan yadnya dan hari raya keagamaan.
“Galungan dan Kuningan mengajarkan kemenangan dharma melawan adharma. Nilai utama yang harus dibangun oleh generasi muda adalah ketulusan, pengendalian diri, dan pembentukan karakter yang baik. Jangan sampai makna itu tertutupi oleh keinginan untuk sekadar tampil atau mendapatkan pengakuan di media sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pasraman Kilat menjadi sarana strategis untuk memperkuat pemahaman keagamaan siswa sekaligus membentuk karakter generasi muda Hindu yang berintegritas, berbudaya, dan berlandaskan nilai-nilai dharma.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan melibatkan siswa dalam diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda dalam menjalankan ajaran agama di era digital. Para peserta tampak antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka terkait perayaan Galungan dan Kuningan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama Kabupaten Gianyar berharap para siswa tidak hanya memahami tradisi secara seremonial, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap ajaran agama Hindu.
Penyuluhan tersebut menjadi pengingat bahwa kemegahan perayaan bukan diukur dari penampilan atau kemewahan yang ditampilkan, melainkan dari keberhasilan umat dalam menumbuhkan kesadaran spiritual, menjaga keharmonisan, serta menguatkan karakter mulia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat Galungan dan Kuningan dapat terus diwariskan secara utuh kepada generasi penerus di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.*
Editor : Putu Agus Adegrantika