Tumpukan kotoran hewan yang menghasilkan bau menyengat ini tidak hanya dibersihkan, melainkan akan diolah menjadi potensi ekonomi baru.
Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Perumda MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha.
Baca Juga: Wayan Sukarma, Pria Sayan Rubah Halaman Belakang Rumah Menjadi Destinasi Favorit
Menurut Pasek Wedha, langkah awal yang akan dilakukan guna melakukan pembersihan ini adalah dengan menguatkan regulasi.
Terlebih pihaknya melihat limbah kotoran hewan tersebut sebagai sumber ekonomi baru.
"Kami masih menggojlok regulasinya. Kami ingin kondisi pasar bersih aman dan nyaman, dengan begitu kita bisa bertransaksi di Kabupaten Badung," ungkapnya, Jumat (19/6).
Pihaknya menyebutkan, dari sembilan pasar se-Kabupaten Badung yang dikelola, produksi sampah mencapai sekitar 18 ton per hari.
Kondisi ini membuat Perumda MGS harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengangkutan sampah, yakni mencapai Rp 50-56 juta.
Di sisi lain, kotoran hewan yang selama ini belum terolah dinilai memiliki potensi besar jika dikelola secara tepat.
Baca Juga: Terinspirasi dari Sanghyang Jaran, Baleganjur Remaja Duta Badung Tampil Maksimal di PKB XLVIII
"Kotoran hewan tidak terolah, saya memiliki skam banyak. Harapan saya bisa diolah, Bupati Badung berharap kita memiliki ekosistem. Kita salurkan ke petani dalam bentuk gabah, atau hasil panennya," paparnya.
Pasek Wedha pun merancang konsep pengelolaan sampah akan diarahkan pada sistem ekonomi sirkular.
Bahkan ada wacana untuk pengambilan sampah tidak lagi gratis, melainkan terintegrasi dengan pembelian produk hasil olahan sampah.
"Kedepan kalau sampahnya mau diambil tapi harus harus membeli produk," ucapnya.
Selain limbah kotoran hewan, Perumda MGS juga mengkaji pengolahan sampah organik dan anorganik secara menyeluruh.
Langkah ini diharapkan mampu menekan beban biaya operasional sekaligus menciptakan nilai tambah dari sampah.
"Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa menghasilkan suatu produk yang bisa menaikkan kualitas atau nilai jual dari sampah tersebut," harapnya.
Lebih lanjut dirinya pun tidak memungkiri upaya ini hanya hanya berdampak pada lingkungan.
Terlebih penataan yang akan dilakukan juga ditargetkan meningkatkan kenyamanan dan keamanan pasar.
Pasek Wedha pun menilai, kondisi pasar yang bersih akan mendorong peningkatan aktivitas jual beli.
"Setelah aman, sama-sama memiliki dan menjaga sesama pedagang maupun kita kondisi pasar," imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga