BALIEXPRESS.ID – Memasuki perjalanan hampir lima dekade, Pesta Kesenian Bali (PKB) dinilai perlu terus memperkuat proses regenerasi pelaku seni sekaligus menjaga warisan pengetahuan yang dimiliki para maestro. Upaya tersebut dianggap penting agar PKB tetap relevan sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus wadah kreativitas bagi generasi baru.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Diskusi Budaya yang digelar Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Jumat (19/6).
Kegiatan yang dihadiri wartawan budaya dan anggota Kawiya Bali itu menghadirkan dua pembicara, yakni Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum. dan Dr. I Kadek Suartaya, S.SKar., M.Si., dengan moderator Ida Ayu Frisca Mahayani.
Dalam kesempatan tersebut, Arya Sugiartha memaparkan bahwa keberadaan PKB merupakan bagian dari perjalanan panjang upaya pelestarian seni Bali yang telah dirintis sejak akhir dekade 1960-an. Menurutnya, berbagai inisiatif yang lahir pasca-peristiwa politik 1965-1966 menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan dunia seni di Pulau Dewata.
Pembentukan Listibiya dan berdirinya Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada tahun 1967 disebut menjadi langkah awal untuk menjaga keberlanjutan proses pendidikan serta pewarisan seni tradisional Bali kepada generasi berikutnya.
“PKB sesungguhnya merupakan kelanjutan dari berbagai upaya yang telah dirintis sebelumnya, termasuk Merdangga Utsawa Gong Kebyar dan Pesta Seni di Werdi Budaya. Pada 1979, Gubernur Ida Bagus Mantra kemudian mengukuhkannya dengan nama Pesta Kesenian Bali,” jelas mantan Kepala Dinas Kebudayaan Bali itu.
Ia menjelaskan, tujuan utama penyelenggaraan PKB pada masa awal adalah menjaga keberlangsungan kehidupan para seniman dan memastikan tradisi seni Bali tetap hidup. Dalam perkembangannya, fungsi tersebut semakin meluas hingga menjadikan PKB sebagai ruang interaksi budaya yang mencakup pertunjukan, edukasi, dokumentasi, hingga pertukaran gagasan.
Baca Juga: Suwastika Pertahankan Tradisi Membuat Tedung, BRImo Permudah Transaksi Usaha
Arya menilai para seniman senior masih memegang peranan penting dalam proses tersebut. Pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai yang mereka miliki menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda yang kini lebih banyak terlibat dalam proses penciptaan maupun pementasan karya.
"Seniman senior menjadi transmisi pengetahuan, termasuk etika berkesenian. Kreativitas harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dan etika budaya Bali," ujarnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan semakin terbukanya akses terhadap berbagai sumber pengetahuan, generasi muda memiliki peluang lebih besar untuk berinovasi dan membangun jejaring global. Namun, menurut Arya, kreativitas tersebut perlu tetap berlandaskan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Bali.
Karena itu, ia mengusulkan sejumlah program yang dapat memperkuat keberlanjutan PKB, seperti pengembangan skema Maestro dan Murid Kreatif, digitalisasi arsip seni, kolaborasi lintas generasi, hingga forum dialog budaya yang mempertemukan seniman muda dan senior.
"Keberhasilan PKB ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pelestarian dan inovasi. Inovasi bukan memutus rantai tradisi, melainkan mentransformasikan nilai tradisi ke dalam bahasa artistik yang relevan dengan zamannya," tegasnya.
Sementara itu, Dr. I Kadek Suartaya mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah karya seni tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir yang tampil di atas panggung, tetapi juga oleh proses pemikiran yang melatarbelakangi penciptaannya.
Menurutnya, selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada pertunjukan yang ditampilkan dalam PKB, sedangkan gagasan dan pengetahuan yang diwariskan para maestro belum terdokumentasikan secara optimal.
Baca Juga: Mayat Misterius Tersangkut Bebatuan Sungai Ayung, Identitas Korban Masih Jadi Teka-teki
Ia mencontohkan proses lahirnya Adi Merdangga pada tahun 1984 yang bermula dari gagasan Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra, untuk menghadirkan format pertunjukan yang menggabungkan karakter tradisional dan sentuhan modern.
"Yang sering terlupakan adalah proses berpikir di balik lahirnya karya tersebut. Jika pemikiran para maestro tidak didokumentasikan, kita akan kehilangan pengetahuan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya," katanya.
Suartaya menambahkan, para maestro memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar tampil dalam sebuah pertunjukan seni. Mereka juga berkontribusi dalam menjaga kehidupan budaya melalui aktivitas ritual, ngayah, serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Karena itu, ia berharap PKB dapat terus berkembang sebagai ruang yang tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga menjadi pusat dokumentasi dan pewarisan pemikiran para tokoh budaya Bali.
"Kalau kita ingin PKB tetap relevan hingga puluhan tahun mendatang, maka yang harus dirawat bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga pemikiran, gagasan, dan pengetahuan para maestro yang melahirkan karya-karya tersebut," pungkasnya.
Ketua Panitia Diskusi Budaya yang juga Pembina Kawiya Bali, I Made Subrata, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi Kawiya Bali bersama PWI Bali dalam mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali.
Menurutnya, forum diskusi budaya diharapkan dapat memperluas literasi masyarakat sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap perjalanan PKB yang dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki usia setengah abad.
"Kali Ini Serangkaian PKB Ke-48 Tahun 2026, Kawiya Bali Bekerjasama dengan PWI Bali menggelar Diskusi Budaya, sebanyak 5 kali, dengan membahas lima topik berbeda," ujar Subrata.
Ia juga mengungkapkan bahwa Kawiya Bali sebelumnya telah terlibat dalam berbagai kegiatan seni budaya, mulai dari pementasan teater "Nguber Berita Ke Nusa" pada Festival Seni Bali Jani 2023, "Arja Tak Jadi Mati" pada PKB 2025, hingga pementasan "Jaratkaru" dalam Bulan Bahasa Bali 2026.
Melalui diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa menjaga keberlanjutan PKB tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pertunjukan yang meriah, tetapi juga menyangkut upaya merawat memori budaya, memperkuat regenerasi, dan memastikan pengetahuan para maestro tetap diwariskan kepada generasi penerus.(Ika)
Editor : I Putu Mardika