Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tiga Repertoar Sarat Makna dari UNY Warnai Panggung PKB XLVIII

I Putu Mardika • Sabtu, 20 Juni 2026 | 21:21 WIB
erjalanan spiritual, semangat perjuangan, hingga perenungan tentang takdir kehidupan dirangkai dalam satu pertunjukan memikat yang dibawakan Departemen Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (18/6/2026)
erjalanan spiritual, semangat perjuangan, hingga perenungan tentang takdir kehidupan dirangkai dalam satu pertunjukan memikat yang dibawakan Departemen Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (18/6/2026)

BALIEXPRESS.ID – Perjalanan spiritual, semangat perjuangan, hingga perenungan tentang takdir kehidupan dirangkai dalam satu pertunjukan memikat yang dibawakan Departemen Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (18/6/2026). Melalui Sendratari Ciptoning Mintaraga, UNY menghadirkan sajian artistik yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII.

Pementasan tersebut menyuguhkan tiga repertoar yang saling berkaitan, yakni Nir Sengkala, Beksan Langen Kusuma, dan Garisung Pinesthi. Ketiganya mengangkat tema berbeda, namun berpadu menjadi narasi utuh tentang perjalanan manusia dalam menjalani kehidupan.

Dosen Program Studi Seni Tari Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya UNY, Titi Agustin, mengatakan keikutsertaan kampusnya dalam PKB merupakan agenda yang rutin dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian sekaligus pengembangan seni budaya Nusantara.

"Melalui sendratari ini kami menggabungkan unsur tari dan cerita dalam tiga repertoar yang memiliki makna berbeda namun saling melengkapi," ujarnya.

Baca Juga: Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Urusan Jamuan Makan Kantor Kini Bebas Reimburse!

Bagian pembuka diawali dengan Nir Sengkala, karya yang berangkat dari tradisi edan-edanan Keraton Yogyakarta. Tata rias wajah putih, ornamen dedaunan dan bunga, serta rangkaian gerak simbolik menghadirkan nuansa ritual yang menggambarkan proses penyucian diri.

Menurut Titi Agustin, karya tersebut merepresentasikan usaha manusia untuk membersihkan diri dari berbagai energi negatif yang dapat memengaruhi kehidupan.

"Tarian ini terinspirasi dari tradisi yang biasa ditampilkan menjelang pertemuan pengantin sebagai simbol pembersihan dan penolak mara bahaya," jelasnya.

Setelah suasana kontemplatif pada repertoar pertama, pertunjukan berlanjut dengan Beksan Langen Kusuma yang menampilkan energi lebih kuat dan dinamis. Tujuh penari perempuan membawa keris dan menampilkan formasi layaknya pasukan prajurit putri yang sedang menjalani latihan perang.

Kostum bernuansa hijau tua yang dipadukan mahkota emas dengan aksen bulu jingga semakin menguatkan karakter keberanian dan ketangguhan yang menjadi inti dari tarian tersebut. Gerakan yang tegas dan penuh semangat turut menggambarkan nilai disiplin serta jiwa keprajuritan.

Pada repertoar penutup, Garisung Pinesthi menghadirkan refleksi mengenai perjalanan hidup manusia. Lewat dramatari yang dibawakan penari pria dan wanita, penonton diajak menyaksikan dinamika antara harapan, pilihan hidup, dan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.

"Garisung Pinesthi menggambarkan manusia yang menjalani kehidupannya. Ada harapan yang ingin dicapai, tetapi sering kali kenyataan tidak selalu sejalan dengan yang diinginkan," kata Titi.

Sebanyak 44 orang terlibat dalam pementasan tersebut. Selain mahasiswa dari berbagai angkatan, sembilan dosen juga ikut tampil sebagai penari dalam pertunjukan yang dipersiapkan secara intensif selama kurang lebih dua bulan.

Baca Juga: Angkat Kisah Bima Swarga, Janger Tradisi Remaja Badung Ingatkan Bakti Kepada Orang Tua

Titi menjelaskan, proses persiapan mencakup penciptaan karya, penggarapan musik, hingga latihan berkelanjutan guna mematangkan keseluruhan pertunjukan sebelum tampil di hadapan publik PKB.

"Melalui PKB, mahasiswa mendapat pengalaman tampil di luar kampus sekaligus berinteraksi dengan seniman dari berbagai daerah. Ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga," ujarnya.

Penampilan Ciptoning Mintaraga mendapat sambutan positif dari penonton yang memenuhi Gedung Ksirarnawa. Pertunjukan itu juga disaksikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ni Luh Putu Putri Suastini, yang memberikan perhatian terhadap peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya Nusantara.

Melalui karya tersebut, UNY tidak sekadar menyajikan pertunjukan tari, tetapi juga menyampaikan pesan tentang pentingnya merawat nilai-nilai kehidupan, memperkuat jati diri budaya, serta membangun persatuan di tengah keberagaman Indonesia. (*)

Editor : I Putu Mardika
#Repertoar #bali #pesta kesenian bali #2026