Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek

Rika Riyanti • Minggu, 21 Juni 2026 | 10:59 WIB
BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek
BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek

 


BALIEXPRESS.ID – Panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 menjadi saksi pertemuan dua tradisi busana yang sama-sama kaya makna. Kimono khas Jepang dan kain endek Bali tampil dalam satu pergelaran yang memperlihatkan bagaimana warisan budaya dari dua negara dapat berpadu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tersebut digelar di Gedung Kerta Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali Jayasabha, Denpasar, Sabtu (20/6) malam. Melalui peragaan busana yang dibawakan Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, penonton diajak menelusuri filosofi, sejarah, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap helai kain yang ditampilkan.

Sebelum pertunjukan dimulai, Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan apresiasi kepada mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang Heri Akhmadi bersama delegasi Jepang yang turut ambil bagian dalam pelaksanaan BWCC tahun ini.

BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek
BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek

 

Menurut Koster, keikutsertaan Jepang menjadi warna baru dalam penyelenggaraan PKB sekaligus memperkuat hubungan budaya yang telah lama terjalin antara Bali dan Jepang.

“Ini baru pertama. Terima kasih Bapak Heri dan serta tim yang telah hadir pada acara ini sekaligus memeriahkan Pesta Kesenian Bali yang juga diisi dengan Bali World Culture Celebration,” ujar Koster.

Ia menuturkan bahwa BWCC merupakan salah satu upaya Pemerintah Provinsi Bali untuk membuka ruang interaksi antarbudaya, sehingga seni dan tradisi dari berbagai daerah maupun negara dapat saling mengenal dan menginspirasi.

Koster juga mengingatkan bahwa PKB yang pertama kali digelar pada 20 Juni 1979 kini telah memasuki penyelenggaraan ke-48. Dalam perjalanannya, festival tersebut terus berkembang dengan menghadirkan semakin banyak karya seni serta peningkatan kualitas pelaksanaan dari tahun ke tahun.

Selain hubungan budaya, ia menilai kerja sama Bali dan Jepang juga berjalan baik dalam sektor pendidikan dan ketenagakerjaan. Banyak anak muda Bali yang mengikuti program magang hingga bekerja di Jepang.

“Orang Bali itu sedikit bicara banyak kerja, tekun. Cocok juga dengan etos kerja masyarakat Jepang,” katanya.

Suasana khas Jepang mulai terasa ketika pertunjukan dibuka dengan atraksi Taiko. Alunan tabuhan alat musik tradisional tersebut menjadi pengantar bagi penonton untuk mengenal beragam jenis kimono beserta makna yang terkandung di balik setiap desainnya.

BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek
BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek

 

Konsul Jenderal Jepang di Denpasar Miyakawa Katsutoshi mengatakan kimono merupakan salah satu simbol budaya Jepang yang memiliki nilai lebih dari sekadar fungsi sebagai pakaian.

“Malam ini bintang utamanya tentu adalah salah satu simbol budaya Jepang yang paling ikonik di dunia yaitu kimono. Bagi masyarakat Jepang, kimono lebih dari sekadar busana tradisional,” ujarnya.

Baca Juga: Gamelan Suling Gita Semara Peliatan Siap Tampilkan Legong Lasem Klasik Era 1969 di PKB 2026

Ia menjelaskan bahwa motif-motif yang menghiasi kimono menyimpan filosofi kehidupan. Sakura melambangkan keindahan hidup, bambu menjadi simbol harapan dan umur panjang, sedangkan motif ombak mencerminkan keteguhan hati sekaligus hubungan harmonis manusia dengan alam.

Nilai-nilai tersebut, menurut Miyakawa, memiliki kemiripan dengan filosofi yang terkandung dalam kain endek Bali yang juga banyak mengangkat unsur alam dan doa dalam motifnya.

“Perpaduan ini bukan hanya kolaborasi fashion, tetapi dialog budaya yang menunjukkan bahwa tradisi bisa saling bertemu, saling menginspirasi, dan melahirkan kreativitas baru tanpa kehilangan identitasnya,” katanya.

Sebanyak 11 jenis kimono diperagakan sepanjang acara. Penonton diperkenalkan pada Kurotomesode, busana formal berwarna hitam yang biasa dikenakan keluarga dekat pengantin saat pernikahan, hingga Furisode yang identik dengan perempuan muda karena ciri khas lengannya yang panjang.
Selain itu, ditampilkan pula Homongi untuk acara resmi, Tsukesage yang berkarakter sederhana namun elegan, serta Komon dan Edo Komon yang lazim digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Di balik tampilannya yang sederhana, kedua jenis kimono tersebut menyimpan detail motif yang menunjukkan keterampilan tinggi para pengrajin Jepang.

Baca Juga: Arja Sudhamala Curi Perhatian PKB, “Aji Pemalik Sumpah” Hadirkan Tawa dan Petuah Kehidupan

Busana pria juga turut diperagakan, termasuk kimono katun dengan obi Hakata, Hakama yang digunakan dalam upacara kelulusan, hingga kimono anak perempuan yang dikenakan dalam tradisi Shichi-Go-San untuk merayakan pertumbuhan anak usia tiga, lima, dan tujuh tahun.

Pada bagian selanjutnya, Kimono Gallery Yawara menampilkan koleksi hasil eksplorasi yang memadukan kain tradisional Jepang dengan berbagai wastra Indonesia. Endek Bali menjadi salah satu elemen utama yang dipadukan bersama batik Jawa dan beragam tenun Nusantara.

Direktur Kimono Gallery Yawara Tomi Nakamura mengungkapkan bahwa koleksi tersebut lahir dari proses pengembangan selama tiga tahun.

“Kami berharap dapat melahirkan harmoni baru, inspirasi baru, dan mempererat persahabatan antara kedua negara,” ungkapnya.

BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek
BWCC 2026 Hadirkan Dialog Budaya Jepang-Bali Lewat Kolaborasi Kimono dan Endek

 

Beragam kain tradisional Jepang seperti Jujigasuri, Edo Komon, Roketsuzome, Oshima Tsumugi, hingga Akashi Chijimi dipadukan dengan endek Bali. Sementara beberapa koleksi lainnya mengombinasikan sutra Jepang dengan batik Jawa dan tenun dari berbagai daerah di Indonesia.

Keistimewaan lain terlihat pada rancangan kimono yang dapat dikenakan dari dua sisi berbeda sehingga memberikan dua tampilan dalam satu busana. Perpaduan obi Jepang dan Bali juga menjadi elemen yang memperkuat karakter kolaborasi tersebut.

Meski menghadirkan berbagai inovasi, Nakamura menegaskan bentuk dasar kimono tetap dipertahankan. Sentuhan desain yang lebih praktis dilakukan agar busana tradisional tersebut lebih mudah dikenakan oleh generasi muda.

Pergelaran yang dihadiri Ketua Dekranasda Bali Ni Luh Putri Suastini Koster, Heri Akhmadi, komunitas Jepang di Bali, para desainer, serta pegiat budaya itu berlangsung hangat dan mendapat antusiasme tinggi dari para tamu hingga acara berakhir.

Editor : Iqbal Kurnia
#BWCC 2026 #kimono #endek