Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Duta Badung Nglawang di PKB XLVIII, Angkat Cerita Strotragrahana

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 21 Juni 2026 | 19:42 WIB
Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa Nglawang di area Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (20/6). (Ist)
Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa Nglawang di area Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (20/6). (Ist)

BALIEXPRESS.ID – Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tampil memukau dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di area Taman Budaya (Art Center) Denpasar, Sabtu (20/6).

Penampilan Utsawa (parade) nglawang ini mengangkat garapan bertajuk “Srotragrahana”, sebuah pertunjukan yang sarat nilai spiritual, harmoni alam, dan makna pemurnian jiwa dalam ajaran Hindu.

Koordinator pertunjukan, Made Dita Cahyadinata menjelaskan, “Srotragrahana” menggambarkan suasana di jantung Hutan Greseh, tempat beragam satwa seperti unggas, kera, anjing, kura-kura, babi, hingga macan hidup berdampingan dalam harmoni.

Baca Juga: Viral Limbah di Pantai Segara Ayu, Hasil Penggalian PUPR Air Drainase

Menurutnya, karya tersebut tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritualitas Bali.

“Menjaga taksu leluhur kita, kemudian melestarikan budaya Bali, terlebih adalah proses pemurnian roh,” ujarnya.

Dalam garapan tersebut, sosok macan yang lazim dikenal sebagai pemangsa buas ditampilkan dengan tafsir berbeda.

Baca Juga: Seratus Kali Latihan untuk Satu Panggung, Batuan Persembahkan Maréka Marakata di PKB

Meski tetap digambarkan tangguh dan agresif, macan justru mengalihkan kekuatannya untuk menjaga keamanan seluruh penghuni hutan.

Simbol itu menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman, melainkan juga perlindungan.

Keharmonisan di Hutan Greseh diceritakan semakin sempurna berkat kehadiran Dang Hyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh.

Baca Juga: Rumah Tak Layak Huni Jadi Sasaran, Polsek Tegallalang Lakukan Survei Bedah Rumah

Di sebuah taman asri di sisi timur hutan, tokoh suci tersebut digambarkan tengah menjalani laku spiritual sambil menyusun untaian sastra pada lembaran lontar.

Pancaran jenyana atau pengetahuan suci yang dimiliki Dang Hyang Nirartha disebut menciptakan aura kasih sayang yang menyelimuti seluruh makhluk.

Berkat kemuliaan batinnya, ia mampu memahami bahasa alam dan berkomunikasi dengan setiap ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.

Dari sanalah, kisah “Srotragrahana” mencapai puncak spiritual ketika para satwa dengan penuh bakti bersedia menjadi bagian dari sarana ritual di Pura Sada Kapal.

Pertunjukan ini kemudian mengarah pada makna Mapepada, sebuah prosesi sakral dalam tradisi Hindu Bali.

Dalam pandangan Hindu, hewan yang digunakan sebagai sarana upacara tidak dipandang sekadar sebagai korban, melainkan makhluk yang sedang menempuh jalan pengabdian suci.

Melalui upacara Mapepada, roh atau atman hewan diyakini disucikan dari sifat-sifat kebinatangan agar pada kelahiran berikutnya dapat meningkat ke derajat kehidupan yang lebih luhur.

“Upacara Mapepada bertujuan untuk menyucikan roh (atman) hewan tersebut dari sifat-sifat kebinatangan agar nantinya, saat bereinkarnasi, jiwa mereka dapat meningkat statusnya ke derajat kehidupan yang lebih tinggi atau lebih baik,” katanya.

Melalui “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tak hanya menyuguhkan tontonan yang artistik, tetapi juga menghadirkan tuntunan spiritual tentang hubungan manusia, alam, dan seluruh ciptaan Tuhan.

Pertunjukan nglawang ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga taksu leluhur dan kesucian nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#Nglawang #pesta kesenian bali #badung