Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Drama Gong Tradisi Duta Badung PKB 2026, Angkat Cerita Tirta Usada Segara: Berkaitan Sejarah Desa Adat Tengkulung

Putu Resa Kertawedangga • Kamis, 25 Juni 2026 | 14:59 WIB
Sekaa Gong Gita Swastika, Desa Adat Tengkulung, Duta Badung yang tampil dalam drama gong tradisi di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, Rabu (24/6). (Ist)
Sekaa Gong Gita Swastika, Desa Adat Tengkulung, Duta Badung yang tampil dalam drama gong tradisi di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, Rabu (24/6). (Ist)

BALIEXPRESS.ID -  Sekaa Gong Gita Swastika dari Banjar Adat Tengkulung, Desa Adat Tengkulung, Kecamatan Kuta Selatan, tampil sebagai Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa (Parade) Drama Gong Tradisi pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026, Rabu (24/6).

Penampilan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Art Center Bali, mengambil judul Tirta Usada Segara yang juga berkaitan dengan sejarah desa tersebut.

Penampilan Sekaa Gong Gita Swastika pun menjadi bagian dari upaya pelestarian seni Drama Gong yang terus menghadapi tantangan regenerasi pemain di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga: Data Center Bali Resmi Beroperasi, ION Network Perkuat Infrastruktur Digital Indonesia

Lakon berjudul “Tirta Usada Segara” yang terinspirasi dari keberadaan Tirta Amerta di kawasan pesisir Desa Adat Pedungan Peluh.

Tirta tersebut dipercaya memiliki fungsi penting dalam berbagai upacara penyucian dan pengobatan tradisional.

Ketua Sekaa Gong Gita Swastika, Wayan Wiana Aditya Pratama, mengatakan kisah yang diangkat juga berkaitan dengan sejarah dan perjalanan spiritual Pura Dalam Tengkulung.

Baca Juga: Keluarga Siswa Sekolah Rakyat Dapat Bantuan Renovasi Rumah Rp20 Juta, Program Bedah Rumah Mulai Diverifikasi

“Cerita ini dikemas dalam bentuk Drama Gong agar dapat menjadi media pembelajaran bagi generasi muda mengenai asal-usul dan warisan budaya desa mereka,” ucapnya.

Persiapan pementasan dilakukan selama kurang lebih empat bulan.

Tantangan terbesar yang dihadapi panitia adalah menyatukan waktu latihan para anggota yang memiliki kesibukan berbeda, mulai dari bekerja hingga masih bersekolah.

Baca Juga: Prabowo Instruksikan Mitigasi PHK, Perlindungan Pekerja dan Stabilitas Tenaga Kerja Jadi Prioritas

Menurutnya, keberhasilan pementasan tidak lepas dari kerja sama seluruh anggota yang berupaya mengesampingkan ego demi tujuan bersama.

Pertunjukan drama gong ini menceritakan Diah Manik Gegelang, seorang putri kerajaan DAA yang tersesat akibat diterbangkan angin kencang dan kemudian ditemukan oleh Bapa Dukuh di Padukuhan Taman Sari.

Sebuah sabda dari langit memerintahkan agar sang putri dipelihara hingga tiba waktunya dijemput.

Karena saat angin kencang topinya Bapa Dukuh jatuh, hendak diambilnya, di tempat tersebut pun disebut Sengku Ulung yang kemudian menjadi Tengkulung.

Kemudian di lokasi tersebut pun dibangun Pura Taman Segara yang kelak menjadi tempat suci bagi Diah Manik Gegelang dan pasangannya.

Di sisi lain, Raja DAA jatuh sakit akibat kehilangan putrinya. Raden Bagus Panji dari Kerajaan Madra kemudian melakukan pencarian hingga berhasil menemukan Diah Manik Gegelang di Padukuhan Taman Sari.

Sebelum kembali ke kerajaan, mereka memohon Tirta suci di Pura Taman Segara sebagai obat bagi sang raja.

Konflik memuncak ketika pihak kerajaan lain berupaya merebut kekuasaan dan merencanakan pembunuhan Raja DAA.

Namun rencana tersebut berhasil digagalkan setelah kedatangan Diah Manik Gegelang dan Raden Bagus Panji.

Sang raja akhirnya disembuhkan dengan Tirta Usada Segara, sementara para pelaku kejahatan diusir.

Kisah ditutup dengan pernikahan Diah Manik Gegelang dan Raden Bagus Panji yang kemudian dinobatkan sebagai pemimpin kerajaan.

Sementara Ketua Listibiya Kuta Selatan, I Wayan Deddy Sumantra mengatakan, pihaknya memberikan dukungan penuh sejak awal proses persiapan.

Seluruh pemain, penabuh, hingga kru pendukung berasal dari Kuta Selatan, dengan sekitar 90 persen di antaranya merupakan warga Desa Adat Tengkulung.

Pelestarian Drama Gong Tradisi dinilai penting karena tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Kesenian ini mampu melahirkan generasi seniman yang memiliki kemampuan berbahasa Bali yang baik sekaligus menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya lokal,” ujar Deddy. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#Tengkulung #Kuta Selatan #drama Gong #badung #pkb