BALIEXPRESS.ID-Lomba pembuatan Sunari dalam rangka Jantra Tradisi Bali pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 menjadi ajang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya Bali. Sebanyak lima kelompok beradu keterampilan merancang dan menyelesaikan Sunari, alat musik tiup tradisional yang memiliki fungsi penting dalam berbagai ritual keagamaan Hindu di Bali.
Final lomba berlangsung di halaman Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Rabu (24/6). Selain menghadirkan persaingan antarpeserta, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi mengenai salah satu tradisi Bali yang kini mulai jarang dipahami oleh kalangan muda. Nuansa kebersamaan dan semangat gotong royong mewarnai jalannya perlombaan hingga akhir kegiatan.
Kelima peserta yang berhasil menembus babak final terdiri atas Gana Swara, Malila Art, Jagaraga, Tunjung Sari, dan Widya Guna. Pada tahap penentuan juara, masing-masing kelompok menyelesaikan pekerjaan akhir berupa pemasangan berbagai komponen pelengkap, ornamen, serta dekorasi Sunari. Adapun proses utama, seperti pemilihan bambu dan pembuatan lubang-lubang simbolik, telah dilakukan sebelumnya di tempat masing-masing dan direkam dalam bentuk video sebagai bahan penilaian juri.
Baca Juga: Generasi Muda Didorong Rawat Tradisi Melalui Kreativitas dan Inovasi Seni
Setelah seluruh peserta mempresentasikan karya serta menjelaskan proses pembuatannya di hadapan dewan juri, Kelompok Jagaraga ditetapkan sebagai peraih Juara I. Posisi kedua ditempati Malila Art, sementara Gana Swara meraih Juara III. Adapun Tunjung Sari dan Widya Guna memperoleh predikat Juara Harapan I dan Juara Harapan II.
Perwakilan Kelompok Jagaraga, Cokorda Gede Trisna Putra, mengatakan keberhasilan kelompoknya tidak lepas dari proses penelitian yang dilakukan secara serius terhadap berbagai sumber literatur tradisional.
Ia menjelaskan bahwa timnya melakukan penelusuran lontar serta mengkaji simbol-simbol yang melekat pada Sunari. Dari hasil kajian tersebut ditemukan bahwa bentuk Sunari memiliki keterkaitan dengan aksara suci Ongkara yang menjadi simbol penciptaan alam semesta.
“Kami tidak hanya mengejar kualitas suara, tetapi juga berupaya menghadirkan makna spiritual yang terkandung dalam Sunari. Filosofi itu menjadi dasar dalam proses perancangan hingga pembuatannya,” ujarnya.
Selain memperhatikan aspek filosofis, kelompok Jagaraga juga menerapkan pertimbangan teknis dalam pemilihan material. Mereka menggunakan bambu tamblang yang dinilai memiliki karakter tipis dan lentur sehingga lebih responsif terhadap hembusan angin, terutama di lingkungan perkotaan yang banyak dipenuhi bangunan.
Salah satu anggota dewan juri, I Gede Satria Budi Utama, menjelaskan bahwa pada awalnya terdapat enam kelompok yang mendaftarkan diri dalam lomba tersebut. Setelah melalui proses seleksi berdasarkan dokumentasi video pembuatan, lima kelompok dinyatakan lolos ke tahap final.
Menurutnya, sebagian besar finalis berasal dari Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar. Kondisi itu diduga dipengaruhi oleh kendala pengangkutan bahan utama, mengingat bambu yang digunakan harus memiliki panjang antara 10 hingga 12 meter sesuai ketentuan perlombaan.
“Kendala terbesar kemungkinan ada pada mobilisasi bambu yang ukurannya sangat panjang. Namun sebenarnya bisa disiasati dengan teknik knock down atau sistem sambung yang memudahkan pengangkutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penilaian pada babak final lebih difokuskan pada kemampuan peserta menyelesaikan bagian akhir Sunari. Beberapa aspek yang menjadi perhatian juri antara lain proses pembuatan ngulat bidak atau anyaman pengarah angin, serta kualitas estetika dan ornamen yang diterapkan pada karya.
Baca Juga: BTID dan Desa Serangan Gelar Festival Penjor, Libatkan Generasi Muda
Sementara itu, juri Prof. Dr. I Ketut Muka Pendet menegaskan bahwa Sunari memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar alat musik tradisional. Dalam tradisi Hindu Bali, Sunari merupakan representasi makrokosmos atau alam semesta yang diwujudkan melalui berbagai simbol dan unsur artistik.
Menurutnya, kekhasan budaya Bali terlihat dari kemampuannya memadukan fungsi spiritual dengan nilai keindahan. Hal tersebut tercermin dalam berbagai elemen Sunari, mulai dari tujuh lubang yang melambangkan unsur-unsur kesucian alam semesta hingga keberadaan aksesoris seperti kober bergambar Hanoman yang menjadi simbol Dewa Angin serta hiasan ijuk pada bagian ujungnya.
“Sunari adalah perpaduan antara seni, spiritualitas, dan pengetahuan tradisional Bali. Karena itu pelestariannya sangat penting agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan lomba ini, PKB 2026 tidak hanya menghadirkan wadah kompetisi bagi para peserta, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian budaya Bali dengan melibatkan generasi muda sebagai penerus dan penjaga tradisi di masa depan. (ika)
Editor : I Putu Mardika